Siraman Pamong Warnai Selamatan Desa Oro-Oro Ombo ke-113, Warga Diajak Lestarikan Tradisi Leluhur
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Rangkaian Selamatan Desa ke-113 di Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, berlangsung khidmat dan penuh nuansa budaya pada Senin (25/5/2026). Salah satu prosesi sakral yang menjadi perhatian masyarakat adalah ritual Siraman Pamong yang diikuti seluruh perangkat desa sebagai bentuk pelestarian adat warisan leluhur.
Kegiatan diawali dengan doa dan selamatan bersama yang diikuti perangkat desa serta tokoh masyarakat. Prosesi tersebut menjadi sarana permohonan doa demi keselamatan, kemajuan, dan kesejahteraan masyarakat Desa Oro-Oro Ombo.

Ketua Panitia Selamatan Desa Oro-Oro Ombo, Ahmad Solikhin, menjelaskan bahwa Siraman Pamong merupakan bagian inti dari rangkaian tradisi tahunan yang terus dijaga hingga kini.
“Ini dalam rangka Siraman Pamong, yaitu siraman untuk perangkat Desa Oro-Oro Ombo. Kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan sebagai bentuk doa keselamatan untuk desa,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan Selamatan Desa telah dimulai sejak Rabu lalu dengan berbagai kegiatan religius dan budaya. Pada hari pertama digelar khataman Al-Qur’an, hadrah, serta pengajian malam hari.
Kemudian pada Kamis dilaksanakan pertunjukan kesenian Jaran Kepang dan pentas seni yang menampilkan kreativitas warga dari seluruh lingkungan RW 01 hingga RW 13 se-Desa Oro-Oro Ombo.

Memasuki Jumat, masyarakat disuguhkan berbagai kesenian lokal, mulai dari pertunjukan Bantengan hingga pagelaran seni pencak silat yang melibatkan perguruan silat di wilayah tersebut.
Sementara pada Minggu malam atau malam Senin, digelar kegiatan manggulan atau Macapat di rumah Kepala Desa Oro-Oro Ombo. Setelah itu dilanjutkan dengan ziarah ke sejumlah makam leluhur dan punden yang dianggap memiliki sejarah penting bagi desa.
Ziarah dimulai dari makam Mbah Imam Musafik di Dusun Gondorejo, kemudian menuju makam Mbah Brojo di Kerajan, Punden Mas Tono, makam Mbah Slamet di Dusun Dersel, Watu Tumpuk, hingga Talang Kutukan.
“Seluruh rangkaian ziarah dilakukan mulai Minggu malam sampai Senin dini hari,” terang Ahmad.
Puncak acara dilaksanakan Senin pagi melalui ritual Siraman Pamong yang dipimpin langsung oleh Kepala Desa Oro-Oro Ombo. Prosesi tersebut menjadi simbol penyucian diri sekaligus pengingat agar perangkat desa dapat menjalankan amanah dengan baik.

Wiweko menjelaskan bahwa ritual siraman telah dilakukan turun-temurun oleh para leluhur dan kini menjadi tradisi yang terus dilestarikan masyarakat.
“Ritual siraman perangkat ini sudah dilakukan oleh nenek moyang terdahulu, dan sekarang kita tinggal melanjutkannya,” jelasnya.
Ia menerangkan, siraman dilakukan ke empat arah mata angin, yakni utara, timur, selatan, dan barat. Filosofi tersebut berkaitan dengan konsep Jawa “Papat Limo Pancer” yang menggambarkan keseimbangan kehidupan.
Air siraman kemudian disiramkan langsung ke tanah sebagai simbol keselarasan manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya.

Dalam ritual tersebut juga terdapat sejumlah simbol adat seperti Ingkung, Badek, dan Kambil atau kelapa.
“Kelapa dipecah dengan tujuan agar kerukunan masyarakat benar-benar tercipta. Sedangkan Ingkung melambangkan harapan agar kemakmuran bisa dirasakan seluruh masyarakat,” tambahnya.
Usai prosesi siraman, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ritual di Punden Sitono serta beksan atau tarian tradisional hingga menjelang magrib. Pada malam harinya, masyarakat akan disuguhi pagelaran wayang kulit sebagai acara penutup utama Selamatan Desa.
Wiweko berharap kegiatan budaya tersebut dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman dan masuknya budaya luar.
“Harapan kami, masyarakat terutama generasi muda semakin memahami bahwa budaya adat istiadat ini harus tetap dijaga. Jangan sampai budaya yang diwariskan leluhur tenggelam oleh perkembangan zaman,” ungkapnya.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Tahun ini, Selamatan Desa Oro-Oro Ombo mengusung tema “Bersama-sama Masyarakat Membangun Desa”. Tema tersebut menjadi semangat kebersamaan masyarakat dalam menjaga tradisi sekaligus membangun desa agar semakin maju, aman, dan harmonis.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.


Tampak Kepala Desa Oro Oro Ombo ketika memimpin doa ritual Siraman Pamong. ( Foto : istimewa ). 
