PSHT Kota Batu Apresiasi Gerakan Nusantara Bersatu, Dorong Sinergi Ormas untuk Stabilitas dan Kohesi Sosial
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Upaya kolektif dalam membangun iklim kehidupan masyarakat yang aman, damai, dan harmonis kembali memperoleh momentum positif melalui sinergi lintas elemen di Kota Batu. Hal ini terwujud dalam kegiatan silaturahmi dan deklarasi komitmen bersama yang diprakarsai oleh Nusantara Bersatu, bertempat di Ardiasih, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Kamis (6/8/2026) siang.
Kegiatan strategis tersebut menjadi wahana rekonsiliasi dan penguatan komunikasi antarelemen masyarakat, sekaligus meneguhkan komitmen kolektif dalam memelihara kondusivitas wilayah. Semangat yang diusung tidak semata bersifat represif dalam menjaga ketertiban, melainkan bertujuan membangun kesadaran struktural bahwa keamanan dan kedamaian merupakan amanat konstitusional yang menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kota Batu, Drs. Suyono, yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kota Batu, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap inisiatif Nusantara Bersatu dalam mempertemukan beragam unsur masyarakat dalam bingkai persaudaraan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan ikhtiar kolektif yang patut didukung secara sistemik, mengingat masyarakat membutuhkan ruang komunikasi yang sehat, terbuka, dan berkesinambungan sebagai fondasi bagi terciptanya demokrasi deliberatif di tingkat lokal.
“Langkah dan inisiatif baik dari gerakan Nusantara Bersatu dalam merangkul serta menyatukan berbagai elemen masyarakat demi menciptakan situasi yang kondusif di Kota Batu patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya,” ujar Suyono dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa semangat tersebut memiliki resonansi yang mendalam dengan nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi fondasi pendidikan karakter di lingkungan PSHT. Organisasi yang telah berakar kuat dalam tradisi kebangsaan ini, kata dia, tidak sekadar mengajarkan keterampilan bela diri, melainkan membentuk pribadi yang memiliki ketangguhan karakter, kedisiplinan instrumental, jiwa ksatria, keluhuran budi pekerti, serta kesadaran akan pentingnya ikatan persaudaraan sebagai modal sosial.
Dalam perspektif sosiologis, kekuatan sebuah organisasi kemasyarakatan, menurut Suyono, semestinya tidak digunakan untuk membangun sekat sosial, melainkan menjadi energi transformatif untuk mempererat persatuan dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. PSHT Cabang Kota Batu menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan berbagai unsur, mulai dari TNI-Polri, lembaga pendidikan, ulama, budayawan, organisasi kemasyarakatan, hingga perguruan pencak silat lainnya—dalam kerangka pembangunan karakter bangsa.
Suyono juga mendorong agar komunikasi antarelemen masyarakat tidak berhenti pada tataran seremonial. Menurutnya, diperlukan ruang koordinasi yang dilakukan secara periodik dan terstruktur sehingga berbagai isu strategis dapat dibicarakan secara terbuka dan antisipatif sebelum berkembang menjadi konflik sosial yang dapat mengganggu stabilitas daerah.
“Silaturahmi dan koordinasi perlu terus diperkuat. Jika memungkinkan, ruang komunikasi antarelemen masyarakat dapat dilakukan secara berkala, misalnya setiap tiga bulan sekali. Dengan komunikasi yang baik, perbedaan dapat dikelola menjadi kekuatan,” tegasnya.

Senada dengan pemikiran tersebut, Ketua PSHT Komisariat Bani Salim Sapari, Rahmad Wahyudi, menilai langkah Nusantara Bersatu memiliki tujuan yang bersifat fundamental, karena berupaya merangkul berbagai organisasi agar dapat saling mengenal, berkoordinasi, dan membangun suasana yang aman serta kondusif sebagai prasyarat bagi pembangunan berkelanjutan.
Rahmad menekankan bahwa persaudaraan tidak berarti meniadakan perbedaan. Sebaliknya, persaudaraan harus dipahami sebagai kapasitas untuk menghormati perbedaan sekaligus mencari titik temu dalam kepentingan yang lebih besar, yakni kedamaian dan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan ajaran filosofis PSHT, “Memayu Hayuning Bawana,” yang mengandung makna turut memelihara, menjaga, dan memperindah keselamatan serta kedamaian jagat raya.
“Hal ini sejalan dengan ajaran SH Terate, Memayu Hayuning Bawana, yang mengandung makna turut memelihara, menjaga, dan memperindah keselamatan serta kedamaian dunia,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan salah satu nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat yang termaktub dalam kearifan lokal, yakni ungkapan “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Prinsip tersebut mengajarkan pentingnya menghormati adat istiadat, norma sosial, serta aturan yang berlaku di lingkungan tempat seseorang berada. Dalam konteks negara kesatuan, nilai ini memiliki relevansi dengan semangat otonomi daerah dan penghormatan terhadap keanekaragaman budaya sebagai kekayaan bangsa.

