Sinergi Budaya Selamatkan Sumber Mata Air Kota Batu yang Kian Menyusut

Kegiatan Diklat Rumat Sumber yang bertempat di Ki Riono, ketua lembaga adat tampak dengan khidmat mengikuti setiap sesi acaranya. ( Foto : Tim ).

Sinergi Budaya dan Lingkungan, Warga Kota Batu Bergerak Selamatkan Sumber Mata Air

Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Krisis sumber mata air di Kota Batu kian mengkhawatirkan. Dari total 111 titik, kini hanya sekitar 57 sumber yang masih aktif, berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Kondisi ini mendorong gerakan kolaboratif antara aktivis lingkungan, lembaga adat, dan pemerintah desa melalui kegiatan Diklat “Ngrumat Sumber” yang digelar di Desa Bulukerto pada 10–12 April 2026.

Tampak dari masyarakat hadir mengikuti dengan seksama.
Tampak dari masyarakat hadir mengikuti dengan seksama.

Kegiatan ini dihadiri Kepala Desa Bulukerto Suhermawan, Lembaga Adat Desa Bulukerto, HIPPAM, serta masyarakat setempat.

Ketua Nawadya, Syahrul Hadiyatullah, menegaskan bahwa penyelamatan sumber mata air di Kota Batu membutuhkan pendekatan berbasis budaya.

“Kami menggunakan pendekatan budaya karena masyarakat Batu memiliki kearifan lokal yang kuat dalam menjaga alam,” ujarnya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/kolaborasi-tiga-desa-dan-pemkot-batu-selamatkan-sumber-air-gemulo-upaya-jaga-kedaulatan-air/

Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, menambahkan bahwa nilai-nilai budaya Jawa memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Dengan filosofi “Jowo digowo, Arab digarap, Barat diruat”, ia mengajak masyarakat untuk tetap menjaga identitas budaya sebagai fondasi konservasi alam.

Lembaga Adat Desa Bulukerto hadir dan antusias dalam mengikuti acara tersebut.
Lembaga Adat Desa Bulukerto hadir dan antusias dalam mengikuti acara tersebut.

Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Desa Bulukerto, Mistohadi, menilai kegiatan ini menjadi momentum untuk menata kembali praktik adat agar selaras dengan pelestarian sumber air.

“Termasuk menjaga belik atau sumber air kecil agar tetap terlindungi vegetasi,” jelasnya.

Christia Anggraini dari Cempaka Foundation
Christia Anggraini dari Cempaka Foundation ketika memberikan pemaparanya.

Dari sisi lingkungan, Christia Anggraini dari Cempaka Foundation menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga keberlanjutan sumber mata air di Kota Batu. “Jangan sampai yang diwariskan bukan sumber air, tapi air mata,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, Nawadya bersama masyarakat akan melakukan penanaman 100 bibit pohon di setiap desa, termasuk Bulukerto dan Tulungrejo pada 17–18 April 2026.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat konservasi lingkungan sekaligus mengembalikan keberlanjutan sumber mata air sebagai penopang kehidupan masyarakat dan sektor pertanian di Kota Batu.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id 

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup