GKMI SOBAT Kota Batu Gelar Perayaan Natal Inklusif, Angkat Kearifan Lokal “Sedulur Papat Limo Pancer”
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) SOBAT Kota Batu menutup tahun 2025 dan menyambut 2026 dengan perayaan Natal yang unik, meriah, dan sarat makna. Acara yang digelar di Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, pada Kamis (25/12/2025) lalu, tidak hanya menjadi momentum syukur atas kelahiran Kristus, tetapi juga menjadi wujud nyata disabilitas, pelestarian budaya, dan kerja sama komunitas.
Yang membedakan perayaan ini adalah kolaborasi erat dengan komunitas peduli disabilitas, yakni Roro Jonggrang Production (RJP) dan Kalung Gusti Production. Kolaborasi ini mengangkat filosofi Jawa klasik, “Sedulur Papat Limo Pancer”, ke dalam sebuah drama modern yang mudah dicerna semua generasi. Tema ini menjadi benang merah perayaan, bukan sekadar hiasan, melainkan pesan spiritual yang diterapkan secara mendalam.

Melalui pertunjukan drama, konsep “Sedulur Papat Limo Pancer” yang kerap dimaknai sebagai empat saudara (angin, api, bumi, air) dan satu pusat (diri sejati/hati nurani) diubah menjadi narasi universal tentang pencarian jati diri. Drama tersebut menyampaikan pesan bahwa kesejatian hidup hanya bisa tercapai dengan melibatkan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang Maha Esa.
“Kesejatian hanya mungkin tercapai ketika kita melibatkan Tuhan dalam hidup dan menyerahkan sepenuhnya kehidupan kita kepada Nya yang ‘SEJATI’,” ujar Vera, Ketua Roro Jonggrang Production (RJP), mengungkapkan makna mendalam di balik tema Natal tersebut.
Vera menambahkan, keikutsertaan RJP yang aktif memberdayakan penyandang disabilitas di Kota Batu, memberikan dimensi lain pada perayaan. Ia berharap komunitasnya dapat terus menjadi berkat dan inspirasi, khususnya dalam mendampingi penyandang disabilitas yang memiliki minat pada seni tari, musik, dan desain kostum.
“Dengan adanya drama yang dilakukan kemarin, saya berharap RJP bisa terus menjadi berkat dan sumber inspirasi bagi banyak orang di luar sana. Terkait penyandang disabilitas, semoga RJP bisa terus mendampingi mereka yang punya minat di bidang seni,” jelas Vera.

Kehadiran Pembina dari Shining Disabilitas (Shindi) Kota Batu, Thomas Maydo, semakin menegaskan bahwa acara ini dirancang untuk semua kalangan tanpa terkecuali. Thomas memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya perayaan yang memadukan nilai iman, budaya, dan kepedulian sosial secara harmonis.
“Drama dengan tema ‘Sedulur Papat Limo Pancer’ yang dipenuhi kearifan lokal sukses diubah menjadi sebuah narasi universal tentang pencarian jati diri dan ketergantungan kepada Tuhan,” ujar Thomas Maydo.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Perayaan ini menciptakan dampak ganda yang signifikan. Di satu sisi, jemaat dapat merayakan Natal dengan penghayatan yang lebih dalam melalui konteks budaya lokal. Di sisi lain, dan mungkin yang lebih penting, komunitas disabilitas mendapatkan panggung yang setara untuk berkarya, berkontribusi, dan diakui perannya dalam membangun ekosistem seni dan budaya Kota Batu. Ini merupakan langkah nyata memutus stigma dan membangun ekosistem yang ramah bagi semua.
” Penampilan ini esensi dari Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga, berintikan ada keluarga yang mempunyai seorang anak prempuan yang salah pergaulan sehingga kejerumus ke hal- hal yang negatif,kemudian datang penyelamat dan dikembalikan kepada keluarganya, kemudian insyaf dan menjadi manusia yang sadar akan segala perbuatannya sehingga menjadi anak yang kembali baik. Maka disinilah Allah itu hadir untuk menyelamatkan keluarga.” Tambahnya Thomas.

Kerja sama tiga pilar GKMI SOBAT sebagai penyelenggara keagamaan, RJP sebagai komunitas seni disabilitas, dan Kalung Gusti Production, menunjukkan bahwa perayaan keagamaan dapat bertransformasi menjadi momen penguatan sosial-budaya yang inklusif. Acara ini membuktikan bahwa ritual keagamaan tidak harus tertutup dan kaku, tetapi dapat menjadi ruang terbuka untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan, pelestarian kearifan lokal, dan semangat kebersamaan.
Diharapkan, model perayaan seperti ini dapat menjadi inspirasi dan contoh bagi penyelenggaraan acara keagamaan lain di masa depan. Pendekatan yang kreatif, kontekstual terhadap budaya setempat, dan membuka partisipasi seluas-luasnya bagi berbagai kelompok masyarakat, membuat pesan damai Natal lebih menyentuh dan relevan dengan kehidupan nyata.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/umum/kpj-kelompok-penyanyi-jalanan-kota-batu-meriahkan-nala-festival-2025/
Perayaan Natal 2025 GKMI SOBAT Kota Batu menutup tahun dengan kesan mendalam. Acara ini berhasil merajut benang-benang yang sering terpisah spiritualitas, budaya, dan kesetaraan. Thomas Maydo menutup refleksinya dengan harapan untuk masa depan Kota Batu.
“Acara ini menutup tahun 2025 dengan pesan damai, dan membuka awal tahun 2026 dengan penuh harapan agar sinergi antar umat beragama, pemangku budaya, dan kelompok masyarakat dapat terus terjalin untuk membangun Kota Batu yang lebih inklusif dan berbudaya,” tutupnya.
Dengan demikian, perayaan ini tidak hanya sekadar seremoni akhir tahun. Ia adalah sebuah pernyataan bahwa dalam keberagaman dan perbedaan, terdapat kekuatan untuk menciptakan keindahan dan kedamaian, mencerminkan semangat Natal yang sesungguhnya: kasih, pengharapan, dan penerimaan bagi semua.
( Ria ).