Sementara itu, Ketua Nusantara Bersatu, Jose Alexander, menyampaikan ucapan terima kasih atas dukungan dan perhatian yang diberikan berbagai elemen masyarakat terhadap kegiatan tersebut. Menurut Jose, komitmen bersama harus diterjemahkan ke dalam aksi nyata di lingkungan masing-masing. Setiap organisasi dan kelompok masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga saluran komunikasi, menghindari provokasi dan ujaran kebencian, serta mengedepankan penyelesaian persoalan melalui dialog dan musyawarah.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita saling menjaga kondusivitas di lingkungan masing-masing. Keamanan Kota Batu bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat,” ujarnya.
Jose berharap silaturahmi tersebut menjadi embrio bagi kolaborasi yang lebih luas. Menurutnya, perbedaan latar belakang organisasi, profesi, pemikiran, maupun komunitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi modal sosial yang sangat berharga apabila dikelola melalui komunikasi dan sikap saling menghormati yang berlandaskan pada etika publik dan nilai-nilai Pancasila.

Pembina Flobamora sekaligus Camat Bumiaji Kota Batu, Thomas Maydo, S.Sos., menyampaikan bahwa kegiatan yang difasilitasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Polres, Kodim, Kejaksaan, serta Pemerintah Kota Batu tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya forum komunikasi organisasi kemasyarakatan yang lebih kuat dan terinstitusionalisasi, khususnya di Kota Batu. Forum tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ruang silaturahmi, tetapi juga diharapkan menjadi instrumen strategis untuk mengoptimalkan potensi organisasi kemasyarakatan dalam mendukung percepatan pembangunan daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Ke depan, diharapkan forum ini mampu menjadi wahana konsolidasi demokrasi yang produktif, di mana setiap elemen masyarakat dapat berkontribusi secara substantif dalam perumusan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan rakyat. Ketika masyarakat sipil dan pemerintah bersinergi dalam semangat kolektif kolegial, maka cita-cita membangun peradaban bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian akan dapat terwujud secara bertahap dan terukur,” ungkap Thomas dengan nada optimis.
Puncak kegiatan ini ditandai dengan penandatanganan pakta integritas dan komitmen bersama yang memuat lima poin fundamental:
Pertama : Menjaga persatuan dan kesatuan serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Kedua : Mendukung serta mewujudkan suasana yang aman, tertib, rukun, dan damai di lingkungan masyarakat.
Ketiga : Menolak segala bentuk kekerasan, tindakan anarkis, penyebaran berita bohong (hoaks), kebencian, kebencian, maupun berbagai bentuk hasutan yang dapat memecah belah persaudaraan.
Keempat : Saling menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan sebagai bagian dari upaya menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Kelima : Seluruh organisasi masyarakat berkomitmen menaati segala ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Semangat yang dibangun Nusantara Bersatu bersama berbagai elemen masyarakat Kota Batu pada akhirnya menegaskan satu pesan fundamental: kedamaian tidak lahir secara otomatis, melainkan dibangun melalui kesadaran kolektif, keteladanan kepemimpinan, komunikasi yang efektif, dan kemauan untuk saling menghargai dalam kerangka kewargaan yang demokratis.
Dengan semangat persaudaraan yang terus dipelihara, Kota Batu diharapkan tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga sebagai laboratorium sosial yang mampu menunjukkan praktik kehidupan masyarakat yang rukun, inklusif, toleran, dan berbudaya sebagai perwujudan dari cita-cita nasional.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Sebagaimana telah dibuktikan dalam berbagai pengalaman sejarah, ketika berbagai elemen masyarakat mampu menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan sektoral, maka perbedaan bukan lagi menjadi sumber disintegrasi, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan daerah yang lebih aman, damai, dan bermartabat. Sinergi lintas sektor yang terbangun di Kota Batu ini diharapkan terus terjaga secara berkelanjutan demi mempertahankan citra daerah sebagai kota yang aman, tertib, ramah, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Penulis: Riadi
Editor: Tim Redaksi Pendidikannasional.id



