Raga Tunggal Kolaborasi Empat Pilar Pencak Silat

Kolaborasi Empat Pilar Pencak Silat Meriahkan Bantengan Nuswantoro ke-17 dengan "Raga Tunggal".( Foto : istimewa ).

Kolaborasi Empat Pilar Pencak Silat Meriahkan Bantengan Nuswantoro ke-17 dengan “Raga Tunggal”.

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Festival Bantengan Nuswantoro ke-17 tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga bukti nyata kekuatan persatuan. Kali ini,anggota dari empat perguruan pencak silat terbesar di Indonesia PSHT, PSHW, Pagar Nusa, dan IKS-PI bersatu padu membentuk kelompok seni Bantengan bernama “Raga Tunggal”dari Tegal Weru, Kabupaten Malang. Kolaborasi langka ini menunjukkan bahwa seni dan tradisi mampu menjadi jembatan silaturahmi, persaudaraan, dan kebersamaan.  

Kelompok Raga Tunggal menjadi salah satu sorotan utama dalam karnaval Bantengan Nuswantoro tahun ini. Dengan anggota sekitar 100 orang, mereka membawa energi solidaritas yang jarang terlihat. Aris Firmansyah, perwakilan kelompok sekaligus anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah misi budaya dan perdamaian.  

“Melalui seni Bantengan, kami ingin melestarikan adat sekaligus menyatukan empat pilar besar pencak silat Indonesia. Anggota kami berasal dari PSHT, PSHW, Pagar Nusa, dan IKS-PI. Kami berharap kesenian ini tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa kedamaian,” ujar Aris dengan semangat.  

Kehadiran Raga Tunggal membuktikan bahwa tradisi bisa menjadi media pemersatu, melampaui batas perguruan dan aliran. Dalam budaya Jawa, Bantengan sendiri merupakan simbol kekuatan, keberanian, dan kerja sama. Kolaborasi empat perguruan silat ini semakin memperkuat filosofi tersebut, menunjukkan bahwa perbedaan justru memperkaya kebudayaan.  

“Inilah esensi gotong royong dan kerukunan. Meski berasal dari latar belakang perguruan berbeda, kami bisa bersatu dalam gerak dan irama yang sama,”tambah salah satu anggota Pagar Nusa.  

 

 Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/nasional/turis-mancanegara-antusias-ikuti-festival-bantengan-nuswantoro-ke-17/

Kolaborasi unik ini tidak hanya memikat penonton lokal, tetapi juga menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Banyak pengunjung terkesan melihat harmoni antara seni Bantengan dan nilai-nilai bela diri yang diusung keempat perguruan.  

Bagi generasi muda, hal ini menjadi teladan bahwa budaya dan tradisi bisa tetap relevan jika dikemas dengan semangat inklusivitas dan kreativitas. “Kami ingin anak muda melihat bahwa persatuan itu indah, dan budaya adalah cara terbaik untuk merajutnya,” ujar perwakilan IKS-PI.  

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Di tengah beragamnya dinamika sosial, kehadiran Raga Tunggal mengirimkan pesan kuat bahwa, seni dan budaya adalah bahasa universal yang mampu mendamaikan. Festival Bantengan Nuswantoro sekali lagi membuktikan dirinya bukan sekadar karnaval, melainkan ruang dialog budaya yang hidup dan dinamis.  

Dengan semangat “Raga Tunggal” (satu tubuh, satu jiwa), kolaborasi empat perguruan silat ini diharapkan bisa menginspirasi lebih banyak pihak untuk bersatu dalam keberagaman, menjaga warisan leluhur, dan terus memajukan kebudayaan Indonesia di kancah global.  

 

( Ria ). 

Array
Related posts
Tutup
Tutup