Pameran Painting Exhibition Spirit East of Java Hadirkan Semangat Persahabatan Perupa Era 1980-an di Kota Batu
KOTA BATU, Pendidikannasional.id – Seni lukis tidak sekadar menjadi medium ekspresi estetika, tetapi juga ruang refleksi, dialog kebudayaan, sekaligus sarana mempererat hubungan antarseniman lintas generasi. Semangat tersebut tercermin dalam pameran bertajuk Painting Exhibition Spirit East of Java – Friendship Perupa Anno 80-an yang diselenggarakan di Galeri Raos, Jalan Panglima Sudirman Nomor 47, Ngaglik, Kota Batu.
Pameran ini menghadirkan 13 pelukis yang memiliki latar belakang dan karakter artistik masing-masing. Mereka adalah Abdus Salam, Amdo Brada, Beny Demo, Hendoeng, Jocowtree, Koeboe Sarawan, Nurali, Setyoko, Slamet Henkus, Susetya, Tamar Saraseh, Yoyok Siswoyo, dan Yon Wahyuono.

Lebih dari sekadar perhelatan seni rupa, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi, reuni, dan temu kangen bagi para perupa, khususnya seniman yang telah menjalin persahabatan sejak era 1980-an. Pertemuan tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada para seniman untuk kembali berinteraksi, bertukar gagasan, serta memperlihatkan perkembangan kreativitas melalui karya-karya terbaru.
Salah satu pelukis senior Kota Batu, Koeboe Sarawan, turut berpartisipasi dengan menampilkan dua karya terbarunya. Kedua lukisan tersebut masing-masing berjudul Sebuah Renungan dan Nyawiji. Keduanya menggunakan teknik watercolor on paper (cat air di atas kertas) dengan ukuran 150 x 90 sentimeter.

Melalui kedua karya tersebut, Koeboe menghadirkan pendekatan artistik yang tidak hanya bertumpu pada keindahan visual, tetapi juga mengandung ruang perenungan dan pesan filosofis. Khususnya melalui karya Nyawiji, ia mengangkat gagasan mengenai persatuan, keberagaman, dan harmoni kehidupan masyarakat Indonesia.
Koeboe Sarawan mengungkapkan bahwa pameran ini memiliki makna lebih luas daripada sekadar memamerkan hasil karya seni. Baginya, kegiatan tersebut merupakan kesempatan berharga untuk membangun kembali hubungan persahabatan sekaligus menjadi ruang perjumpaan yang memberikan energi positif bagi para seniman.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/semangat-kembali-nyawiji-merangkai-warna-kehidupan/
Menurutnya, pertemuan antarsesama perupa yang telah lama tidak berjumpa merupakan bentuk pengalaman hidup yang berharga. Pameran menjadi semacam terapi sosial dan emosional karena para seniman memperoleh kesempatan untuk berkumpul, berbagi pengalaman, serta memperlihatkan karya-karya terbaru mereka.

Watercolor on paper, dengan ukuran 150×90 cm.
Salah satu gagasan menarik yang dihadirkan Koeboe Sarawan melalui karya Nyawiji adalah penggunaan figur tiga sosok bhikkhu dan tokoh pewayangan Jawa, Sang Hyang Semar.
Dalam khazanah kebudayaan Jawa, Semar dikenal sebagai tokoh Punakawan yang memiliki kedudukan istimewa. Ia bukan sekadar figur penghibur dalam pertunjukan wayang, melainkan juga simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, kebajikan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam pemaknaan Koeboe, Semar merepresentasikan kekuatan pemersatu di tengah keberagaman. Figur tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan latar belakang etnis, keyakinan, agama, maupun pandangan hidup tidak seharusnya menjadi penghalang bagi manusia untuk hidup berdampingan secara damai.

Filosofi tersebut memiliki relevansi kuat dengan semboyan bangsa Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika. Sebuah prinsip kebangsaan yang mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekayaan yang harus dirawat melalui sikap saling menghormati dan menghargai.
Melalui representasi Semar dan tiga sosok bhikkhu, Koeboe ingin menyampaikan pesan tentang kehidupan masyarakat Indonesia yang terdiri atas beragam suku, etnis, agama, dan kepercayaan. Seluruh elemen masyarakat memiliki kedudukan yang sama sebagai bagian dari kehidupan kebangsaan.
Pesan tersebut sekaligus mengingatkan bahwa persatuan tidak berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, persatuan justru tumbuh ketika setiap individu mampu menerima keberagaman sebagai bagian dari identitas bersama.

Dengan demikian, Nyawiji dapat dimaknai sebagai ajakan untuk membangun kehidupan yang harmonis, menjunjung tinggi toleransi, serta memperkuat solidaritas kemanusiaan di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Di samping menjadi ruang apresiasi seni, pameran ini juga membawa harapan bagi keberlanjutan ekosistem seni rupa, khususnya di kalangan generasi muda.
Koeboe Sarawan berharap seluruh sahabat seniman senantiasa diberikan kesehatan sehingga tetap mampu berkarya dan menghasilkan karya-karya yang memiliki nilai artistik maupun pesan kemanusiaan.

Ia juga berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi wadah untuk menularkan semangat kreativitas kepada generasi muda. Pengalaman para perupa senior diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi kaum muda agar tidak berhenti belajar, bereksplorasi, dan berkarya.
Sebab, kreativitas tidak semestinya dibatasi oleh usia. Pengalaman, kedewasaan berpikir, dan perjalanan panjang seorang seniman justru dapat menjadi sumber inspirasi dalam melahirkan karya yang semakin matang dan bermakna.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionalcom?si=UjXPUpkON2ZP7j8f
https://instagram.com/pendidikannasional.id?obrf=MW5nZXZzYnBldWF6Ng==
https://www.facebook.com/share/1GUDtH83hq
Pameran Painting Exhibition Spirit East of Java – Friendship Perupa Anno 80-an di Galeri Raos Kota Batu pada akhirnya memperlihatkan bahwa seni memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat. Seni bukan hanya tentang garis, warna, komposisi, dan keindahan, melainkan juga tentang persahabatan, ingatan kolektif, kebijaksanaan, serta pesan persatuan.
Melalui karya-karya yang dipamerkan, para perupa tidak hanya memperlihatkan perjalanan artistiknya, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa kebudayaan akan terus hidup selama masih ada manusia yang bersedia merawat, mengembangkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.






