Tasyakuran Bersih Dusun Caru 2026 Kepala Dusun Ajak Warga Lestarikan Sejarah dan Budaya Lokal

Tasyakuran dan Doa Bersama Bersih Dusun Caru 2026 Perkuat Spiritualitas, Gotong Royong, dan Pelestarian Sejarah Lokal

Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat kebersamaan, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta komitmen melestarikan sejarah dan budaya lokal mewarnai pelaksanaan Tasyakuran dan Doa Bersama dalam rangka Bersih Dusun Caru 2026 yang digelar di Dusun Caru, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sabtu (18/7/2026) malam.

Kegiatan yang telah memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya tersebut dihadiri Kepala Desa Pendem Tri Wahyuwono Efendi, Kepala Dusun Caru Iwan, tokoh agama, tokoh masyarakat, jajaran perangkat desa, Ketua RT dan RW, Babinkamtibmas, Linmas, serta ratusan warga yang memenuhi lokasi acara dengan penuh khidmat.

Ketua panitia ketika melaporkan rangkaian kegiatanya.
Ketua panitia ketika melaporkan rangkaian kegiatanya.

Ketua Panitia, Ahmad Budi Susanto, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan sekaligus mengapresiasi seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, baik berupa tenaga, pikiran, maupun bantuan material.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan acara merupakan hasil kolaborasi seluruh elemen masyarakat Dusun Caru. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam menjaga persatuan dan membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Tampak antusias warga masyarakat ketika mengikuti serangkaian kegiatan tasyakuran serta doa bersama.
Tampak antusias warga masyarakat ketika mengikuti serangkaian kegiatan tasyakuran serta doa bersama.

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur, panitia, serta masyarakat yang telah bekerja keras sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik. Semoga seluruh kebaikan tersebut mendapatkan balasan keberkahan dari Allah SWT,” ujar Budi Susanto.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan serta berharap tradisi tersebut dapat terus dilestarikan pada tahun-tahun mendatang.

Kepala Dusun Caru, ketika memberikan sambutan sambutanya.
Kepala Dusun Caru, ketika memberikan sambutan sambutanya.

Sementara itu, Kepala Dusun Caru, Iwan, menekankan bahwa kegiatan Bersih Dusun bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum memperkuat identitas masyarakat melalui pelestarian sejarah, budaya, dan nilai-nilai spiritual.

Menurutnya, tradisi Bersih Dusun Caru baru mulai dibangun dalam tiga tahun terakhir sebagai ikhtiar menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap asal-usul dusun yang selama ini belum banyak diketahui generasi muda.

Tampak juga jamaah ibu -ibu juga turut serta dalam acara tasyakuran.
Tampak juga jamaah ibu -ibu juga turut serta dalam acara tasyakuran

Ia menjelaskan bahwa berdasarkan penelusuran sementara yang dilakukan bersama tim, tokoh yang diyakini sebagai pembabat alas Dusun Caru adalah Mbah Delar, sosok yang dipercaya sebagai perintis permukiman sekaligus penyebar ajaran Islam di wilayah tersebut.

Meski berbagai bukti sejarah masih terus ditelusuri, Iwan menilai upaya pendokumentasian sejarah lokal menjadi langkah penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang utuh mengenai jati diri daerahnya.

Tampak secara bersama sama menikmati tumpeng keberkahan.
Tampak secara bersama sama menikmati tumpeng keberkahan.

Selain mengulas sosok Mbah Delar, ia juga memaparkan asal-usul nama “Caru” yang menurut hasil kajian sementara berasal dari kata Caharu atau Chaharum, yang dimaknai sebagai keindahan maupun sesaji. Seiring perkembangan bahasa masyarakat, penyebutan tersebut kemudian berubah menjadi “Caru”.

“Kami membentuk tim khusus untuk terus menggali sejarah Dusun Caru melalui berbagai pendekatan agar nantinya dapat disusun menjadi sebuah buku sejarah yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Tampak juga Kepala Desa, Ustad dan tokoh masyarakat prosesi pemotongan tumpeng sebagai tanda ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang maha Esa.
Tampak juga Kepala Desa, Ustad dan tokoh masyarakat prosesi pemotongan tumpeng sebagai tanda ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang maha Esa.

Iwan berharap kegiatan Bersih Dusun dapat menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan tempat tinggalnya.

Ia juga mengajak seluruh warga untuk senantiasa meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT serta menjaga persatuan, sehingga pembangunan dusun dapat berjalan beriringan dengan kemajuan sektor pertanian, perdagangan, maupun kehidupan sosial masyarakat.

Kepala Desa Pendem ketika memberikan apresiasinya.
Kepala Desa Pendem ketika memberikan apresiasinya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Pendem, Tri Wahyuwono Efendi, memberikan apresiasi atas kekompakan masyarakat Dusun Caru yang mampu menyelenggarakan kegiatan besar hanya dalam waktu persiapan sekitar enam hari.

Menurutnya, keberhasilan tersebut mencerminkan kuatnya koordinasi, solidaritas, dan budaya gotong royong yang masih terpelihara dengan baik di tengah masyarakat.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/karnaval-budaya-desa-pendem-lestarikan-adat-kuatkan-kebersamaan/

Ia menegaskan bahwa tradisi Bersih Dusun memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding sekadar pelaksanaan ritual tahunan. Tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka dan membangun wilayah Dusun Caru.

Tri Wahyuwono juga menilai bahwa upaya penyusunan sejarah dusun perlu terus dilakukan secara ilmiah agar dapat menjadi referensi yang akurat bagi generasi mendatang.

Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan kajian Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), wilayah Desa Pendem memiliki potensi warisan budaya berupa situs-situs purbakala yang layak dijaga sebagai bagian dari identitas daerah.

Rangkaian diisi oleh ustad guna pencerahan rohani.
Rangkaian diisi oleh ustad guna pencerahan rohani.

“Kita memiliki tanggung jawab bersama untuk merawat sejarah, budaya, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Dengan begitu, anak cucu kita kelak tetap mengenal akar sejarahnya,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Kepala Desa Pendem mengajak seluruh masyarakat terus memperkuat kebersamaan, menjaga kerukunan, serta mempertahankan semangat gotong royong yang selama ini menjadi kekuatan utama pembangunan desa.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Pelaksanaan Tasyakuran dan Doa Bersama Bersih Dusun Caru 2026 menjadi gambaran nyata bahwa pelestarian tradisi tidak hanya berfungsi menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi media mempererat hubungan sosial, memperkuat spiritualitas masyarakat, serta menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga sejarah lokal sebagai fondasi pembangunan yang berkelanjutan.

 

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

 

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *