KOTA BATU, Pendidikannasional.id – Kota Batu kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Wilayah yang dikenal sebagai sentra pariwisata dan agraris ini resmi dipercaya oleh Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Rembuk Paripurna Nasional KTNA. Kegiatan akbar tersebut berlangsung di Balai Among Tani Kota Batu pada Sabtu, 19 September 2026.
Wali Kota Batu, H. Nurochman, S.H., M.H., bersama Ketua KTNA Kota Batu, H. Heli Suyanto, S.H., M.H., menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada Kota Batu. Penunjukan ini dinilai sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan potensi daerah secara lebih mendalam kepada tingkat nasional, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, UMKM, hingga pariwisata.

Memperkenalkan Potensi Unggulan Daerah ke Kancah Nasional
Dalam persiapan menyambut acara nasional tersebut, Pemerintah Kota Batu bersama jajaran pengurus KTNA berkomitmen mengoptimalkan promosi potensi lokal. H. Nurochman menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan kementerian terkait, termasuk berkomunikasi dengan Sekretaris Kementerian (Sesmen), guna mendorong pelaksanaan berbagai even dan kegiatan berskala nasional di Kota Batu. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di daerah.

“Kami menyampaikan terima kasih telah memilih Kota Batu. Melalui kesempatan ini, kami dapat mempromosikan potensi pertanian, perkebunan, UMKM, dan pariwisata Kota Batu, sekaligus mengajak pihak kementerian untuk menggelar even-even di Kota Batu guna mendukung pertumbuhan pariwisata,” ujar H. Nurochman.
Sinergi Program BGN dan Komitmen Peningkatan Kesejahteraan Petani
Selain sektor pariwisata, fokus utama dalam perbincangan ini juga menyoroti sinergi program strategis nasional, khususnya Badan Gizi Nasional (BGN), yang diharapkan mampu memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat dan para petani lokal.

H. Heli Suyanto menambahkan bahwa program BGN memiliki korelasi erat dengan kesejahteraan petani lokal, terutama terkait kebijakan penggunaan susu segar dalam menu pemenuhan gizi. Berdasarkan informasi dari pihak terkait, terdapat kebijakan baru yang mewajibkan penggunaan 80% susu segar, meningkat dari ketentuan sebelumnya yang sebesar 20%. Kebijakan ini menuntut keterlibatan aktif para peternak lokal di daerah untuk memenuhi pasokan susu yang berkualitas dan segar sesuai standar kesehatan (SLHS).
“Program BGN ini diharapkan memberikan dampak positif langsung kepada masyarakat. Semakin konkret kerja sama antara dapur penyedia dengan sektor pertanian dan peternakan di Kota Batu, maka akan semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah,” jelas H. Heli Suyanto.
Penertiban dan Standardisasi Dapur Demi Keamanan Pangan
Menanggapi dinamika operasional dapur-dapur program di daerah, pihak pengurus KTNA menegaskan bahwa saat ini fokus utama pemerintah adalah menertibkan dan memastikan standardisasi dapur yang sudah maupun yang belum beroperasional agar memenuhi standar higienitas dan kelayakan. Pemerintah Kota Batu juga diberikan kewenangan khusus untuk memberikan rekomendasi serta melakukan penutupan terhadap dapur-dapur yang dinilai tidak higienis atau tidak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Melalui langkah-langkah strategis ini, Kota Batu tidak hanya siap menyukseskan Rembuk Paripurna Nasional KTNA 2026, tetapi juga bertekad untuk terus meningkatkan kualitas produk pertanian, peternakan, serta memastikan standar keamanan pangan yang ketat demi kesejahteraan masyarakat luas.
BGN Tegaskan Komitmen Keberlanjutan Program Makan Bergizi
Pada kesempatan yang sama, Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan komitmennya untuk menjalankan program Makan Bergizi (MBG) secara berkelanjutan dengan mengedepankan prinsip ketahanan dan keteraturan rantai pasok yang terencana. Kepala BGN, Dr. Sudaryono, B.Eng., M.M., MBA., menyampaikan bahwa program strategis nasional ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga untuk mencegah terjadinya distorsi pasar domestik dan menjaga keseimbangan ekonomi masyarakat.

Dalam keterangannya, Dr. Sudaryono menekankan bahwa pelaksanaan program MBG tidak dapat dilakukan secara sporadis tanpa perhitungan yang matang. BGN telah menetapkan prioritas alokasi yang difokuskan pada kawasan 13T ,Tertinggal, Terdepan, Terluar, Transmigrasi, dan kategori lainnya serta daerah dengan prevalensi stunting yang tinggi.
“Program ini harus bertahan dan berkelanjutan. Tidak bisa lagi dijalankan secara asal-asalan seperti periode sebelumnya, karena akan menimbulkan persoalan baru,” ujar Dr. Sudaryono.
Hingga saat ini, BGN mencatat sekitar 2.700 titik di daerah tertinggal yang telah siap diaktivasi guna mendukung suplai program tersebut.
Mengatasi Tantangan Harga Komoditas dan Dinamika Pasar
Menanggapi dinamika harga di pasaran seperti kenaikan harga ayam di tengah harga telur yang relatif murah, Dr. Sudaryono menjelaskan bahwa program MBG merupakan pasar yang sedang berkembang (emerging market) yang berpotensi memengaruhi kestabilan pasar konvensional. Berdasarkan hasil pertemuannya dengan asosiasi perunggasan, ditemukan tantangan berupa harga ayam di tingkat produsen yang tergolong tinggi, sementara harga telur mengalami penurunan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BGN berencana membangun ekosistem marketplace khusus yang terintegrasi guna mengontrol pergerakan pasokan dan harga. Langkah ini juga merespons kendala di sejumlah kabupaten di luar Pulau Jawa, di mana ketersediaan stok ayam beku (frozen chicken) masih sangat terbatas, sehingga masyarakat kerap bergantung pada suplai pasar bebas yang kualitas kesegarannya rentan menurun.
Integrasi Kebutuhan Gizi dan Perputaran Ekonomi Lokal
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan latar belakang keahlian di bidang ekonomi, Dr. Sudaryono menekankan bahwa program MBG tidak hanya sekadar memenuhi asupan gizi dan nutrisi anak-anak, melainkan juga harus mampu menggerakkan roda perekonomian lokal secara transparan dan akuntabel. Ke depannya, BGN berkomitmen untuk terus mengevaluasi dan menyempurnakan skema penyaluran melalui penyediaan pasokan khusus demi mewujudkan ketahanan pangan nasional yang stabil dan merata.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.






