Bersih Dusun Caru 2026 Tradisi Leluhur yang Satukan Warga Desa Pendem Kota Batu

Bersih Dusun Caru Jadi Ruang Pelestarian Budaya dan Penguatan Persatuan Warga di Desa Pendem

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Tradisi Bersih Dusun Caru kembali digelar dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan di Dusun Caru, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. 18 Juli 2026. Memasuki penyelenggaraan yang ketiga, kegiatan ini tidak sekadar menjadi ritual budaya tahunan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas lokal, mempererat solidaritas sosial, serta menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda agar tetap menghargai warisan budaya leluhur.

Kegiatan yang diikuti sekitar 170 peserta tersebut melibatkan seluruh unsur masyarakat, mulai dari perangkat dusun, Ketua RT, Ketua RW, tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok seni, hingga warga dari berbagai kalangan. Dusun Caru sendiri terdiri atas tiga RW dan tiga belas RT yang seluruhnya berpartisipasi dalam menyukseskan rangkaian kegiatan.

Kepala Dusun Caru ketika bersama istri mengikuti rangkaian kirab budaya bersih Dusun.
Kepala Dusun Caru ketika bersama istri mengikuti rangkaian kirab budaya bersih Dusun.

Kepala Dusun Caru,Sukamto Catur Setiawan  menjelaskan bahwa penyelenggaraan Bersih Dusun merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur yang pertama kali membuka kawasan atau buka rawang di wilayah tersebut. Menurutnya, tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya uri-uri budaya Jawa agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

“Harapan kami, kegiatan ini dapat menjadi agenda rutin tahunan sekaligus menjadi media untuk mempererat persaudaraan seluruh masyarakat. Ketika mengikuti selamatan dusun, tidak ada lagi perbedaan status sosial. Semua duduk bersama sebagai satu keluarga besar Dusun Caru,” ujarnya.

Tampak jajaran RT/RW beserta pengurus dengan antusias mengikuti kegiatan bersih Dusun.
Tampak jajaran RT/RW beserta pengurus dengan antusias mengikuti kegiatan bersih Dusun.

Semangat kebersamaan tersebut tercermin dalam konsep acara yang mengedepankan kesederhanaan dan gotong royong. Tidak disediakan panggung khusus bagi pejabat maupun tokoh masyarakat. Seluruh warga menikmati hidangan tumpeng secara bersama-sama sebagai simbol kesetaraan, kebersamaan, dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Rangkaian kegiatan berlangsung selama beberapa hari. Prosesi sakral sebagai inti pelaksanaan telah digelar bertepatan dengan 17 Suro atau 2 Juni lalu. Sementara puncak acara diisi dengan kirab tumpeng dan pawai budaya yang menampilkan kesenian tradisional Sanduk dan Bantengan, dua kesenian khas yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Dusun Caru.

Tampak juga PKK Dusun Caru juga turut serta dalam bersih Dusun.
Tampak juga PKK Dusun Caru juga turut serta dalam bersih Dusun.

Kirab budaya tersebut menempuh rute kurang dari satu kilometer mengelilingi wilayah dusun. Awalnya panitia berencana melintasi seluruh lingkungan RT, namun mempertimbangkan kelancaran arus lalu lintas di jalan provinsi serta aspek perizinan, rute akhirnya disesuaikan agar tidak menimbulkan kemacetan, terutama karena pelaksanaan berlangsung pada akhir pekan.

Untuk diketahui, Kepala Dusun Caru, Iwan, turut berjalan kaki bersama seluruh jajaran Ketua RT, Ketua RW, ibu-ibu PKK, serta ratusan warga sejak titik awal hingga garis akhir kirab budaya dengan menempuh jarak sekitar satu kilometer. Kehadiran Kepala Dusun yang membaur di tengah masyarakat tanpa perlakuan khusus menjadi simbol kepemimpinan yang dekat dengan rakyat. Kebersamaan tersebut mencerminkan semangat guyub rukun, gotong royong, dan kesetaraan sosial yang menjadi nilai utama dalam penyelenggaraan Bersih Dusun Caru. Tidak tampak adanya sekat antara perangkat dusun dan masyarakat. Seluruh peserta berjalan berdampingan sebagai satu keluarga besar yang memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga tradisi, memperkuat persaudaraan, serta melestarikan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhur.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/karnaval-budaya-desa-pendem-lestarikan-adat-kuatkan-kebersamaan/

Setelah kirab berakhir di kawasan RW 05, masyarakat disuguhkan berbagai pertunjukan seni tradisional hingga menjelang waktu Magrib. Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian bersama sebagai penutup rangkaian Bersih Dusun.

Sebagai warga masyarakat dan juga sebagai tokoh masyarakat, ketika di kegiatan Bersih Dusun Caru 2026.
Sebagai warga masyarakat dan juga sebagai tokoh masyarakat, ketika di kegiatan Bersih Dusun Caru 2026.

Salah seorang warga RW 05, yang juga sebagai tokoh masyarakat Heru Joko Purwanto, mengatakan bahwa tradisi Bersih Dusun merupakan agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat. Menurutnya, meskipun karnaval besar tingkat Desa Pendem hanya diselenggarakan dua tahun sekali pada bulan Suro, setiap dusun tetap memiliki komitmen menjaga tradisi melalui penyelenggaraan Bersih Dusun.

“Bersih Dusun adalah warisan leluhur yang wajib kita lestarikan. Melalui kegiatan ini kita berdoa agar masyarakat diberikan keselamatan, kemakmuran, serta dijauhkan dari segala bentuk bencana dan musibah,” ungkapnya.

Tampak kesenian Spanduk dan Bantengan ikut memeriahkan bersih Dusun.
Tampak kesenian Spanduk dan Bantengan ikut memeriahkan bersih Dusun.

 

Ia menambahkan, pengajian malam menjadi momentum penting karena selain memperkuat nilai-nilai keagamaan, masyarakat juga memperoleh pemahaman mengenai sejarah Dusun Caru. Dalam kegiatan tersebut, panitia menghadirkan ustaz lokal yang menjelaskan perjalanan sejarah dusun, serta seorang ustaz asal Caru yang kini menetap di Malang untuk menyampaikan tausiah keagamaan.

Menurut Heru, penyelenggaraan tahun ini memiliki nilai lebih dibanding tahun-tahun sebelumnya karena menghadirkan Kerap Gelaran atau pawai budaya yang menampilkan potensi seni lokal. Kesenian Bantengan dan Sanduk dipilih sebagai representasi identitas budaya masyarakat yang selama ini menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat di Desa Pendem.

Lebih dari sekadar hiburan, filosofi tumpeng yang diarak juga mengandung makna mendalam sebagai lambang rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus doa agar kehidupan masyarakat semakin sejahtera. Prosesi pemotongan tumpeng dimaknai sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan dari berbagai hal yang dapat menghambat terciptanya kehidupan yang harmonis.

Tampak kesenian Sanduk dengan antusias mengikuti bersih dusun.
Tampak kesenian Sanduk dengan antusias mengikuti bersih dusun.

Seluruh rangkaian kegiatan terselenggara berkat partisipasi swadaya masyarakat. Warga secara sukarela menyumbangkan tenaga, pikiran, hingga biaya pelaksanaan sebagai wujud nyata semangat gotong royong yang masih terpelihara kuat di Dusun Caru.

Selain melestarikan budaya, forum kebersamaan tersebut juga dimanfaatkan sebagai media edukasi sosial. Pada sesi pengajian malam, para tokoh masyarakat menyampaikan berbagai pesan kemasyarakatan, termasuk pentingnya menjaga persatuan, memperkuat karakter generasi muda, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya penyalahgunaan narkoba yang dapat mengancam masa depan masyarakat.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Melalui perpaduan antara tradisi budaya, nilai spiritual, semangat gotong royong, serta kepemimpinan yang membaur bersama masyarakat, Bersih Dusun Caru tidak hanya menjadi perayaan adat tahunan, tetapi juga menjadi ruang pendidikan sosial yang memperkuat karakter masyarakat, menjaga warisan budaya, mempererat persaudaraan, dan menumbuhkan optimisme menuju kehidupan desa yang semakin harmonis, aman, serta sejahtera.

 

Penulis : Riadi. 

Editor   : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *