Silvy Kumalasari Menyemai Guyub Rukun di Malam Suro Desa Sumberjo

Menjaga Tradisi dan Kebersamaan Refleksi Sosial di Balik Meriahnya Selamatan Desa Sumberjo ke-116

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Gemuruh sorak sorai masyarakat menggema di sepanjang malam saat bintang tamu campursari, Silvy Kumalasari, melantunkan tembang-tembang Jawa. Keramaian itu bukan sekadar pesta hiburan, melainkan puncak dari serangkaian prosesi budaya dalam rangka memperingati Selamatan Desa Sumberjo yang ke-116 pada Senin, 15 Juni 2025.

Dalam perspektif akademisi, perayaan ini merupakan artefak hidup dari konsep gotong royong dan guyub rukun yang masih kuat mengakar di masyarakat Jawa. Desa Sumberjo secara sadar telah menciptakan ruang publik di mana warga, mulai dari perangkat desa hingga tokoh pemuda, dapat berinteraksi secara horizontal tanpa sekat.

Silvy Kumalasari ketika membawakan sebuah lagu.
Silvy Kumalasari ketika membawakan sebuah lagu.

Hadir dalam acara tersebut, Wali Kota Batu, H. Nurochman, S.H., M.H., yang merupakan putra asli desa setempat, bersama Ketua TP PKK, Kepala Desa Sumberjo Drs. Riyanto, serta jajaran BPD, LPMD, dan seluruh lapisan masyarakat.

Ketua Panitia ketika melaporkan rangkaian kegiatan selamatan Desa Sumberjo ke 116.
Ketua Panitia ketika melaporkan rangkaian kegiatan selamatan Desa Sumberjo ke 116.

Proses Panjang yang Sarat Makna

Ketua panitia, Soleh, dalam sambutannya menjelaskan bahwa rangkaian selamatan sejatinya telah dimulai sejak 26 Mei 2025. Berbagai kesenian lokal ditampilkan sebagai upaya menggali potensi budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Panitia berniat menggali potensi kesenian yang ada di Desa Sumberjo,” ujarnya. Puncaknya adalah acara Grebek Suro yang berlangsung dari pagi hingga malam, menjadikan malam satu Suro sebagai momen sakral untuk memanjatkan doa keselamatan dan kemakmuran.

Kepala Desa Sumberjo ketika memberikan sambutan sambutanya.
Kepala Desa Sumberjo ketika memberikan sambutan sambutanya.

Kepala Desa Sumberjo, Drs. Riyanto, dalam sambutannya yang reflektif, mengajak seluruh warga mensyukuri perjalanan desa yang telah mencapai usia 116 tahun.

“Malam satu Suro ini merupakan malam yang sakral. Apa pun yang kita doakan, insya Allah akan dikabulkan,” tuturnya. Ia berharap desa yang dicintainya menjadi semakin gemah ripah loh jinawi, sebuah konsep Jawa yang berarti makmur, subur, dan sejahtera.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/tradisi-17-tahun-di-kampung-halaman-wali-kota-batu-gema-takbir-festival-lampion-desa-sumberjo-meriahkan-1-syawal-1447-h/

Konsistensi Melestarikan Budaya

Pesan edukatif paling kuat datang dari Wali Kota Batu. Dengan gaya komunikasi yang cair namun berbobot, ia menekankan pentingnya nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa sebagai benteng identitas di tengah arus modernisasi. “Pemerintah Kota Batu akan terus memberikan pendampingan dan dukungan berkelanjutan bagi desa yang konsisten mengembangkan kesenian tradisional,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemeriahan acara tidak boleh berhenti pada hiburan semata. Selamatan desa harus menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan menciptakan kebijakan publik yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga.

Wali Kota Batu, H. Nurochman, S.H., M. H., ketika memberikan apresiasinya.
Wali Kota Batu, H. Nurochman, S.H., M. H., ketika memberikan apresiasinya.

Sebagai penutup, Nurochman melontarkan candaan khasnya saat mengira bintang tamu telah datang, ternyata “penjual cilok” yang berada di belakang penonton. Candaan ini justru mencairkan suasana dan menunjukkan bahwa pemimpin yang baik adalah yang mampu hadir secara setara dengan rakyatnya.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Selamatan Desa Sumberjo ke-116 bukan hanya suguhan campursari. Ia adalah laboratorium sosial tentang bagaimana tradisi, pemerintahan, dan masyarakat dapat berjumpa dalam harmoni yang produktif. Salam Batu Sae, Sedoyo Sae!

 

Penulis : Riadi. 

Editor  : Tim Redaksi Pendidikannasional.id

Array
Related posts
Tutup
Tutup