Ratusan Anak Ikuti SCR Kids Push Bike di Jatim Park 3, Perkuat Ekosistem Sport Tourism Kota Batu
KOTA BATU, Pendidikannasional.id — Olahraga push bike atau sepeda tanpa pedal kian berkembang sebagai bagian dari aktivitas olahraga anak usia dini sekaligus ruang pembinaan bakat dan kemampuan motorik. Perkembangan tersebut terlihat dalam penyelenggaraan SCR Kids Push Bike / SCR Pushbike Playon Rono Rene Series 2 yang berlangsung di kawasan Jatim Park 3, Kota Batu, Sabtu (19/9/2026).
Kejuaraan yang dikemas dalam skala regional hingga nasional itu diikuti sekitar 300–350 anak dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta tidak hanya berasal dari Malang Raya dan sejumlah wilayah di Jawa Timur, tetapi juga datang dari Lampung, Yogyakarta, Bali, hingga Kalimantan.

Kehadiran peserta lintas daerah tersebut memperlihatkan bahwa push bike tidak semata-mata berkembang sebagai aktivitas rekreatif anak, melainkan mulai membentuk ekosistem olahraga usia dini yang memiliki dimensi pembinaan prestasi, interaksi sosial, sekaligus potensi ekonomi bagi daerah penyelenggara.
Ajang tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Kota Batu dari Fraksi Gerindra sekaligus Ketua SCR Kids Push Bike dan Ketua Umum Ikatan Cycling Federation (ICF) Kota Batu, Agung Sugiono, perwakilan Dinas Pariwisata Kota Batu, Direktur Jatim Park 3 Ir. Suryo Widodo, serta para orang tua yang mendampingi peserta.
Pembinaan Motorik dan Keseimbangan Sejak Usia Dini
Ketua Panitia SCR Kids Push Bike periode 2025–2026, Ruli Cahyo Pramono, mengatakan penyelenggaraan kompetisi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan pemenang, tetapi juga menjadi sarana pembinaan minat, bakat, keberanian, koordinasi gerak, dan keseimbangan tubuh anak sejak usia dini.

Menurut Ruli, skala peserta pada Series 2 menunjukkan perkembangan minat masyarakat terhadap olahraga push bike.
“Kegiatan yang diselenggarakan di Kota Batu ini dikemas dalam skala event regional hingga nasional. Tercatat ada sekitar 300 hingga 350 peserta dari anak-anak laki-laki dan perempuan yang ambil bagian dalam perlombaan ini,” ujar Ruli.
Menurutnya, keberagaman asal peserta menjadi salah satu indikator bahwa olahraga push bike memiliki basis komunitas yang semakin luas. Kota Batu, dengan karakter sebagai destinasi wisata, juga memberikan daya tarik tambahan bagi keluarga peserta dari luar daerah.
Para peserta datang sekaligus bersama keluarga. Kondisi tersebut menciptakan ruang pertemuan antara aktivitas olahraga anak dan pengalaman wisata keluarga, sehingga kejuaraan tidak berhenti pada arena kompetisi, tetapi berpotensi memperpanjang aktivitas ekonomi peserta selama berada di Kota Batu.
Kategori Disusun Berdasarkan Usia dan Kemampuan
Dari sisi kompetisi, panitia menerapkan sistem pembagian kelas berdasarkan tahun kelahiran. Sistem tersebut dirancang untuk menjaga proporsionalitas pertandingan sekaligus mempertimbangkan aspek keamanan dan kemampuan peserta sesuai kelompok usia.
Terdapat sekitar 15 kategori kelas utama, mulai dari anak kelahiran 2024 hingga kelahiran 2016. Peserta termuda berada pada kisaran usia 2 hingga 2,5 tahun, sedangkan kelompok usia paling senior berada pada kisaran 9 hingga 10 tahun.

Sekretaris ICF Kota Batu, Yoga, menjelaskan bahwa selain kelas berdasarkan tahun kelahiran, panitia juga menyediakan kategori pendukung, antara lain Free For All (FFA) serta pengelompokan berdasarkan tingkat kemampuan peserta.
“Kategori yang paling besar dan pesertanya paling banyak adalah di kelas kelahiran 2016 yang menggabungkan peserta putra dan putri secara campuran. Selain itu, panitia juga menerapkan sistem penjurian dengan membagi kelompok kejuaraan menjadi kelas Elite, Novice, Rookie, Beginner, dan Newbie,” ungkap Yoga.
Pembagian tersebut memungkinkan kompetisi berlangsung dengan tingkat persaingan yang lebih proporsional. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengalaman bertanding, tetapi juga belajar mengenali disiplin, aturan permainan, keberanian mengambil keputusan, serta menerima hasil kompetisi sejak usia dini.
Penghargaan untuk Peserta dan Apresiasi terhadap Sportivitas
Panitia juga memberikan apresiasi kepada peserta sebagai bagian dari upaya membangun pengalaman positif dalam mengikuti kompetisi.
Peserta yang berhasil mencapai podium maupun menyelesaikan perlombaan sebagai finisher memperoleh sejumlah penghargaan, antara lain trofi, piagam kejuaraan, kaos, serta makanan ringan. Penghargaan tersebut juga didukung sejumlah brand apparel yang terlibat dalam kegiatan.

Khusus peserta dari wilayah Jawa Timur, panitia memberikan tiket masuk gratis ke salah satu wahana di Jatim Park 3.
Skema tersebut membuat kompetisi memiliki dimensi yang lebih luas. Anak memperoleh pengalaman olahraga, sementara keluarga mendapatkan kesempatan menikmati destinasi wisata. Dalam konteks Kota Batu, pola semacam ini dapat menjadi bagian dari pengembangan sport tourism, yakni keterhubungan antara aktivitas olahraga dengan pergerakan wisatawan dan aktivitas ekonomi daerah.
Push Bike dan Potensi Penguatan Sport Tourism Kota Batu
Ruli mengatakan SCR Pushbike Playon Rono Rene Series 2 merupakan kelanjutan dari penyelenggaraan seri sebelumnya pada 2025 yang berlangsung di kawasan Selecta.
Menurut dia, penyelenggaraan kejuaraan dengan peserta dari berbagai daerah memberikan dampak lanjutan terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran peserta dan keluarga dari luar Kota Batu membuka peluang peningkatan aktivitas pada sektor akomodasi, kuliner, transportasi, serta kunjungan ke berbagai destinasi wisata.
“Kesuksesan penyelenggaraan series kedua ini merupakan kelanjutan dari rangkaian seri sebelumnya di tahun 2025 yang sukses digelar di kawasan Selecta. Di balik kemeriahan kompetisi, ajang push bike ini memberikan multiplier effect yang signifikan, khususnya dalam mendongkrak sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pariwisata Kota Batu,” kata Ruli.

Dengan demikian, penyelenggaraan olahraga usia dini dapat ditempatkan sebagai salah satu instrumen pendukung pengembangan pariwisata berbasis pengalaman keluarga. Peserta datang untuk berkompetisi, tetapi pada saat yang sama memiliki kesempatan untuk mengonsumsi berbagai layanan wisata yang tersedia di Kota Batu.
Dari Push Bike Menuju Pembinaan Olahraga Berkelanjutan
Di sisi kelembagaan, Yoga menyampaikan bahwa ICF Kota Batu saat ini telah bergabung di bawah naungan Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) dengan kepemimpinan baru Agung Sugiono.
Menurutnya, integrasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kesinambungan pembinaan olahraga sepeda, termasuk memberikan jalur perkembangan bagi anak-anak yang sejak usia dini telah mengenal push bike.
“Melalui sinergi yang kuat ini, kami berharap olahraga sepeda push bike ke depannya tidak hanya menjadi wadah pembinaan prestasi atlet usia dini, tetapi juga berfungsi sebagai batu loncatan awal sebelum anak-anak beralih ke jenjang olahraga lanjutan seperti BMX atau Mini GP,” pungkas Ruli Cahyo Pramono.
Dalam perspektif pembinaan olahraga, keberadaan kompetisi usia dini memiliki arti penting karena proses pembentukan kemampuan tidak berlangsung secara instan. Pengalaman berkompetisi secara bertahap dapat menjadi bagian dari proses pengenalan anak terhadap disiplin olahraga, regulasi pertandingan, sportivitas, serta pengembangan keterampilan motorik.

Pada saat yang sama, penyelenggaraan event dengan peserta dari luar daerah memberikan peluang bagi Kota Batu untuk mempertemukan dua kepentingan sekaligus: pembinaan olahraga dan penguatan sektor pariwisata.
Menempatkan Kota Batu sebagai Ruang Pertumbuhan Sport Tourism
Perkembangan SCR Kids Push Bike memperlihatkan bahwa olahraga anak dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar aktivitas kompetitif. Ketika sebuah kejuaraan mampu mendatangkan peserta dan keluarga dari berbagai daerah, maka event olahraga berpotensi berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi dan pariwisata daerah.
Bagi Kota Batu, kondisi tersebut relevan dengan karakter wilayah yang bertumpu pada sektor pariwisata. Integrasi antara olahraga, rekreasi keluarga, dan destinasi wisata dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menciptakan agenda kegiatan yang memiliki daya tarik lintas daerah.
Karena itu, keberlanjutan penyelenggaraan SCR Pushbike Playon Rono Rene Series menjadi penting bukan hanya dalam perspektif kompetisi, tetapi juga dalam konteks pembinaan olahraga usia dini dan pengembangan sport tourism yang berkelanjutan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Panitia dan pengurus ICF Kota Batu berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan secara berkesinambungan dengan kualitas penyelenggaraan yang semakin baik. Dalam jangka panjang, ajang tersebut diharapkan memiliki ruang untuk berkembang menjadi agenda kejuaraan yang lebih luas dan rutin, sekaligus memperkuat posisi Kota Batu sebagai salah satu destinasi yang mampu mempertemukan olahraga, pendidikan karakter, rekreasi keluarga, dan pariwisata dalam satu ekosistem kegiatan.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.






