Syukuran PSHT di Kota Batu, Merawat Kebhinekaan, Melestarikan Budaya, dan Memperkuat Persaudaraan
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Kemenangan bukan semata-mata tentang memperoleh predikat terbaik dalam sebuah perlombaan. Dalam perspektif kebudayaan, sebuah prestasi akan memiliki makna yang lebih luas ketika mampu menjadi medium untuk memperkuat solidaritas sosial, merawat tradisi, serta meneguhkan kesadaran kebangsaan. Semangat itulah yang tercermin dalam kegiatan syukuran keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kota Batu pada Minggu, 16 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan tersebut dihadiri jajaran pengurus, seluruh warga PSHT yang hadir, tokoh masyarakat, budayawan, unsur pemerintahan, serta perwakilan masyarakat dari berbagai daerah. Syukuran tersebut sekaligus menjadi momentum reflektif setelah kontingen PSHT meraih Juara Favorit dalam Karnaval Budaya di Junrejo, Kota Batu.

Dalam karnaval tersebut, PSHT menghadirkan berbagai ekspresi seni bela diri tradisional, antara lain penampilan tunggal, atraksi ketangkasan pemecahan benda keras, seni sambung, hingga pembentangan bendera Merah Putih raksasa sepanjang sekitar 100 meter.
Penampilan itu tidak sekadar memperlihatkan kemampuan fisik dan teknik bela diri. Lebih dari itu, atraksi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni tradisional kepada masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus menempatkan pencak silat sebagai warisan budaya yang memiliki nilai pendidikan, kedisiplinan, sportivitas, keberanian, dan tanggung jawab sosial.

Ketua Dewan PSHT Cabang Batu, KangMas Drs. Suyono, yang juga menjadi tuan rumah kegiatan, menempatkan keberhasilan tersebut dalam perspektif yang lebih substantif. Menurutnya, predikat Juara Favorit merupakan hasil dari proses kolektif yang melibatkan banyak pihak.
Ia memandang keberhasilan PSHT dalam karnaval bukan sebagai capaian individual ataupun kelompok tertentu, melainkan sebagai buah dari kebersamaan, kedisiplinan, serta kesediaan setiap anggota untuk bekerja dalam satu tujuan.
Bagi Suyono, kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar jumlah anggotanya, tetapi juga oleh kualitas persaudaraan dan kemampuan seluruh elemen untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Karena itu, momentum syukuran dipandang penting untuk menjaga kesinambungan hubungan antargenerasi di lingkungan PSHT. Warga senior memiliki tanggung jawab mentransformasikan nilai dan pengalaman kepada generasi muda, sementara generasi muda memiliki kewajiban meneruskan tradisi dengan cara yang relevan dengan perkembangan zaman.
Nilai persaudaraan, menurut KangMas Suyono, harus diwujudkan dalam tindakan nyata menghormati sesama, menjaga komunikasi, menghindari konflik, serta menjadikan kemampuan bela diri sebagai instrumen perlindungan dan pengabdian kepada masyarakat.
Kehadiran Camat Bumiaji Thomas Maydo dan berbagai elemen masyarakat dalam kegiatan tersebut, menurutnya, semakin memperlihatkan bahwa organisasi seni bela diri dapat berperan sebagai ruang perjumpaan sosial yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

Dengan demikian, PSHT tidak berhenti pada aktivitas olahraga dan bela diri, tetapi dapat berkembang menjadi kekuatan sosial-kultural yang berkontribusi terhadap pembangunan karakter masyarakat.
Syukuran tersebut juga dikemas dengan berbagai simbol tradisi Jawa. Tumpeng selamat dan ayam ingkung ditempatkan sebagai bagian penting dari ritual kebersamaan.
Secara kultural, tumpeng kerap dipahami sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa atas keselamatan dan keberkahan. Sementara ayam ingkung mengandung pesan mengenai ketundukan, kepasrahan, dan pengendalian diri di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Makna simbolik tersebut relevan dengan pendidikan karakter. Dalam kehidupan sosial, kemampuan seseorang bukan hanya diukur dari kekuatan yang dimilikinya, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan diri dan menggunakan kekuatan tersebut secara bertanggung jawab.

Demikian pula dengan bunga telon yang terdiri atas mawar, kenanga, dan kantil. Ketiganya dapat dimaknai sebagai simbol perjalanan kehidupan manusia yang penuh dinamika, pengalaman, serta harapan agar manusia senantiasa mengingat nilai-nilai kebaikan dan menjaga keterikatan batin kepada Tuhan.
Telur ayam menjadi simbol optimisme. Sebuah ikhtiar yang dirawat dengan kesungguhan pada akhirnya diharapkan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Sementara urap-urap menggambarkan keberagaman unsur yang menyatu dalam satu hidangan, sebuah metafora sederhana tentang masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, agama, budaya, bahasa, dan identitas sosial.
Dari perspektif pendidikan kebudayaan, simbol-simbol tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal sesungguhnya dapat menjadi media pembelajaran karakter yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Ketua Nusantara Bersatu, Jose Alexander, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai suasana kekeluargaan yang dibangun dalam syukuran PSHT menjadi contoh konkret bagaimana organisasi masyarakat dapat mengembangkan ruang perjumpaan yang inklusif.
Menurut Jose, hal yang menarik bukan hanya keberhasilan PSHT dalam karnaval, tetapi juga keberagaman masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia menyebut adanya budayawan, unsur pemerintahan, tokoh masyarakat, serta saudara-saudara dari berbagai daerah seperti Banyuwangi, Sumba, Ambon, Solo, dan daerah lainnya.
“Ini adalah wujud nyata Bhinneka Tunggal Ika yang dibungkus dengan indah dalam konsep persaudaraan atau seduluran khas PSHT,” ujar Jose.

Menurutnya, keberagaman yang hadir dalam satu ruang kebersamaan tersebut memperlihatkan bahwa persatuan Indonesia tidak selalu harus dibicarakan melalui forum-forum formal. Persatuan juga dapat tumbuh melalui tradisi, budaya, silaturahmi, dan interaksi sosial yang berlangsung secara natural di tengah masyarakat.
Jose menilai tradisi tasyakuran menjelang peringatan kemerdekaan merupakan praktik kebudayaan yang patut dipertahankan. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi ekspresi rasa syukur, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia dibangun di atas keberagaman.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menjaga dan melestarikan budaya bangsa ini?” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dan semakin terbuka terhadap organisasi kemasyarakatan lainnya di Kota Batu. Menurutnya, semakin banyak kelompok masyarakat yang bertemu dalam ruang kebudayaan dan persaudaraan, semakin kuat pula fondasi sosial bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.

Sementara itu, Camat Bumiaji Thomas Maydo yang juga sebagai pembina FLOBAMORA, Forum Keluarga Eks Timor Timur, menekankan pentingnya peran organisasi kemasyarakatan dan perguruan seni bela diri dalam menjaga ketahanan sosial serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, Thomas mengingatkan seluruh elemen masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi, isu, maupun narasi yang berpotensi memecah persatuan.
Menurutnya, organisasi dengan basis massa yang luas seperti PSHT memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran sosial. Besarnya jumlah anggota harus diikuti dengan semakin kuatnya tanggung jawab moral untuk menjaga ketertiban, toleransi, dan keharmonisan masyarakat.
Thomas juga mengingatkan pentingnya nilai kerendahan hati dalam kehidupan seorang pesilat. Filosofi padi bahwa semakin berisi semakin menunduk, dapat menjadi refleksi bahwa semakin tinggi ilmu dan kemampuan seseorang, semakin besar pula tuntutan untuk menunjukkan sikap rendah hati.

Kemampuan bela diri, lanjutnya, hendaknya tidak digunakan untuk menunjukkan superioritas, tetapi menjadi sarana untuk melindungi, mengayomi, membantu masyarakat, dan memberikan keteladanan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena pencak silat tidak hanya memiliki dimensi olahraga, tetapi juga mengandung pendidikan mental, kedisiplinan, etika, keberanian, dan tanggung jawab.
Kegiatan syukuran PSHT Malang Raya dan Kota Batu pada akhirnya memperlihatkan satu fakta penting, kebudayaan dapat menjadi instrumen yang efektif untuk membangun persatuan.
Di tengah masyarakat Indonesia yang sangat majemuk, keberagaman tidak semestinya diposisikan sebagai sumber perbedaan yang memisahkan. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi modal sosial untuk membangun kerja sama dan memperkuat identitas kebangsaan.
Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang yaitu Jawa, Madura, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, maupun daerah lainnya, menjadi gambaran kecil tentang Indonesia dalam skala lokal.
Dalam konteks tersebut, konsep golek dulur atau mencari dan memperluas persaudaraan memiliki relevansi sosial yang kuat. Persaudaraan tidak boleh berhenti sebagai slogan organisasi, melainkan harus diterjemahkan dalam perilaku sosial yang menghargai perbedaan dan mengedepankan dialog.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/psht-bawa-bendera-merah-putih-100-meter-di-karnaval-budaya/
Bagi generasi muda, pesan tersebut juga penting. Kemajuan teknologi dan perubahan sosial tidak boleh membuat generasi baru tercerabut dari akar budaya. Sebaliknya, nilai-nilai tradisi perlu dikontekstualisasikan agar tetap hidup dan mampu menjawab tantangan zaman.
Predikat Juara Favorit dalam Karnaval Budaya Junrejo pada akhirnya bukanlah titik akhir. Prestasi tersebut justru dapat menjadi titik awal bagi PSHT untuk memperluas kontribusinya dalam bidang kebudayaan, pendidikan karakter, olahraga, dan penguatan kohesi sosial.
Kemenangan yang dirayakan melalui tasyakuran memiliki makna lebih mendalam ketika diikuti kesadaran untuk kembali kepada masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan cita-cita pembangunan manusia Indonesia yang tidak hanya membutuhkan kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter, integritas, kemampuan hidup berdampingan, serta kecintaan terhadap kebudayaan bangsa.
Dari Kota Batu, pesan itu menemukan bentuknya dalam sebuah kegiatan sederhana: masyarakat berkumpul, bersyukur, berbagi makanan, merawat tradisi, dan mempererat persaudaraan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Di tengah kehidupan bangsa yang semakin kompleks, praktik-praktik kebudayaan semacam ini layak dipandang sebagai bagian dari kekuatan sosial Indonesia. Sebab, Indonesia tidak hanya dibangun oleh institusi formal, tetapi juga oleh jutaan ruang kebersamaan yang setiap hari menjaga persaudaraan, toleransi, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Pada akhirnya, kemenangan terbaik bukanlah ketika seseorang mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika sebuah komunitas mampu mengubah prestasi menjadi energi persaudaraan dan pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




