Karnaval Budaya Junrejo 2026 Sinergi Pemerintah Desa, Pendidikan, dan PSHT Lestarikan Warisan Budaya
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Semangat kebersamaan dan pelestarian budaya kembali menjadi bagian penting dalam rangkaian Selamatan Desa Junrejo dan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026. Salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut tertuju pada partisipasi SMK Bhinneka Tunggal Ika bersama ekstrakurikuler pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang tampil membawa nuansa pendidikan, seni, olahraga, dan kebudayaan dalam satu kesatuan kegiatan.
Kepala Desa Junrejo, Andi Faizal Hasan, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan serta berpartisipasi dalam rangkaian Selamatan Desa Junrejo dan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Menurut Andi, kegiatan kebudayaan tidak sekadar menjadi ruang hiburan masyarakat, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam membangun kebersamaan, memperkuat identitas lokal, sekaligus menanamkan karakter kebangsaan kepada generasi muda.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah desa, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, serta kelompok seni dan olahraga dapat terus dipertahankan.
“Diharapkan ke depan SMK Bhinneka Tunggal Ika serta pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dapat selalu memberikan partisipasinya dan tetap mendukung program Pemerintah Desa Junrejo, serta ikut menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat,” ujarnya.
Partisipasi SMK Bhinneka Tunggal Ika dalam Pawai/Kirab Budaya Junrejo 2026 menjadi semakin menarik dengan kehadiran sekitar 51 peserta. Para siswa tidak hanya hadir sebagai peserta kirab, tetapi juga membawa sebuah simbol kebangsaan berupa bendera Merah Putih berukuran panjang 100 meter dan lebar 2 meter.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan Humas SMK Bhinneka Tunggal Ika, Teguh Wibowo, menjelaskan bahwa bendera raksasa tersebut diarak sepanjang jalur kirab menggunakan tongkat penyangga.
Menurut Teguh, kehadiran bendera raksasa menjadi salah satu bentuk kreativitas sekaligus ekspresi kecintaan generasi muda terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Ini diikuti sekitar 50-an peserta, tepatnya 51 orang dari SMK Bhinneka Tunggal Ika. Kami juga melibatkan peserta dari unsur pendidikan dan masyarakat,” kata Teguh.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga melibatkan siswa yang mengikuti ekstrakurikuler PSHT. Mereka tidak hanya berperan dalam pengawalan bendera raksasa, tetapi turut menampilkan seni bela diri pencak silat sebagai bagian dari pertunjukan budaya.
Bagi Teguh, kegiatan semacam ini memiliki nilai edukatif karena memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara langsung mengenai kerja sama, disiplin, tanggung jawab, keberanian, serta penghargaan terhadap budaya bangsa.

Ketua Dewan PSHT Cabang Batu sekaligus Ketua IPSI Kota Batu, Drs. Suyono, menyambut positif keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai partisipasi PSHT bersama SMK Bhinneka Tunggal Ika merupakan bentuk nyata bahwa pencak silat dapat menjadi media pendidikan karakter sekaligus sarana pelestarian kebudayaan nasional.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya.
Suyono mengatakan, para siswa ekstrakurikuler PSHT telah mampu mengembangkan kreativitas melalui berbagai penampilan, mulai dari senam jurus, solo sparing hingga simulasi pertarungan.
Menurutnya, keterlibatan pesilat muda dalam mengawal bendera Merah Putih raksasa sepanjang 100 meter dan lebar 2 meter juga memiliki makna simbolis yang kuat.

Pencak silat, kata Suyono, bukan semata-mata seni bela diri, melainkan bagian dari warisan budaya yang mengandung nilai disiplin, persaudaraan, keberanian, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antara pendidikan, pemerintah desa, masyarakat dan organisasi pencak silat.
“Harapan kami, kegiatan ini dapat meningkatkan sinergi serta mutu pendidikan, khususnya dalam membentuk karakter siswa yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.
Suyono juga mengingat kembali capaian SMK Bhinneka Tunggal Ika pada 2019 ketika penampilan karnaval sekolah tersebut berhasil meraih juara favorit se-Kecamatan Junrejo.
Ia berharap semangat dan kreativitas yang ditampilkan pada Karnaval Budaya 2026 dapat kembali mengantarkan SMK Bhinneka Tunggal Ika meraih prestasi.
Lebih jauh, kegiatan ini menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan dapat menjadi ruang pendidikan publik yang mempertemukan pemerintah, sekolah, organisasi kepemudaan, pelaku seni, pesilat dan masyarakat dalam semangat gotong royong.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Di tengah perubahan zaman, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda. Karena itu, Pawai/Kirab Budaya Junrejo tidak hanya penting sebagai agenda perayaan desa, tetapi juga menjadi representasi bagaimana pendidikan karakter, kebudayaan dan nasionalisme dapat berjalan secara harmonis di tingkat masyarakat.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




