Semarak Menyambut Ramadhan. Lomba Patrol Season 3 di Batu Jadi Ajang Kreativitas dan Pelestarian Budaya
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Memasuki hari ke-10 bulan suci Ramadan, suasana malam di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu, berubah menjadi panggung megah bagi kreativitas anak muda. Ratusan pasang mata dari berbagai kalangan masyarakat tampak antusias berdatangan dan memadati lingkungan Masjid Darul Falach, yang berlokasi di Jalan TVRI, Dusun Krajan. Mereka bukan sekadar menanti hiburan malam, melainkan menyaksikan gelaran “Lomba Patrol Ramadhan Season 3”, sebuah even yang telah dinanti-nantikan sebagai simbol kebangkitan tradisi dan kearifan lokal di tengah arus modernitas.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Remaja Masjid (Remas) Darul Falach ini bukanlah sekadar kompetisi musik biasa. Lebih dari itu, lomba ini merupakan manifestasi dari upaya kolektif untuk merevitalisasi tradisi patrol, sebuah seni musik perkusi khas Nusantara yang identik dengan aktivitas membangunkan sahur. Pada tahun ketiga penyelenggaraannya ini, antusiasme peserta menunjukkan tren positif dengan menjaring partisipasi 15 grup patrol dari berbagai penjuru wilayah Malang Raya.

Muhammad Ali Rokhim,selaku mewakili ketua panitia yang dalam struktur kepanitiaan bertindak selaku Seksi Acara, menjelaskan bahwa even ini berhasil menarik minat grup-grup patrol dari luar Kota Batu. Hal ini membuktikan bahwa daya tarik lomba ini telah melampaui batas-batas administratif kota.
“Peserta yang mendaftar tahun ini sangat beragam. Selain grup lokal, kami kedatangan kontingen dari Kabupaten Malang, seperti dari kawasan Sawojajar, Sukun, Wagir, hingga Mulyorejo. Ini membuktikan bahwa semangat bermusik dan melestarikan tradisi masih sangat kuat di kalangan pemuda,” ujar Muhammad Ali Rokhim saat ditemui di sela-sela acara, Sabtu (28/2/2026) malam.

Untuk menjaga kualitas penampilan dan ketertiban waktu, panitia menerapkan sistem durasi yang ketat. Setiap grup diberikan alokasi waktu total 10 menit di atas panggung. Rinciannya, tiga menit pertama digunakan untuk persiapan peralatan, dilanjutkan dengan tujuh menit untuk penampilan inti. Regulasi ini dirancang untuk melatih kedisiplinan para peserta, sekaligus memastikan acara berjalan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Lebih lanjut, Muhammad Ali Rokhim menuturkan bahwa penyelenggaraan lomba ini tidak hanya bertujuan untuk memeriahkan bulan Ramadan, tetapi juga sebagai wadah aktualisasi diri bagi para pemuda yang memiliki minat di bidang seni musik tradisional.

“Harapannya, acara ini bisa terus berlanjut hingga musim-musim berikutnya. Selain untuk mewadahi semangat pemuda dalam tradisi patrol membangunkan sahur, kegiatan ini juga menjadi ajang bagi para pelaku seni musik dan perkusi untuk melestarikan kearifan lokal serta budaya kita,” tegasnya.
Tak lupa, ia juga menyampaikan pesan kepada rekan-rekan panitia agar tetap solid. “Untuk panitia, semoga ke depannya semakin maju, kompak, dan tetap solid dalam mengadakan acara seperti ini, maupun acara-acara positif lainnya,” imbuhnya.

Kehadiran even ini mendapatkan sambutan hangat dan apresiasi penuh dari Pemerintah Desa Oro-oro Ombo. Suliamat, selaku Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Desa yang hadir mewakili Kepala Desa, menyampaikan dukungannya secara langsung. Menurutnya, kegiatan yang digagas oleh generasi muda ini memiliki nilai strategis dalam pembangunan karakter dan sosial kemasyarakatan.
“Pemerintah Desa Oro-oro Ombo memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Remaja Masjid Darul Falach yang telah konsisten menyelenggarakan Lomba Patrol ini hingga Season 3. Kami menilai kegiatan ini bukan hanya sekadar ajang kompetisi, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam meningkatkan kreativitas dan inovasi pemuda-pemudi,” tegas Suliamat.
Baca Juga :
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini memiliki peran vital dalam memacu semangat partisipasi publik, khususnya generasi muda, dalam menyemarakkan penyambutan dan pengisian bulan suci Ramadan. Di tengah gempuran hiburan digital yang cenderung individualistis, kehadiran lomba patrol ini menjadi ruang publik yang mempertemukan interaksi sosial secara langsung.
“Harapan kami ke depan, tentu kegiatan ini dapat terus berlanjut. Ini adalah bagian dari upaya kita bersama untuk melestarikan kearifan lokal. Tradisi membangunkan sahur dengan patrol adalah warisan budaya yang harus dijaga. Dengan kemasan kompetisi seperti ini, tradisi tersebut tidak hanya lestari, tetapi juga mengalami inovasi dari segi seni dan aransemen musiknya,” tambah Suliamat.
Kolaborasi Seni dan Disabilitas di Bumiaji Meriahkan Selendang Sari, Shindi 2025-2026
Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah desa, lomba ini diikuti oleh 15 peserta yang berasal dari berbagai daerah. “Mereka berasal dari Desa Oro-oro Ombo sendiri, desa tetangga di wilayah Kota Batu, bahkan ada juga peserta yang datang dari luar Kota Batu seperti Kabupaten Malang,” ujarnya.
Lomba Patrol Ramadhan Season 3 ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, patrol tetap mempertahankan akar budayanya sebagai sarana syiar dan penanda waktu sahur. Di sisi lain, melalui kreativitas para pemuda, alat-alat musik perkusi sederhana diaransemen sedemikian rupa sehingga menghasilkan komposisi musik yang atraktif dan menghibur.
Keramaian yang tercipta pada malam hari ke-10 Ramadan itu bukan hanya sekadar kerumunan penonton, melainkan sebuah ekosistem budaya yang hidup. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa duduk berdampingan, menikmati alunan musik patrol yang bergema di pelataran masjid. Momen ini sekaligus menjadi pengingat kolektif bahwa bulan suci Ramadan tidak hanya diisi dengan ibadah ritual, tetapi juga dapat diwarnai dengan kegiatan positif yang memperkuat tali silaturahmi antarwarga.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat modern tetap memiliki kerinduan terhadap akar budaya dan tradisi. Lomba patrol menjadi medium yang tepat untuk menyalurkan kreativitas generasi muda sekaligus menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus zaman.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan dukungan penuh dari pemerintah desa, antusiasme peserta yang meluas, serta soliditas para panitia, Lomba Patrol Ramadhan Season 3 di Masjid Darul Falach tidak hanya sukses sebagai sebuah acara, tetapi juga berhasil menegaskan posisinya sebagai agenda tahunan yang dinanti. Even ini adalah narasi nyata tentang bagaimana sebuah komunitas menggunakan seni dan tradisi untuk memperkuat kohesi sosial, sekaligus menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus bangsa.
Di tengah derasnya arus globalisasi, kegiatan semacam ini menjadi oase yang menyegarkan sekaligus benteng terakhir bagi pelestarian budaya lokal. Semangat yang ditunjukkan oleh Remas Darul Falach dan para peserta lomba patut menjadi contoh bagi komunitas pemuda lainnya di Indonesia untuk turut serta menjaga dan melestarikan kekayaan budaya bangsa.
Penulis : Ria.
Editor : Tim Pendidikannasional.id.


Salah satu peserta ketika menyuguhkan musik perkusinya dalam lomba patrol Ramadhan season 3 Remaja Masjid Darul Falach Kota Batu. ( Foto : Tim Pendidikannasional.id ). 
