Desa Mojorejo Kota Batu Gelar Selamatan Desa 2026, Tradisi, Toleransi, dan Gotong Royong Bersatu

Desa Mojorejo Rawat Tradisi Selamatan Desa sebagai Fondasi Kerukunan, Pelestarian Budaya, dan Pembangunan Berkelanjutan

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Pemerintah Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, kembali meneguhkan komitmennya dalam merawat identitas budaya sekaligus memperkuat harmoni sosial melalui penyelenggaraan Selamatan Desa yang berlangsung pada 1–2 Juli 2026. Tradisi tahunan tersebut tidak hanya menjadi ekspresi rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga menjadi ruang refleksi kolektif untuk mengevaluasi perjalanan pembangunan desa sekaligus memperkokoh semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan masa depan.

Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, Desa Mojorejo menunjukkan bahwa pelestarian tradisi lokal dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan pembangunan yang inklusif. Selamatan Desa diposisikan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sebagai instrumen sosial yang memperkuat kohesi masyarakat sekaligus menjaga kesinambungan warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Kepala Desa Mojorejo bersama Ketua TP PKK Desa Mojorejo ketika di podium.
Kepala Desa Mojorejo bersama Ketua TP PKK Desa Mojorejo ketika di podium.

Pelaksanaan kegiatan melibatkan partisipasi luas masyarakat dari delapan Rukun Warga (RW) yang terbagi ke dalam 35 kontingen. Seluruh elemen masyarakat, mulai dari para sesepuh, tokoh agama, pemuda, remaja, hingga anak-anak, berpartisipasi aktif dalam berbagai rangkaian kegiatan. Semangat gotong royong tampak nyata melalui kerja bakti membersihkan lingkungan, penataan kawasan permukiman, hingga pemasangan berbagai ornamen tradisional seperti umbul-umbul dan janur yang memperkuat nuansa budaya Jawa di setiap sudut desa.

Kepala Desa Mojorejo, Rujito, menjelaskan bahwa Selamatan Desa memiliki makna filosofis yang sangat mendalam. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan momentum bagi seluruh masyarakat untuk melakukan introspeksi terhadap perjalanan desa selama satu tahun terakhir sekaligus memanjatkan doa agar kehidupan masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, dan kemajuan.

Tampilan pertama dengan membawa bendera merah putih.
Tampilan pertama dengan membawa bendera merah putih.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Pemerintah Desa Mojorejo mengangkat tema “Cakra Manggala Desa Mulat Sarira Mangun Praja”, sebuah falsafah yang mengandung ajakan kepada seluruh masyarakat agar senantiasa melakukan evaluasi diri, memperkuat rasa syukur, meningkatkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta membangun desa melalui partisipasi aktif seluruh warga.

“Kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat sekaligus momentum untuk melakukan introspeksi. Kami percaya bahwa tantangan sebesar apa pun akan menjadi lebih ringan apabila seluruh masyarakat bergandengan tangan dalam semangat gotong royong,” ujar Rujito, Sabtu (11/7/2026).

Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus dalam pelaksanaan Selamatan Desa tahun ini adalah penyelenggaraan doa lintas agama. Pemerintah Desa Mojorejo mengundang tokoh dan umat dari berbagai latar belakang keagamaan, termasuk Islam, Kristen, serta komunitas Budaya Lokal, untuk bersama-sama memanjatkan doa demi terciptanya keamanan, ketenteraman, dan kesejahteraan masyarakat.

Tampak Ketua TP PKK Desa Mojorejo turun podium mengikuti gerakan membaur kedalam peserta pawai budaya.
Tampak Ketua TP PKK Desa Mojorejo turun podium mengikuti gerakan membaur kedalam peserta pawai budaya.

Praktik tersebut menjadi representasi nyata implementasi nilai-nilai Pancasila, khususnya penghormatan terhadap keberagaman dan semangat persatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Kehadiran seluruh elemen masyarakat dalam satu ruang kebersamaan menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk membangun solidaritas sosial yang kuat.

Camat Junrejo, Parman, memberikan apresiasi atas kehidupan sosial masyarakat Mojorejo yang dinilainya mampu menjadi contoh harmonisasi antarumat beragama di Kota Batu. Menurutnya, keberagaman yang terpelihara dengan baik merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam mendukung percepatan pembangunan desa.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/ribuan-warga-semarakkan-selamatan-kelurahan-temas-ke-172-tradisi-budaya-tetap-lestari-di-kota-batu/

Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak semata diukur melalui pembangunan fisik, tetapi juga ditentukan oleh kualitas hubungan sosial yang harmonis di tengah masyarakat. Ketika rasa saling menghormati, gotong royong, dan kepedulian sosial tumbuh dengan baik, maka berbagai program pembangunan akan lebih mudah diwujudkan secara berkelanjutan.

“Mojorejo dikenal sebagai desa yang masyarakatnya hidup berdampingan secara damai. Kehidupan beragama berlangsung aman dan nyaman. Kebersamaan seperti ini merupakan warisan budaya luhur yang harus terus dijaga agar pembangunan desa berlangsung dalam suasana yang kondusif,” ungkap Parman.

Tampak dengan antusias anak usia dini memainkan musik Jawa mengikuti pawai budaya.
Tampak dengan antusias anak usia dini memainkan musik Jawa mengikuti pawai budaya.

Selain menggelar rangkaian kegiatan budaya, Pemerintah Desa Mojorejo juga tengah berupaya memperkuat identitas historis desa melalui penelusuran sejarah yang lebih komprehensif. Hingga kini, usia maupun hari jadi Desa Mojorejo belum dapat ditetapkan secara resmi karena masih memerlukan kajian akademik yang mendalam.

Salah satu referensi yang tengah dikaji adalah keterkaitan wilayah Mojorejo dengan Prasasti Sangguran. Namun demikian, pemerintah desa memilih bersikap hati-hati karena cakupan wilayah prasasti tersebut juga meliputi beberapa kawasan lain di sekitar Mojorejo sehingga memerlukan penelitian ilmiah yang lebih komprehensif sebelum dijadikan dasar penetapan sejarah desa.

“Kami masih terus menelusuri berbagai sumber sejarah agar asal-usul Desa Mojorejo dapat dipastikan secara ilmiah. Harapannya, sejarah tersebut dapat menjadi identitas yang kuat sekaligus menjadi warisan pengetahuan bagi generasi mendatang,” tutur Rujito.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Melalui penyelenggaraan Selamatan Desa, Mojorejo memperlihatkan bahwa pelestarian tradisi bukan hanya bertujuan menjaga nilai-nilai budaya, tetapi juga menjadi strategi memperkuat persatuan, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta membangun karakter desa yang berdaya saing. Semangat guyub rukun yang terus dipelihara menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berakar kuat pada kearifan lokal, sehingga Desa Mojorejo mampu menjadi contoh bagaimana budaya, toleransi, dan pembangunan dapat berjalan beriringan demi kemajuan bersama.

 

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup