
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Nala Festiva Menjadikan Api Seni Tradisi Menyala di Kota Batu, Pacu Ekonomi Kreatif & Lahirkan Talenta Baru
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Langit malam Kota Batu, Jumat (2/1/2026), dihangatkan oleh semburan api spektakuler dari Barong Sembur Geni, memecah dinginnya udara pegunungan. Pertunjukan magis tersebut menjadi puncak dari gelaran Nala Festival 2026 yang dibuka secara resmi di Nala Eco Point, menandai awal tahun dengan semangat membara dalam melestarikan dan memajukan kebudayaan nasional. Festival yang dihadiri ratusan pengunjung ini tak hanya menjadi tontonan, melainkan wujud konkret dari laboratorium seni budaya yang hidup dan berdampak ekonomi.

Panggung utama malam itu diramaikan oleh parade seni tradisi yang mengagumkan. Dengan koreografi dinamis dan iringan musik tradisional yang rancak, Sanggar Seni Budaya Turonggo Madyo pimpinan Ibu Titin UD membuka pertunjukan, diikuti oleh Group Seni Budaya Nuswantoro yang mengangkat cerita-cerita klasik nusantara. Nuansa kontemporer hadir melalui penampilan grup “Ojo Dumeh Sopo Ngiro”. Namun, sorotan utama adalah pertunjukan “Barong Sembur Geni” yang memukau, menyajikan visual dramatis perpaduan antara gerak tari teatrikal, efek pencahayaan, dan semburan api yang terkendali, simbolisasi pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan.
Selaku pimpinan Sanggar Seni Budaya Turonggo Madyo, Ibu Titin UD. mengungkapkan antusiasmenya. “Kami sangat bersyukur dan bangga bisa tampil di Nala Festival. Wadah seperti ini sangat kami butuhkan, tidak hanya untuk menunjukkan karya, tetapi lebih penting, untuk membangkitkan minat generasi muda. Melihat langsung pertunjukan seperti Barong Sembur Geni yang epik, itu akan tertanam dalam ingatan mereka, menumbuhkan rasa cinta dan ingin melestarikan warisan leluhur kita. Bagi kami seniman, panggung ini adalah penyemangat untuk terus berkreativitas,” ujarnya.

Pernyataan Ibu Titin sejalan dengan visi besar yang digagas oleh penyelenggara. Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Malang, Kolonel Laut (P) Agus Haryanto, dalam sambutannya menegaskan posisi strategis Nala Eco Point.
“Tempat ini kami konsep sebagai wadah terbuka bagi seluruh ekspresi seni dan budaya Kota Batu, mulai dari kearifan lokal hingga budaya modern. Tujuannya dua yaitu mengukuhkan identitas kolektif kita dan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian melalui aktivitas kreatif yang dihasilkan,” papar Kolonel Agus.

Lebih jauh, Danlanal Malang menyampaikan visi jangka panjangnya. “Harapan terbesarnya, dari tempat inilah akan lahir talenta-talenta bangsa yang nantinya bersinar di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Seni itu ibarat pedang, harus terus diasah dan ditunjukkan. Untuk itu, perlu ada kepedulian dan dukungan kolektif dari kita semua. Kami berharap bisa menyaksikan kemunculan seniman-seniman besar yang bisa mengembangkan bakatnya di sini, sehingga manfaat Nala Eco Point benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat,” tegasnya.
Keberhasilan Nala Festival 2026 tidak hanya diukur dari gemuruh tepuk tangan. Acara semacam ini memiliki dampak berlapis (multiplier effect). Pertama, aspek pelestarian budaya. Festival menjadi ruang pembelajaran interaktif yang menarik. Penonton tidak hanya melihat tari, tetapi memahami filosofi di balik setiap gerak Barong atau cerita yang dibawakan Turonggo Madyo. Ini adalah edukasi budaya yang efektif dan menarik.

Kedua, aspek pengembangan talenta. Seperti disampaikan Danlanal, panggung reguler adalah kebutuhan mutlak bagi seniman. Pengalaman tampil di depan ratusan orang, dengan teknik pencahayaan dan panggung yang memadai, merupakan latihan terbaik untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme mereka. Ini adalah investasi sumber daya manusia kreatif.
Ketiga, dan tak kalah penting, aspek ekonomi. Sebuah festival budaya adalah penggerak ekonomi sirkular. Dampaknya mengalir deras peningkatan okupansi hotel dan homestay, ramainya pedagang kuliner dan minuman khas Batu, larisnya cenderamata dan kerajinan tangan lokal, hingga orderan bagi jasa transportasi dan event organizer. Perekonomian masyarakat akar rumput terdorong secara langsung. Dengan kata lain, setiap tarian dan semburan api di panggung turut memutar roda perekonomian kota.
Pertanyaan besarnya adalah bagaimana menjaga agar api kreativitas ini tidak padam setelah festival usai. Pertama, diperlukan program berkelanjutan di Nala Eco Point, bukan sekadar event tahunan. Bisa berupa kelas workshop bulanan untuk anak-anak dan remaja, residensi seniman, atau pasar seni tradisional setiap akhir pekan. Kedua, perlu digitalisasi. Dokumentasi yang baik dan penyiaran daring dapat memperluas jangkauan, membuka potensi pariwisata budaya virtual, dan menarik perhatian kurator seni level nasional. Ketiga, sinergi antara pemangku kepentingan (pemerintah kota, TNI AL, pelaku seni, akademisi, dan pengusaha) harus dijaga untuk merancang roadmap ekonomi kreatif Kota Batu yang lebih terintegrasi.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Malam pembukaan Nala Festival 2026 telah berlalu. Namun, pesannya tetap bergema seni tradisi bukanlah relik masa lalu yang statis, melainkan sumber energi kreatif yang dinamis. Ketika dikelola dengan visi yang jelas, kolaborasi yang kuat, dan komitmen pada keberlanjutan, ia dapat menjadi jantung yang memompa kehidupan baru baik bagi identitas budaya, kebanggaan masyarakat, maupun kemakmuran ekonomi. Kota Batu, dengan langkah strategisnya, menunjukkan bahwa melestarikan warisan budaya sekaligus mendorong kemajuan ekonomi bukanlah dua hal yang bertolak belakang, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama untuk membangun masa depan yang berkarakter dan sejahtera.
( Ria ).




