Analisis Estetika dan Dakwah di Gema Takbir dan Festival Lampion 2026 Desa Sumberjo sebagai Ruang Ekspresi Budaya Religius
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID — Gemuruh takbir yang menggema di malam hari disertai gemerlap lampion menciptakan harmoni khas dalam menyambut datangnya Idul Fitri 1447 Hijriah di Desa Sumberjo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Pada Jumat malam, 20 Maret 2026, event tahunan Gema Takbir dan Festival Lampion kembali digelar, tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi menjelma menjadi medium pelestarian tradisi yang memadukan nilai-nilai religi, seni, dan kearifan lokal.
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 12 peserta ini dibuka secara resmi oleh Wali Kota Batu, yang didampingi oleh Ketua TP PKK Kota Batu, Kepala Desa Sumberjo, Sekretaris Desa, serta Ketua Panitia. Kehadiran para pemangku kebijakan tersebut menjadi simbol penguatan sinergitas antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga denyut tradisi yang membangun kohesi sosial berbasis gotong royong.

Dalam acara tersebut,panitia pelaksana menghadirkan dewan juri yang kompeten di bidangnya yaitu antara lain Fitri, Yusfianto, dan Yudi, yang berasal dari Desa Sidomulyo. Kehadiran juri eksternal ini menjadi upaya objektifikasi penilaian sekaligus wujud kolaborasi antardesa dalam mengembangkan kapasitas sumber daya manusia di bidang seni budaya.
Dari sisi metodologi penjurian, terdapat beberapa aspek utama yang menjadi instrumen evaluasi. Untuk kategori Gema Takbir, kriteria yang dinilai meliputi vokal, busana, komposisi musik, balance atau keseimbangan harmonisasi, serta performa secara keseluruhan. Sementara untuk Festival Lampion, parameter penilaian difokuskan pada keunikan desain, tingkat kesulitan teknis pembuatan, serta kekompakan tim dalam menyajikan koreografi.

Fitri, selaku juri untuk kategori vokal dan komposisi musik, menekankan bahwa substansi dakwah harus menjadi fondasi utama dalam setiap penampilan. Ia menggarisbawahi bahwa Gema Takbir tidak boleh direduksi menjadi sekadar teriakan ritmis, melainkan harus dikemas sebagai medium penyampaian pesan keagamaan yang dapat dihayati oleh masyarakat.
“Musik dan vokal, apabila mempertimbangkan betul komposisinya, maka mereka berhasil mencuri perhatianku, terutama dalam warna vokal yang dipilih. Dinamika sangat diperlukan. Memilih vokalis tidak hanya asal bisa bernyanyi saja, demikian pula di materi musiknya,” ujar Fitri dalam sesi wawancara pasca acara.

Fitri memberikan catatan kritis sekaligus rekomendasi konstruktif bagi peserta ke depannya. Ia menyoroti pentingnya eksplorasi kolaborasi vokal yang lebih variatif, misalnya dengan melakukan lead vocal secara bergantian antara suara dewasa dan anak-anak untuk menciptakan dinamika yang kaya. Menurutnya, teknik tersebut dapat membangun narasi emosional yang kuat, di mana setelah lead vocal masuk, baru seluruh peserta membawakan lantunan takbir secara bersama-sama.
Bahrullazi IWOI Natuna Buka Hati Lebar-lebar di Hari Kemenangan 1447 H, Mari Bangun Natuna
“Kedepan diharapkan lebih peka terhadap siapa vokalis yang akan membawakan gema takbir. Misal lead vokal dilantunkan bergantian, warna suara dewasa, lalu anak-anak. Di situ ada kolaborasi yang sangat menarik. Pada acara kali ini belum ada yang pakai materi itu. Demikian pula musiknya, bagaimana caranya agar control emotions benar-benar dipertimbangkan agar tidak terkesan monoton,” imbuhnya.

Senada dengan itu, Yusfianto yang menangani penilaian lampion menambahkan bahwa selain keunikan visual, tingkat kesulitan teknis dalam pembuatan lampion menjadi variabel penting yang berpengaruh terhadap nilai akhir. Sementara Yudi, yang mengamati aspek performa dan outfit, menekankan pentingnya kekompakan dan karakter dalam menciptakan koreografi yang mendukung tujuan dakwah.
“Lebih spesifik ke keunikan juga, dan kekompakan dalam menciptakan koreo. Iya, supaya tujuan dakwahnya sampai, jadi lebih ke arah penghayatan sih, berkarakter juga,” tegas Fitri.

Setiap peserta diberikan durasi penampilan maksimal tujuh menit. Batasan waktu ini menjadi tantangan tersendiri bagi kelompok untuk mengemas pesan, estetika, dan kohesivitas kelompok secara efisien namun tetap komunikatif.
Ketua Panitia Gema Takbir dan Festival Lampion, Rojad, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta. Dalam kesempatanya, ia menegaskan bahwa event ini bukan sekadar perlombaan yang berorientasi pada kemenangan semata, melainkan sebuah syiar yang memadukan tradisi, religi, dan budaya.

“Terima kasih kepada semua peserta. Kegiatan ini tidak sekadar lomba, tetapi lebih banyak pada syiar paduan tradisi yang religi, budaya, dan karakter setiap lingkungan menjadi semangat yang harus selalu kita lestarikan. Juara bukan tujuan utama, kebersamaan dan kegotongroyongan yang harus kita jaga,” ungkap Rojad.
Untuk pengembangan selanjutnya untuk event terbuka untuk umum, dan Ia juga berharap agar kegiatan semacam ini terus mendapatkan dukungan dan suport penuh dari Pemerintah Desa Sumberjo sebagai upaya berkelanjutan dalam pelestarian budaya berbasis masyarakat.

Melalui proses seleksi yang ketat, dewan juri akhirnya menetapkan pemenang dalam dua kategori utama. Untuk kategori Gema Takbir, Juara 1 diraih oleh Group Rodeo RW 10 Sumberejo, disusul Group BBC RW 09 Sumberejo sebagai Juara 2, dan Gang Jager RW 08 Sumberejo sebagai Juara 3. Sementara pada kategori Lampion, gelar Juara 1 jatuh kepada Gang Jager RW 08 Sumberejo, disusul Group BBC RW 09 Sumberejo sebagai Juara 2, dan Grup Rodeo RW 10 Sumberejo sebagai Juara 3.
Kegiatan Gema Takbir dan Festival Lampion 2026 di Desa Sumberjo tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga berfungsi sebagai laboratorium sosial-budaya yang merefleksikan bagaimana masyarakat modern dapat mempertahankan identitas religius melalui kemasan artistik yang adaptif. Dengan pendekatan penilaian yang menekankan pada substansi dakwah, eksplorasi artistik, dan nilai-nilai kebersamaan, event ini diharapkan dapat menjadi model bagi pelaksanaan kegiatan serupa di wilayah lain, khususnya dalam upaya menyeimbangkan antara pelestarian tradisi dan tuntutan estetika kontemporer.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Ke depan, dialog antara seni, agama, dan masyarakat melalui event seperti ini perlu terus difasilitasi agar nilai-nilai luhur budaya lokal tidak hanya lestari, tetapi juga terus berkembang dengan tetap berakar pada karakteristik khas masing-masing lingkungan.
Penulis : Ria.
Editor : Tim Pendidikannasional.id.


Salah satu penampilan Lampion yang menarik dalam acara Gema Takbir dan Festival Lampion 2026 Desa Sumberjo. ( Foto. : istimewa). 
