Dari Zaman Kolonial, Kuda Lumping Dor Warisan Budaya Batu yang Tak Lekang Waktu

Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S. Sos,. Ketika bersama generasi penerus Jaran Dor Asli Kota Batu. ( Foto : Ilustrasi nuansa tempo dulu )

Sejarah Kuda Lumping Dor di Kota Batu, Berdiri Sejak 1910 dan Tetap Lestari

Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Kesenian tradisional Kuda Lumping Dor di Dusun Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, memiliki sejarah panjang yang telah dimulai sejak tahun 1910. Kesenian ini dirintis oleh tokoh lokal bernama Ahmad Karim Singo Dimejo dan hingga kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Berawal dari Pelarian Kerja Paksa Zaman Kolonial

Menurut Pariono Singo Dimejo (71), cucu dari sang perintis yang kini menjadi sesepuh sekaligus pemangku adat, awal mula Kuda Lumping Dor tidak lepas dari kisah perjuangan hidup kakeknya.

” Kakek Ahmad Karim waktu itu melarikan diri dari Sulawesi untuk menghindari kerja paksa (rodi) pada masa penjajahan Hindia Belanda. Dalam perjalanan menuju Batu, ia bertahan hidup dengan cara sederhana, yakni membuat anyaman bambu berbentuk kuda yang kemudian digunakan untuk mengamen. Dari aktivitas tersebut, ia mulai dikenal masyarakat hingga akhirnya menetap di Batu dan mendirikan kesenian yang kemudian diberi nama Turonggo Kubro Sejati.” Jelas Pariono ke awak media ( 11/04/2026 ). 

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/pendidikan/sangtibas-februari-fest-2026-karnaval-budaya-dan-cinta-lingkungan-meriahkan-hut-ke-182-kongregasi-pij-di-batu/

https://pendidikannasional.id/seni-budaya/musrenbang-kecamatan-bumiaji-berubah-jadi-panggung-budaya-labuni-dan-sanduk-mbatu-aji-pukau-hadirin/

Makna Nama Turonggo Kubro Sejati

Nama Turonggo Kubro Sejati memiliki makna historis dan spiritual. Pariono menjelaskan bahwa nama tersebut terinspirasi dari tokoh spiritual Syeh Jumadil Kubro yang diyakini memiliki kaitan dengan asal-usul wilayah setempat.

Selain itu, dahulu terdapat pohon jati besar yang menjadi penanda atau simbol penting di wilayah tersebut, sehingga memperkuat identitas kesenian ini sebagai bagian dari sejarah lokal.

Filosofi Mendalam di Balik Kuda Lumping Dor

Kesenian Kuda Lumping Dor tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarat makna kehidupan.

Bambu (Dheling)

Melambangkan keberanian (kendhel) dan kesadaran (eling), yang berarti manusia harus berani namun tetap ingat kepada Tuhan.

Bentuk Kuda (Turonggo)

Menggambarkan nafsu atau dorongan dalam diri manusia yang harus mampu dikendalikan.

Ornamen Ijuk Aren

Memiliki nilai simbolis dan spiritual yang dijaga secara turun-temurun oleh pelaku seni.

Iringan Musik Tradisional yang Khas

Dalam setiap pertunjukan, Kuda Lumping Dor diiringi alat musik tradisional seperti: Kendang sebagai pengatur ritme, Kenthung untuk membangun suasana, Jidor sebagai penanda perubahan dalam pertunjukan. Kombinasi alat musik ini menciptakan nuansa khas yang memperkuat daya tarik pertunjukan.

Ritual Adat di Lingga Yoni Songgoriti Awali Pembongkaran Bangunan, Dijadikan Cagar Budaya

Dari Panggung Jalanan Hingga Era Modern

Pada masa awal, pertunjukan Kuda Lumping Dor biasanya digelar di tempat terbuka seperti pertigaan atau perempatan jalan di setiap dusun. Para pemain mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan ikat pinggang dari sarung dan peci, menciptakan kesan sakral dan sederhana. Kini, meski zaman telah berubah dan budaya digital semakin berkembang, kesenian ini tetap eksis dan menjadi identitas budaya masyarakat Dusun Kungkuk.

Dukungan Pemerintah untuk Pelestarian

Camat Bumiaji, Thomas Maydo, turut memberikan perhatian terhadap pelestarian kesenian ini. Saat berkunjung ke kediaman Pariono, ia menyampaikan dukungan agar kegiatan latihan tetap berjalan.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyediakan pendopo kecamatan sebagai tempat latihan, sehingga generasi muda tetap dapat belajar dan melestarikan budaya lokal.

” Tempat kami pendopo kecamatan, bisa untuk dipergunakan sebagai latihan dari kesenian bapak, dikarenakan tempatnya yang strategis sehingga bisa banyak diketahui oleh wisatawan yang lewat ketika berkunjung ke wilayah Kecamatan Bumiaji.” ungkapnya Thomas Maydo.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Warisan Budaya yang Tak Lekang oleh Zaman

Kuda Lumping Dor Turonggo Kubro Sejati bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol perjuangan, spiritualitas, dan identitas budaya masyarakat Kota Batu.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan kesenian ini menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan leluhur agar tidak hilang ditelan zaman.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

Array
Related posts
Tutup
Tutup