Akses Vital 1,7 Km Rusak, Kepala Dusun Sewaluhan dan Warga Bergerak Bangun Jalan Sendiri

Warga Dusun Sewaluhan Bangun Jalan Secara Swadaya, Empat Kali Usulan Belum Terealisasi

Malang, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat gotong royong kembali menunjukkan jati diri masyarakat pedesaan. Warga Dusun Sewaluhan bersama Dusun Kalimalang, Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, bergandengan tangan melakukan pengecoran jalan secara mandiri setelah bertahun-tahun menanti realisasi pembangunan dari pemerintah. ( 26/07/2026 ). 

Jalan sepanjang kurang lebih 1,7 kilometer yang menghubungkan Dusun Kalimalang, Dusun Sewaluhan hingga kawasan perbatasan Kota Batu tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas masyarakat. Jalur ini setiap hari digunakan warga untuk bekerja, mengangkut hasil pertanian, serta menjadi jalur alternatif ketika terjadi kepadatan maupun penutupan jalan utama.

Tampak warga antusias memperbaiki serta ngecor jalan yang berlubang.
Tampak warga antusias memperbaiki serta ngecor jalan yang berlubang.

Kondisi jalan yang mengalami kerusakan dalam beberapa tahun terakhir dinilai semakin membahayakan keselamatan pengguna jalan. Lubang di sejumlah titik kerap memicu kecelakaan, terutama saat malam hari dan musim hujan. Berangkat dari kondisi tersebut, masyarakat akhirnya memilih bertindak melalui semangat swadaya daripada terus menunggu ketidakpastian.

Kepala Dusun Sewaluhan, Wahyu Giri Dani, menjelaskan bahwa Pemerintah Desa Tawangargo sebenarnya telah berupaya maksimal memperjuangkan pembangunan jalan tersebut melalui mekanisme perencanaan pembangunan daerah.

Kepala Dusun Sewaluhan ketika memberikan keteranganya ke awak media.
Kepala Dusun Sewaluhan ketika memberikan keteranganya ke awak media.

Menurutnya, usulan perbaikan telah diajukan secara berjenjang mulai dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes), Musrenbang Kecamatan hingga tingkat Kabupaten Malang.

“Sejak tahun 2023 pengajuan sudah dilakukan sebanyak empat kali. Pemerintah desa bersama Bapak Lurah dan Bapak Carik terus mengawal usulan tersebut, namun hingga kini belum ada realisasi. Kami tidak mengetahui secara pasti kendalanya, tetapi dari pihak pemerintah desa sudah berusaha semaksimal mungkin,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberadaan jalan tersebut memiliki fungsi strategis karena tidak hanya melayani mobilitas warga Dusun Sewaluhan dan Kalimalang, tetapi juga menjadi akses alternatif menuju wilayah Kota Batu ketika jalur utama mengalami kemacetan.

Tampak warga masyarakat bergotong royong pengecoran jalan yang berlubang.
Tampak warga masyarakat bergotong royong pengecoran jalan yang berlubang.

Selain persoalan kondisi jalan, masyarakat juga menghadapi minimnya fasilitas penerangan jalan umum (PJU). Kondisi gelap pada malam hari dinilai semakin meningkatkan risiko kecelakaan maupun gangguan keamanan.

Karena belum adanya realisasi pembangunan PJU, Wahyu mengambil langkah yang tidak lazim bagi seorang kepala dusun. Dengan biaya mandiri, ia memasang sekitar 10 titik lampu penerangan jalan lengkap dengan jaringan kabel demi memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Kami tidak ingin masyarakat terus menunggu. Keselamatan warga menjadi prioritas, sehingga pemasangan lampu penerangan kami lakukan secara mandiri menggunakan dana sendiri,” ungkapnya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/umum/ansor-tawangargo-utara-perkuat-nilai-kebersamaan/

Menurut Wahyu, perbaikan jalan yang dilakukan masyarakat sejauh ini merupakan solusi sementara. Ia berharap pemerintah dapat melakukan pembangunan permanen yang disertai perbaikan bahu jalan dan sistem drainase agar kualitas jalan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Anggota LPMD juga antusias mengikuti kerja bakti bersama warga masyarakat.
Anggota LPMD juga antusias mengikuti kerja bakti bersama warga masyarakat.

