
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Nala Festival 2026 Hujan Tak Redam Semangat Sanduk Junrejo dalam Melestarikan Budaya
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Rintikan hujan yang mengguyur Nala Eco Point tidak menyurutkan gelora kesenian. Justru, di bawah payung dan pelindung panggung, dentang gamitan dan lantunan sinden makin bersemangat. Inilah potret kebulatan teknis kelompok-kelompok Sanduk dari Junrejo, Kota Batu, yang menjadi salah satu pilar penyemarak Nala Festival 2026. Mereka membuktikan bahwa pelestarian budaya tak kenal cuaca, dihadirkan dengan suguhan menarik dan diiringi penampilan para penyanyi serta artis andalan masing-masing grup.( 03/01/2026 ).
Festival yang digelar di Nala Eco Point ini berhasil menjadi panggung kolaborasi sekaligus unjuk kebolehan bagi kesenian tradisional lokal. Lima kelompok sanduk unggulan Kecamatan Junrejo tampil memukau,Potre Koneng, Ringin Asmoro, Sawunggaling, Marlena, dan Putri Sawunggaling. Masing-masing membawa karakter dan warna sendiri, menciptakan mozaik budaya yang hidup dan memeriahkan atmosfer acara.


Sulimah, Ketua Sanduk Potre Koneng, dalam kesempatanya tersebut menyampaikan apresiasi mendalam kepada panitia. “Terima kasih kepada seluruh panitia dan Nala Eco Point yang telah memberikan ruang dan waktu untuk kami menampilkan kesenian dan memperkenalkan kelompok sanduk kami, Sanduk Potre Koneng,” ujarnya. Ia berharap kerja sama ini dapat berlanjut.
“Saya setiap ada kegiatan perihal sanduk atau Vokal Sinden di Kecamatan Junrejo selalu diundang, bahkan juga di Kota Batu. Semoga kelompok kami bisa terus menyuguhkan yang terbaik, dan ke depan setiap ada kegiatan di Nala Eco Point dapat menghubungi kami,” tambah Sulimah penuh harap.


Tak hanya sebagai ajang pementasan, Nala Festival juga menjadi ruang reuni dan kebangkitan bagi para pegiat seni. Seperti disampaikan oleh Wahyu Hasta, atau yang akrab disapa Yusta, anggota Sanduk Ringin Asmoro. Perempuan asal Madiun ini mengungkapkan, keikutsertaannya dalam sanduk adalah cara untuk mengasah kembali bakat olah vokal dan sinden yang sempat lama tertidur.
“Saya mewakili kelompok Sanduk Ringin Asmoro mengucapkan terima kasih kepada Nala Eco Point yang sudah mensupport kami selaku pelaku seni. Kami di sini diberikan ruang dan waktu untuk menghibur masyarakat, dan kami begitu bangga bisa ikut serta mensukseskan HUT Armada dan Hari Nusantara. ” tutur Yusta dengan semangat.
Perjalanan seni Yusta cukup panjang. Ia mengawali karir sebagai sinden campursari di Kota Madiun sejak usia 28 tahun. Setelah berhenti sekitar usia 45 tahun, ia memutuskan untuk menetap di Desa Pesanggrahan, Kota Batu, sejak 2009. Kini, melalui Sanduk Ringin Asmoro, ia menemukan kembali gairahnya. “Kesenian ini adalah sarana pelestarian budaya sekaligus wadah bagi seniman-seniman untuk berekspresi,” tegasnya, menekankan fungsi sosial-budaya dari aktivitas berkesenian.

Penampilan berturut-turut dari berbagai sanduk menunjukkan vitalitas ekosistem kesenian tradisional di Junrejo. Setiap kelompok datang dengan formasi dan repertoar yang dipersiapkan matang, mulai dari gending-gending klasik hingga tembang-tembang yang lebih kontemporer, diiringi dengan tata busana dan riasan yang khas. Antusiasme penonton yang tetap bertahan meski diguyur hujan menjadi energi tambahan yang tak ternilai.
Keikutsertaan kelima sanduk ini dalam Nala Festival memiliki dimensi yang lebih dalam daripada sekadar hiburan semata. Acara seperti ini berfungsi sebagai medium edukasi budaya bagi generasi muda yang hadir. Mereka diperkenalkan langsung pada kekayaan seni pertunjukan lokal, melihat kerumitan musik gamitan, keahlian vokal sinden, dan keindahan gerak tari yang menyertainya.

Selain itu, festival menjadi jembatan silang generasi. Seperti pada kisah Yusta, banyak anggota sanduk adalah para seniman yang telah berpengalaman puluhan tahun, sementara di sisi lain, ada pula wajah-wajah muda yang mulai tertarik untuk belajar dan terlibat. Interaksi ini menjamin keberlanjutan tradisi.
Penyelenggaraan festival di lokasi seperti Nala Eco Point, yang mengusung konsep alam dan keberlanjutan, juga menciptakan harmoni simbolik antara pelestarian lingkungan dan pelestarian budaya. Keduanya adalah pilar penting dalam membangun identitas dan masa depan wilayah yang berkelanjutan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dukungan dari pihak pengelola seperti Nala Eco Point terhadap pelaku seni lokal patut diapresiasi. Pemberian ‘ruang dan waktu’ yang berulang kali disyukuri oleh para ketua sanduk. Ini adalah model yang bisa diadopsi oleh pihak swasta lainnya untuk bersama-sama menjaga denyut nadi kesenian tradisional.
Dengan semangat yang tak kenal hujan, Sanduk-Sanduk Junrejo di Nala Festival 2026 telah menorehkan catatan penting. Mereka bukan hanya sekadar menghibur, tetapi juga mengukuhkan eksistensi, merawat memori budaya, dan membangun optimisme bahwa kesenian tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Harapannya, panggung-panggung berikutnya akan terus terbuka, agar warisan seni yang sarat makna ini terus hidup, berkembang, dan dinikmati oleh semua kalangan.
( Ria ).


Ketua Sanduk Potre Koneng bersama Anggota Sanduk Ringin Asmoro dan Ketua UMKM KPJ dan tokoh serta dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat Reh Wongsonagoro
