Mikutopia Perluas Edukasi Hayati, Kenalkan Jamur Tiram Putih, Abu-Abu dan Kuning kepada Wisatawan
KOTA BATU, Pendidikannasional.id — Dunia jamur tidak hanya menyimpan potensi pangan, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk mengenalkan keanekaragaman hayati, lingkungan hidup, hingga pengetahuan dasar mengenai budidaya kepada masyarakat. Perspektif tersebut tengah dikembangkan Mikutopia, destinasi wisata edukasi jamur di Kota Batu, Jawa Timur.
Melalui Rumah Jamur Mikutopia, wisatawan diperkenalkan pada budidaya jamur tiram (Pleurotus spp.) dalam beberapa varian warna, antara lain putih, abu-abu, dan kuning. Kehadiran berbagai varian tersebut menjadi bagian dari materi edukasi yang memungkinkan pengunjung melihat secara langsung proses pertumbuhan jamur sekaligus memahami lingkungan yang diperlukan agar organisme tersebut dapat berkembang secara optimal.
Kegiatan edukasi berlangsung di Rumah Jamur Mikutopia, Jumat (25/9/2026) pagi. Edukasi disampaikan secara langsung oleh edukator kepada pengunjung yang datang ke kawasan tersebut.
Selama ini, jamur tiram putih lebih banyak dikenal masyarakat, baik sebagai komoditas pangan maupun sebagai objek budidaya skala rumah tangga. Namun, di Rumah Jamur Mikutopia, pengunjung dapat mengamati varian jamur tiram dengan warna berbeda yang dibudidayakan dalam kondisi lingkungan yang disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhannya.

Edukator Rumah Jamur Mikutopia, Yunita, menjelaskan bahwa jamur tiram putih, abu-abu, dan kuning pada dasarnya membutuhkan lingkungan yang lembap, teduh, serta memiliki suhu yang sesuai untuk menunjang pertumbuhannya.
Menurut Yunita, beberapa parameter lingkungan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan budidaya.
“Karakteristik habitat yang paling perlu diperhatikan meliputi suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara,” ujar Yunita.
Ia menjelaskan, tiram abu-abu dan kuning cenderung lebih sesuai dengan kondisi lingkungan yang sejuk atau agak dingin dibandingkan tiram putih. Karena itu, pengelolaan ruang budidaya tidak dapat dilakukan secara seragam tanpa memperhatikan karakteristik masing-masing varian.

Perbedaan warna jamur juga menjadi bagian menarik dalam proses edukasi. Bagi pengunjung, keberadaan jamur dengan warna putih, abu-abu, dan kuning memberikan gambaran sederhana mengenai adanya variasi karakter pada organisme yang secara umum dikenal sebagai jamur tiram.
Dalam konteks budidaya, faktor lingkungan turut berperan terhadap pertumbuhan dan tampilan jamur. Karena itu, pengenalan jamur secara langsung di ruang budidaya memberikan pengalaman berbeda dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan penjelasan secara teoritis.
Pengembangan varian jamur tiram berwarna di Mikutopia dilakukan secara bertahap. Yunita mengatakan, sebelum mencoba varian abu-abu dan kuning, pihaknya terlebih dahulu membudidayakan jamur tiram putih.
Eksperimen terhadap varian baru tersebut telah berlangsung sekitar tiga minggu dan menunjukkan hasil yang cukup baik. Jamur tiram abu-abu dan kuning tidak hanya mampu tumbuh, tetapi juga telah dapat dipanen.
“Setelah adanya tiram putih, lalu dicoba budidaya tiram abu-abu dan kuning. Ternyata bisa tumbuh,” katanya.
Menurut Yunita, percobaan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan lingkungan dari masing-masing varian. Kondisi tempat budidaya menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah suatu varian dapat tumbuh secara optimal.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/pariwisata/donor-darah-di-mikutopia-wujud-peduli-kemanusiaan/
Keberhasilan tersebut kemudian menjadi pengalaman baru bagi Mikutopia dalam mengembangkan materi edukasi mengenai jamur.
“Alhamdulillah ternyata di tempat kami bisa tumbuh dan panen juga,” ujarnya.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa proses budidaya tidak berhenti pada pemilihan jenis jamur, tetapi membutuhkan penyesuaian terhadap kondisi ruang, terutama suhu, kelembapan, dan sirkulasi udara.
Pengembangan Rumah Jamur Mikutopia juga tidak berhenti pada tiga varian yang saat ini diperkenalkan kepada wisatawan. Mikutopia membuka kemungkinan untuk mencoba budidaya jamur tiram berwarna pink.
Namun, rencana tersebut masih mempertimbangkan kesiapan ruang budidaya. Faktor suhu dan kelembapan menjadi perhatian sebelum varian baru tersebut dikembangkan.
“Insya Allah jika nanti suhu dan kelembapan di ruang budidaya memenuhi syarat akan mengembangkan untuk varian tiram pink. Namun ini juga akan melihat kondisi ruangan,” jelas Yunita.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan budidaya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi aktual di lapangan. Dengan demikian, pengenalan varian baru tidak semata-mata didasarkan pada aspek visual, tetapi juga pada kemampuan ruang budidaya dalam memenuhi kebutuhan pertumbuhan jamur.
Selain mengembangkan budidaya di lingkungan internal, Mikutopia juga mulai melibatkan masyarakat sekitar dalam penyediaan baglog atau media tanam yang digunakan dalam budidaya jamur.
Menurut Yunita, kolaborasi tersebut telah berlangsung sekitar satu bulan. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting karena pengembangan destinasi wisata edukasi dapat memiliki dimensi ekonomi yang lebih luas apabila terhubung dengan potensi dan kapasitas masyarakat di sekitar kawasan.
Baglog merupakan salah satu komponen penting dalam budidaya jamur. Melalui keterlibatan masyarakat dalam penyediaannya, kegiatan budidaya di Mikutopia sekaligus membuka ruang bagi terbentuknya hubungan antara kegiatan wisata, pembelajaran, dan aktivitas ekonomi lokal.

Manajer Operasional Mikutopia, Panji, mengatakan bahwa keberadaan destinasi tersebut memang sejak awal memiliki keterkaitan erat dengan dunia jamur. Karena itu, edukasi mengenai jamur diberikan kepada wisatawan secara bertahap.
“Sementara ini kami memberikan edukasi perihal jamur tiram, kemudian ke depan kami berencana akan membuat wahana sendiri atau tempat sendiri untuk menampilkan berbagai macam jamur yang ada di Nusantara, sehingga wisatawan akan mengetahui berbagai macam jamur yang ada di dunia ini,serta juga kami akan menyediakan penjualan baglog jamur dan olahan jamur yang bisa dijadikan buah tangan yang khas bagi wisatawan. ” Kata Panji.
Rencana tersebut membuka kemungkinan bagi pengembangan materi edukasi yang lebih luas. Jika direalisasikan, ruang khusus mengenai berbagai jenis jamur dapat menjadi sarana bagi pengunjung untuk mengenal keanekaragaman fungi secara lebih dekat, termasuk karakteristik, habitat, serta pemanfaatannya.
Bagi destinasi wisata edukasi, pengalaman melihat objek secara langsung memiliki nilai tersendiri. Pengunjung tidak hanya memperoleh informasi melalui teks atau penjelasan, tetapi dapat mengamati bentuk, warna, media tumbuh, serta kondisi lingkungan yang menyertai proses budidaya.
Pengembangan Rumah Jamur Mikutopia memperlihatkan bagaimana objek wisata dapat dikembangkan tidak semata sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran berbasis pengalaman.
Melalui pengamatan langsung terhadap jamur tiram, pengunjung dapat diperkenalkan pada sejumlah konsep dasar, mulai dari kebutuhan lingkungan, proses pertumbuhan, perbedaan karakter varian, hingga pentingnya memastikan jamur pangan berasal dari jenis yang aman dan dibudidayakan secara tepat.

Hal tersebut menjadi penting karena tidak semua jenis jamur yang ditemukan di alam dapat dikonsumsi. Oleh sebab itu, edukasi mengenai identifikasi jenis, sumber pangan, dan praktik budidaya yang baik perlu ditempatkan sebagai bagian dari literasi pangan.
Pada saat yang sama, pengenalan terhadap jamur juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran mengenai keanekaragaman hayati. Jamur merupakan bagian penting dari ekosistem dan memiliki peran dalam berbagai proses ekologis, sehingga pengenalan terhadap dunia fungi tidak hanya berkaitan dengan konsumsi, tetapi juga dengan pemahaman mengenai lingkungan.

Dengan pengembangan yang dilakukan secara bertahap, Rumah Jamur Mikutopia berupaya menghadirkan pengalaman wisata yang mempertemukan unsur rekreasi dengan pembelajaran. Jamur tiram putih, abu-abu, dan kuning menjadi titik awal untuk memperkenalkan dunia fungi kepada masyarakat secara lebih dekat.
Ke depan, rencana menghadirkan lebih banyak jenis jamur Nusantara berpotensi memperluas cakupan edukasi tersebut. Bukan sekadar memperlihatkan bentuk dan warna jamur, tetapi juga mengajak pengunjung memahami hubungan antara keanekaragaman hayati, lingkungan, pangan, teknologi budidaya, serta kehidupan masyarakat.
Di tengah kebutuhan untuk memperkuat literasi lingkungan dan pengenalan keanekaragaman hayati kepada generasi muda, model wisata edukasi semacam ini menunjukkan bahwa proses belajar dapat berlangsung melalui pengalaman langsung.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Mikutopia pun menempatkan dunia jamur sebagai medium untuk mempertemukan wisata, pengetahuan, dan interaksi masyarakat. Dari ruang budidaya yang sederhana, pengunjung dapat melihat bahwa di balik sebuah jamur pangan terdapat pengetahuan mengenai lingkungan, ketelitian dalam proses budidaya, serta peluang untuk mengembangkan edukasi yang lebih luas mengenai kekayaan hayati Indonesia.
Penulis: Riadi
Editor: Tim Pendidikannasional.id