Senada dengan itu, Rano Susanto, LPMD Sub-Dusun Sewaluhan, mengatakan aksi pengecoran jalan merupakan hasil musyawarah bersama warga setelah berbagai usulan pembangunan belum memperoleh tindak lanjut.

Ia mengungkapkan bahwa keresahan masyarakat terus meningkat karena kecelakaan akibat jalan rusak sudah berulang kali terjadi.

“Kami berdiskusi bersama warga untuk mencari solusi. Akhirnya lahirlah semangat gotong royong melakukan penambalan dan pengecoran jalan agar risiko kecelakaan dapat diminimalkan,” katanya.

Tampak bahan bahan pengecoran yang disiapkan oleh warga masyarakat.
Tampak bahan bahan pengecoran yang disiapkan oleh warga masyarakat.

Rano juga mengaku masyarakat masih menyimpan harapan terhadap janji pembangunan yang pernah disampaikan pemerintah pada periode sebelumnya.

Menurutnya, sejak tahun 2024 hingga kini masyarakat terus mendengar rencana pengaspalan jalan yang selalu bergeser dari tahun ke tahun dan terakhir disebut akan direalisasikan pada tahun 2027.

Meski demikian, masyarakat tetap berharap rencana tersebut benar-benar diwujudkan sehingga akses utama warga dapat dibangun secara menyeluruh.

Sebagai Tokoh masyarakat, Sutrisno juga antusias mengikuti kerja bakti bersama warga masyarakat.
Sebagai Tokoh masyarakat, Sutrisno juga antusias mengikuti kerja bakti bersama warga masyarakat.

Sementara itu, tokoh masyarakat Sutrisno menilai kerja bakti yang dilakukan warga bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan bentuk kepedulian terhadap kepentingan bersama.

Ia menegaskan bahwa jalan tersebut merupakan urat nadi kehidupan masyarakat karena menjadi jalur utama mobilitas warga maupun distribusi hasil pertanian.

Tampak warga masyarakat ketika menurunkan bahan bahan pengecoran.
Tampak warga masyarakat ketika menurunkan bahan bahan pengecoran.

Menurutnya, perhatian pemerintah masih sangat dibutuhkan, tidak hanya dalam pembangunan badan jalan, tetapi juga terhadap infrastruktur pendukung lainnya.

“Kami berharap pemerintah memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Jalan ini sudah lama rusak. Selain itu, penerangan jalan belum memadai dan saluran irigasi juga perlu diperbaiki. Kami berharap jalan dapat diperlebar, lampu penerangan segera dipasang, serta gorong-gorong dan drainase dibangun agar kerusakan jalan tidak terus berulang,” ujarnya.

Fenomena swadaya yang dilakukan warga Dusun Sewaluhan mencerminkan kuatnya modal sosial masyarakat Indonesia. Gotong royong menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap kepentingan umum masih tumbuh di tengah keterbatasan.

Tampak dengan semangatnya warga masyarakat melakukan pengecoran jalan yang berlubang.
Tampak dengan semangatnya warga masyarakat melakukan pengecoran jalan yang berlubang.

Namun demikian, partisipasi masyarakat sejatinya bukan dimaksudkan untuk menggantikan tanggung jawab negara dalam menyediakan infrastruktur dasar. Kehadiran pemerintah tetap menjadi faktor utama dalam menjamin pemerataan pembangunan, keselamatan pengguna jalan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Perbaikan jalan, penyediaan penerangan jalan umum, pembangunan drainase, dan penguatan infrastruktur desa bukan hanya menyangkut aspek fisik semata, melainkan merupakan investasi jangka panjang bagi pertumbuhan ekonomi, keselamatan transportasi, ketahanan wilayah, dan kesejahteraan masyarakat.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Harapan masyarakat Dusun Sewaluhan sesungguhnya sederhana, yakni memperoleh hak yang sama atas infrastruktur yang layak sebagaimana dinikmati wilayah lain. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, semangat gotong royong yang telah tumbuh di tingkat akar rumput diharapkan dapat menjadi energi positif untuk mempercepat pemerataan pembangunan di Kabupaten Malang.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *