Karnaval Budaya Desa Junrejo Meriah, 10 RW Tampilkan Keragaman Nusantara di HUT RI ke-81

Karnaval Pawai Budaya Desa Junrejo Meriah, 10 RW Tampilkan Keragaman Nusantara dalam Semangat Persatuan

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Antusiasme masyarakat mewarnai pelaksanaan Karnaval Pawai Budaya Desa Junrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus rangkaian Selamatan Desa Junrejo tahun 2026.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ruang hiburan bagi masyarakat, tetapi juga dirancang sebagai media edukasi kebudayaan. Sebanyak 10 Rukun Warga (RW) di Desa Junrejo dilibatkan untuk merepresentasikan keragaman budaya dari berbagai wilayah di Indonesia melalui pakaian adat, seni tradisional, makanan khas, tradisi masyarakat, hingga pertunjukan teatrikal.

Tampak dari kiri depan, panitia, Ketua panitia pelaksana, Kepala desa, dan Danramil, ketika memberangkatkan Pawai Budaya.
Tampak dari kiri depan, panitia, Ketua panitia pelaksana, Kepala desa, dan Danramil, ketika memberangkatkan Pawai Budaya.

Ketua Panitia Pelaksana Selamatan Desa Junrejo sekaligus rangkaian HUT RI ke-81, Simon Porwoali, menjelaskan bahwa konsep karnaval tahun ini sengaja mengangkat keberagaman budaya Nusantara.

Menurutnya, masing-masing RW mendapatkan tema daerah yang berbeda. Representasi budaya tersebut antara lain berasal dari Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, serta berbagai wilayah lainnya.

“Desa Junrejo memiliki 10 RW. Masing-masing akan membawakan tema kebudayaan dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta tidak hanya mengenakan pakaian adat, tetapi juga menampilkan adat istiadat dan kebudayaan daerah tersebut melalui pertunjukan teatrikal,” ujar Simon.

Konsep tersebut menjadikan karnaval bukan sekadar parade visual, melainkan sebuah proses pembelajaran sosial dan kebudayaan yang melibatkan masyarakat secara langsung.

Setiap kontingen dituntut memahami karakteristik budaya yang mereka tampilkan, kemudian menerjemahkannya ke dalam bentuk pertunjukan yang dapat dipahami oleh masyarakat luas.

Kepala Desa beserta Ketua TP PKK Desa bersama sama anggota BPD Desa Junrejo.
Kepala Desa beserta Ketua TP PKK Desa bersama sama anggota BPD Desa Junrejo.

Kepala Desa Junrejo, Andi Faizal Hasan, mengatakan bahwa pembagian tema budaya dilakukan melalui mekanisme pengundian. Dengan demikian, setiap RW memperoleh kesempatan untuk mengenal sekaligus memperkenalkan kebudayaan dari daerah yang berbeda.

“Kami memiliki 10 RW. Setiap RW diundi untuk mewakili provinsi-provinsi yang ada di Indonesia, seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra, Kalimantan dan lainnya,” kata Andi.

Ia memberikan contoh, apabila sebuah RW memperoleh tema Jawa Timur dan memilih representasi budaya Madura, maka kontingen tersebut harus menampilkan berbagai unsur kebudayaan Madura secara utuh.

Mulai dari pakaian adat, kesenian tradisional, makanan khas, hingga tradisi masyarakat ditampilkan melalui konsep teatrikal.

Demikian pula dengan RW yang mendapatkan tema Bali. Kontingen tersebut akan memperkenalkan pakaian adat, kuliner, seni, tradisi, dan karakter kebudayaan Bali kepada masyarakat.

“Jadi bukan hanya sekadar menggunakan pakaian adat. Mereka harus menampilkan makanan khas, tradisi dan kebudayaannya secara teatrikal,” jelasnya.

Tampak PKK Desa Junrejo dengan pakaian budaya Nusantara ketika bersama kepala desa dengan mengenakan baju khas Makasar.
Tampak PKK Desa Junrejo dengan pakaian budaya Nusantara ketika bersama kepala desa dengan mengenakan baju khas Makasar.

Konsep ini memiliki nilai edukatif yang penting. Di tengah perkembangan teknologi dan arus budaya global yang semakin cepat, pengenalan kebudayaan Nusantara melalui kegiatan masyarakat dapat menjadi salah satu bentuk pendidikan informal yang mempertemukan generasi muda dengan warisan budaya Indonesia.

Karnaval kemudian menjadi ruang interaksi antargenerasi. Anak-anak, pemuda, orang tua, pelaku seni, petani, pelaku UMKM, hingga berbagai elemen masyarakat dapat mengambil peran dalam satu kegiatan bersama.

Karnaval dimulai dari wilayah RW 8 dan bergerak menuju kawasan Balai Desa Junrejo dengan jarak tempuh sekitar 3 kilometer.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung sejak sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WIB dan diproyeksikan berlangsung hingga malam hari sekitar pukul 23.00 WIB.

Sepanjang perjalanan, masyarakat dapat menyaksikan berbagai kreativitas yang dipersembahkan masing-masing kontingen.

Tampak baju adat Nusantara yang di pakai oleh anak anak SD dalam pawai budaya Desa Junrejo.
Tampak baju adat Nusantara yang di pakai oleh anak anak SD dalam pawai budaya Desa Junrejo.

Setiap RW melibatkan sekitar 7 hingga 10 kontingen, bahkan lebih. Dengan keterlibatan 10 RW, jumlah peserta yang berpartisipasi menunjukkan bahwa kegiatan tersebut memiliki basis partisipasi masyarakat yang cukup luas.

Bagi Desa Junrejo, keterlibatan warga menjadi salah satu indikator penting bahwa peringatan kemerdekaan tidak hanya diselenggarakan oleh pemerintah desa, tetapi merupakan perayaan bersama seluruh masyarakat.

Salah satu tradisi yang menjadi perhatian dalam karnaval adalah keberadaan “pohon uang”.

Andi menjelaskan bahwa pohon uang merupakan bentuk sedekah yang diberikan Pemerintah Desa Junrejo kepada masyarakat. Konsep tersebut kemudian diperluas melalui partisipasi masing-masing kontingen.

“Pohon uang itu adalah bentuk sedekah. Kami dari pihak pemerintah desa bersedekah dalam bentuk uang melalui pohon uang ini untuk dibagikan kepada masyarakat,” ungkap Andi.

Tidak hanya pemerintah desa, masing-masing RW juga turut membawa bentuk sedekah sesuai dengan potensi wilayahnya.

RW yang berada di kawasan penghasil pertanian, misalnya, membawa hasil bumi sebagai bentuk sedekah masyarakat.

Sementara RW 9 dan RW 10 yang dikenal sebagai kawasan dengan aktivitas UMKM turut menampilkan produk kerajinan kayu, seperti erus, entong, dan berbagai produk lainnya.

Produk-produk tersebut kemudian ditata menyerupai gunungan atau tumpeng dan akan diperebutkan masyarakat.

“Seluruh RW menyisihkan tumpeng sedekah untuk warga,” tutur Andi.

Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal tidak berdiri sendiri, tetapi memiliki hubungan erat dengan nilai sosial seperti berbagi, kepedulian, gotong royong dan solidaritas.

Dalam konteks kehidupan masyarakat desa, sedekah hasil bumi dan produk kerajinan juga sekaligus memperlihatkan bagaimana potensi ekonomi lokal dapat menjadi bagian dari ekspresi budaya.

Tampak masyarakat berebut pohon uang yang menjadikan salah satu pusat perhatian dalam pawai budaya.
Tampak masyarakat berebut pohon uang yang menjadikan salah satu pusat perhatian dalam pawai budaya.

Karnaval Pawai Budaya Desa Junrejo tahun ini mengusung tema “Beragam dalam Budaya, Bersatu Membangun Desa.”

Tema tersebut memiliki relevansi kuat dengan karakter bangsa Indonesia yang dibangun dari keberagaman suku, bahasa, adat istiadat, kesenian dan tradisi.

Andi menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk memeriahkan HUT RI ke-81, melainkan menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi dan kebudayaan masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari tradisi, seni dan budaya masyarakat. Kami berharap nilai-nilai kebudayaan ini dapat terus terjaga dan dilestarikan,” katanya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/olahraga/ribuan-warga-ikuti-jalan-sehat-selamatan-desa-junrejo-dan-hut-ri-ke-81-resmi-dimulai/

Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika pelestarian budaya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diteruskan melalui proses pengenalan kepada generasi muda.

Dengan demikian, perayaan kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk menanamkan kesadaran bahwa Indonesia bukan hanya sebuah negara dengan wilayah yang luas, tetapi juga sebuah bangsa yang dibangun dari keberagaman budaya.

Rangkaian kegiatan Selamatan Desa Junrejo dan HUT RI ke-81 tidak berhenti pada karnaval.

Andi mengatakan, puncak peringatan akan dilaksanakan pada 17 Agustus 2026 melalui upacara bendera yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

“Pada tanggal 17 Agustus kita akan menggelar upacara bendera bersama seluruh elemen masyarakat di depan kantor desa, mulai dari pengemudi ojek hingga petani,” ujarnya.

Keterlibatan berbagai lapisan masyarakat tersebut menjadi simbol bahwa kemerdekaan merupakan milik seluruh warga negara tanpa membedakan profesi maupun latar belakang sosial.

Sementara itu, rangkaian kegiatan akan ditutup pada 23 Agustus 2026 melalui resepsi dan pertunjukan kesenian tradisional ludruk yang terbuka bagi masyarakat.

Karnaval Pawai Budaya Desa Junrejo pada akhirnya dapat dipandang sebagai representasi kecil dari wajah Indonesia: beragam, dinamis, namun tetap berada dalam satu ikatan kebangsaan.

Tampak Kepala Desa bersama staff mengenakan baju adat budaya Nusantara.
Tampak Kepala Desa bersama staff mengenakan baju adat budaya Nusantara.

Ketika masyarakat Desa Junrejo menampilkan budaya Madura, Bali, Jawa, Sumatra, Kalimantan, Nusa Tenggara dan berbagai kebudayaan lainnya dalam satu ruang, pesan yang dibangun bukan mengenai perbedaan, melainkan mengenai bagaimana perbedaan tersebut dapat hidup berdampingan.

Dalam perspektif pembangunan masyarakat, kegiatan kebudayaan semacam ini memiliki fungsi strategis. Ia membangun ruang partisipasi publik, memperkuat interaksi sosial, memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda, sekaligus membuka ruang promosi terhadap potensi pertanian, kerajinan dan UMKM desa.

Karena itu, semangat “Beragam dalam Budaya, Bersatu Membangun Desa” bukan sekadar slogan karnaval.

Ia merupakan pesan sosial bahwa pembangunan desa tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan masyarakat yang memiliki identitas budaya, solidaritas sosial dan kesadaran untuk menjaga persatuan.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Dari Desa Junrejo, semangat kemerdekaan kemudian diterjemahkan melalui cara yang sederhana namun bermakna, merayakan keberagaman, berbagi kepada sesama, merawat kebudayaan dan membangun persatuan dari lingkungan masyarakat paling dekat.

 

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

 

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *