Senopati Mataram Surabaya Hadiri Rangkaian Jumenengan Pakubuwana XIV di Kraton Surakarta.
Surakarta, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Senopati Mataram Kraton Surakarta Hadiningrat Surabaya menghadiri rangkaian kegiatan adat Jumenengan Dalem Sinuwun Pakubuwana XIV di Kraton Surakarta Hadiningrat, Jumat (4/9/2026). Kehadiran rombongan yang dipimpin Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Kusnan Marzuki BudoyoNagoro tersebut menjadi bagian dari momentum silaturahmi sekaligus memperkuat hubungan kekeluargaan dalam lingkungan tradisi keraton.
Rombongan Senopati Mataram Kraton Surakarta Hadiningrat Surabaya berangkat menuju Solo pada Jumat pagi. Kehadiran mereka berkaitan dengan rangkaian kegiatan adat yang dijadwalkan berlanjut pada Sabtu (5/9/2026).
Setibanya di kompleks Kraton Surakarta, rombongan disambut Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Eddy Wirobumi. Pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan, mencerminkan hubungan sosial dan kultural yang menjadi bagian penting dalam keberadaan komunitas yang memiliki keterkaitan dengan tradisi keraton.
Dalam kesempatan tersebut, KPH Eddy Wirobumi memberikan penjelasan mengenai karakter kegiatan yang akan berlangsung. Menurutnya, rangkaian tersebut pada dasarnya merupakan acara keluarga dan adat, sehingga tidak diperlakukan seperti kegiatan publik yang lazimnya diselenggarakan dengan mekanisme undangan resmi.
“Acara kita ini sebenarnya adalah acara keluarga dan acara adat. Jadi, kami tidak mengeluarkan satu lembar pun undangan untuk orang lain,” ujar KPH Eddy Wirobumi.
Pernyataan tersebut memberikan penekanan bahwa kehadiran dalam kegiatan tersebut lebih tepat dipahami melalui perspektif hubungan kekeluargaan dan kedekatan kultural, bukan semata-mata berdasarkan status sebagai tamu undangan.
Dengan kata lain, bagi mereka yang merasa memiliki keterikatan dengan keluarga besar keraton, kehadiran dapat menjadi bentuk penghormatan sekaligus ekspresi solidaritas terhadap tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
KPH Eddy Wirobumi juga menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada 5 September 2026 memiliki hubungan dengan prosesi adat yang sebelumnya telah berlangsung pada 13 November 2025.
Menurut penjelasan tersebut, masih terdapat sejumlah prosesi adat yang pada pelaksanaan sebelumnya belum dapat diselesaikan. Karena itu, prosesi yang belum terlaksana tersebut kemudian dilanjutkan dalam rangkaian kegiatan pada September 2026.
Keterangan ini sekaligus menunjukkan bahwa prosesi adat keraton memiliki kesinambungan waktu dan tata urutan. Sebuah upacara tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan momentum pelaksanaannya, karena terdapat rangkaian simbolik dan tata adat yang saling berkaitan.
Sementara itu, KRT Kusnan Marzuki BudoyoNagoro menjelaskan bahwa kehadiran Senopati Mataram dari Surabaya tidak semata-mata dimaknai sebagai keikutsertaan dalam sebuah kegiatan seremonial. Lebih jauh, kehadiran tersebut merupakan bagian dari upaya memelihara hubungan persaudaraan dan silaturahmi.
“Kami di dalam serangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 5 September 2026 besok, selain bersilaturahmi juga merupakan bagian dari keluarga keraton,” kata KRT Kusnan.
Menurut KRT Kusnan, hubungan tersebut memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar pertemuan formal. Silaturahmi menjadi ruang sosial untuk saling mengenal, bertukar informasi, dan memperkuat komunikasi di antara pihak-pihak yang memiliki hubungan dengan lingkungan keluarga keraton.
“Bagi kami, kegiatan ini merupakan sarana untuk mempererat jalinan persaudaraan dan hubungan silaturahmi. Dengan adanya acara ini, kita bisa saling mengenal dan mengetahui terhadap sesama keluarga keraton,” ujarnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi keraton tidak hanya hidup melalui prosesi ritual, tetapi juga melalui hubungan sosial yang terus dipelihara oleh komunitas pendukungnya.
Keberlanjutan hubungan tersebut memiliki arti penting sebagai bagian dari proses pewarisan nilai dan identitas. Tradisi tidak semata-mata merupakan rangkaian seremoni, tetapi juga menjadi medium untuk menjaga ingatan kolektif, tata hubungan sosial, serta nilai-nilai kebudayaan yang berkembang dari generasi ke generasi.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Karena itu, kehadiran Senopati Mataram Kraton Surakarta Hadiningrat Surabaya dalam rangkaian kegiatan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk silaturahmi sekaligus partisipasi kultural dalam menjaga kesinambungan hubungan kekeluargaan di lingkungan tradisi Keraton Surakarta.
Kontributor : PC.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




