Selamatan Kelurahan Temas ke-172, Tradisi Leluhur yang Menguatkan Budaya dan Persatuan Warga Kota Batu
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Tradisi budaya yang telah diwariskan selama lebih dari satu abad kembali hidup di Kelurahan Temas, Kota Batu. Puncak rangkaian Selamatan Kelurahan Temas ke-172 berlangsung pada Selasa (7/7/2026) dengan menggelar kirab tumpeng yang diikuti ribuan warga dari 11 RW sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pelestarian kearifan lokal.
Kirab tumpeng menjadi agenda utama dalam puncak perayaan. Arak-arakan dimulai dari kawasan Emmanuel dan berakhir di Pendopo Kelurahan Temas. Setiap RW membawa tumpeng hasil bumi yang disiapkan secara gotong royong sebagai simbol kemakmuran, persaudaraan, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam kesempatan tersebut, sambutan Wali Kota Batu yang dibacakan oleh Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto,S.H., menyampaikan bahwa usia 172 tahun merupakan perjalanan panjang yang menunjukkan kuatnya nilai-nilai luhur masyarakat Temas dalam menjaga kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam.
Tema peringatan tahun ini, “Hormati Bumi, Kejarlah Langit”, dinilai sangat relevan dengan arah pembangunan Kota Batu yang berkelanjutan.
Menghormati bumi dimaknai sebagai komitmen menjaga sumber mata air, lahan pertanian, lingkungan hidup, serta seluruh warisan alam yang menjadi penopang kehidupan masyarakat. Sementara itu, mengejar langit diartikan sebagai semangat untuk terus belajar, berinovasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membangun kesejahteraan tanpa meninggalkan akar budaya.

Dalam sambutan tersebut juga ditegaskan bahwa kirab tumpeng bukan sekadar arak-arakan hasil bumi, melainkan ungkapan syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan nilai kebersamaan kepada generasi penerus.
Pemerintah Kota Batu memberikan apresiasi kepada seluruh warga Temas yang terus menjaga tradisi serta berhasil mempertahankan budaya gotong royong di tengah perkembangan perkotaan.


Lurah Temas, Aditya Fitrawan, S.E., M.S.A., menjelaskan bahwa Selamatan Kelurahan Temas merupakan tradisi tahunan yang seluruh pelaksanaannya digerakkan oleh masyarakat.
Menurutnya, rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak 28 Juni hingga 7 Juli 2026 dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah kelurahan, RT, RW, tokoh agama, tokoh adat, organisasi kemasyarakatan, hingga para donatur.
“Selamatan Desa ini menjadi ruang kebersamaan masyarakat Temas. Semua warga bergerak bersama, bergotong royong, dan saling mendukung agar tradisi ini tetap lestari,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah kirab tumpeng, masyarakat masih akan mengikuti puncak acara pada malam hari berupa pengajian umum, pagelaran wayang kulit, serta sedekah bumi dengan membagikan sekitar 2.000 porsi rawon daging kerbau kepada masyarakat. Sebanyak 1.000 porsi disiapkan khusus untuk malam hari, sementara sisanya telah dibagikan kepada peserta kirab.
Aditya juga menjelaskan bahwa tema “Hormati Bumi, Kejarlah Langit” merupakan gagasan Ketua Panitia, Edi Sunadi atau yang akrab disapa Pak Sokek.

Ditempat yang sama, Ketua LPMK, Edy Sunaedi menjelaskan bahwa tema tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menyeimbangkan aspek budaya dan spiritual. Nilai “Hormati Bumi” diwujudkan melalui tradisi Mendak Tirto, yaitu pengumpulan air dari berbagai sumber mata air di setiap RW untuk disatukan sebagai simbol persatuan.
Air tersebut kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat sebagai bagian dari prosesi memasak tumpeng dan hidangan selamatan. Selain itu, masyarakat juga melaksanakan napak tilas ke situs-situs leluhur, termasuk Punden Mbah Bener, sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan asal-usul wilayah Temas.


Sementara nilai “Kejarlah Langit” diwujudkan melalui berbagai kegiatan keagamaan seperti khataman Al-Qur’an, Lailatul Ijtima, Narian, hingga pengajian umum yang menjadi bagian penting dari rangkaian selamatan.
Sebagai salah satu kelurahan terbesar di Kota Batu dengan sekitar 18.600 jiwa, Kelurahan Temas yang terdiri atas 11 RW dan 68 RT dinilai masih mampu mempertahankan karakter budaya pedesaannya meskipun berada di kawasan perkotaan.
Antusiasme masyarakat terlihat dari keterlibatan seluruh RT, organisasi kepemudaan, PKK, Linmas, kelompok pemuda adat, hingga para pedagang pasar yang turut membawa tumpeng sebagai simbol kebersamaan.

Ketua Komisi C DPRD Kota Batu, Dewi Kartika, mengapresiasi konsistensi masyarakat Temas dalam melestarikan tradisi Metri Desa atau Selamatan Desa yang menurutnya menjadi salah satu identitas budaya Kota Batu.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Ia berharap tradisi tersebut terus dipertahankan karena tidak hanya memperkuat semangat gotong royong, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya.

“Tradisi ini merupakan kekayaan budaya yang harus terus dihidupkan. Menjaga budaya membutuhkan komitmen, tenaga, waktu, dan dukungan bersama. Dengan demikian, Selamatan Desa Temas akan tetap menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang sekaligus memperkuat identitas Kota Batu sebagai kota yang mampu memadukan kemajuan dengan pelestarian budaya lokal,” tuturnya.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




