Menyemai Makna Kebersamaan di Balik Tradisi Njenang dan Adang Ketan Merti Bumi Tulungrejo
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah hiruk-pikuk modernisasi yang kian meredefinisi lanskap sosial budaya, masyarakat Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, justru menunjukkan keteguhan dalam memelihara akar tradisi. Pada pagi hari yang penuh khidmat, Selasa, 30 Juli 2026, berlangsung prosesi Njenang dan Adang Ketan sebagai bagian dari rangkaian perayaan satu abad Merti Bumi desa yang terletak di lereng Gunung Arjuna tersebut .
Kegiatan yang berpusat di halaman Kantor Desa Tulungrejo ini bukan sekadar acara seremonial tahunan. Lebih dari itu, ia merupakan manifestasi nyata dari filosofi guyub rukun dan sebuah konsep kohesi sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat di wilayah ini. Perayaan satu abad desa dengan tema “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti” mengisyaratkan sebuah kesadaran kolektif akan keluhuran rasa dan keagungan kehendak Tuhan, yang dijaga dan diwariskan lintas generasi .

Prosesi Njenang dan Adang Ketan yang berlangsung pada hari Selasa ini merupakan salah satu dari rangkaian Merti Bumi yang telah dimulai sejak pekan sebelumnya. Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan kewajiban sakral yang harus dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus doa bersama agar desa dan warganya senantiasa diberi kemakmuran, keberkahan, dan keselamatan . “Diharapkan sebagai sarana guyub rukun dan gotong royong yang merupakan identitas kami di Desa Tulungrejo. ” ujarnya, menekankan esensi kebersamaan yang menjadi inti dari seluruh prosesi.

Keunikan tradisi ini terletak pada proses pembuatan Njenang itu sendiri. Tidak seperti memasak pada umumnya, pembuatan Njenang melibatkan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat. Mereka bergiliran mengaduk adonan berbahan baku beras ketan dan tepung ketan dalam wajan atau bejana besar di atas api kayu bakar, hingga matang dan berwarna kecoklatan . Metode memasak komunal ini bukanlah tanpa makna; ia adalah simbol konkret dari kerja sama dan gotong royong. “Acara ini diadakan pada setiap tahunnya pada acara selamatan desa,” tambah Eka selaku ketua pelaksana.

Ketua pelaksana, Eka, merinci bahwa proses memasak jenang tidak akan pernah matang sempurna tanpa sentuhan dan partisipasi dari banyak pihak, sebuah metafora bahwa kemajuan desa tidak akan tercapai tanpa adanya rasa saling tolong-menolong dan bekerja sama antara satu warga dengan lainnya . Dalam kesempatan tersebut, tampak pula kehadiran Bhabinkamtibmas Polres Batu yang turut serta membantu proses pengadukan, menunjukkan bahwa sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat senantiasa terjalin erat.

Prosesi Njenang dan Adang Ketan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang Selamatan Desa. Dimulai dari Atur Pisungsung yang mengumpulkan hasil bumi dari setiap dusun, hingga kirim doa untuk leluhur di punden-punden.
Menarik untuk dicermati bahwa tradisi ini bukan sekadar nostalgia masa lalu. Dalam konteks kekinian, Merti Bumi Tulungrejo telah menjadi perekat sosial yang efektif di tengah gempuran budaya individualistis. Presensi Wali Kota Batu, Nurochman, dalam prosesi serupa beberapa hari sebelumnya menegaskan pentingnya tradisi ini sebagai “tameng” untuk membentengi generasi penerus dari dampak negatif perkembangan zaman .
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan mengaduk Njenang secara bergantian, masyarakat Desa Tulungrejo tidak hanya menyiapkan hidangan adat, tetapi juga mengaduk kembali nilai-nilai luhur yang membuat komunitas mereka tetap harmonis, kuat, dan berketahanan budaya hingga usia satu abad.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




