Batu, Pendidikannasional.id- Dalam rangka melestarikan adat dan budaya serta syiar, kini suatu Padepokan Jama’ah Dzikir Wengi Padange Ati telah menggelar, Ruwatan Buang Sukerto dan sekaligus mengadakan Aqiqah yang bertempat di Padepokan Jama’ah Dzikir Wengi pada hari Jum’at, (28/06/2024 ). Pada sekitar pukul 20.00 Wib.

Adapun dalam kegiatan tersebut turut hadir para tokoh agama, tokoh masyarakat, Dua anak lelaki dan Satu anak Prempuan ( yang diruwat )beserta orang tua masing masing,dan seluruh para jama’ah Dzikir Wengi Padange Ati dan seluruh undangan yang hadir.
Pada kesempatanya RT. H. Sutrisno selaku pengasuh Padepokan Dzikir Wengi Padange Ati mengemukakan bahwa bersyukur padepokan ini sedikit demi sedikit sudah memberikan sumbang sihnya pada saudara kita yang perlu untuk diberikan suatu penerang penyejuk hati, adanya Padepokan Padange Ati yang ada di Desa Temas sudah di lindungi dengan badan hukum yang sah, sudah ada Kemenkumham dan serta di dukung dengan pihak kelurahan dan masyarakat. Sudah dinyatakan tidak ada jalur jalur atau ajaran ajaran yang sesat.

” Bersyukur sekali disini sebagai tempat munajad dan berdoa semua dari kalangan apapun dan kami siap menerimanya. Disini bukan hanya Islam saja, Hindu, Budha, Kristiani dan lain sebagainya sehingga kami siap menerima semuanya. Disini tanpa dipungut biaya sepeserpun, makan dan minum apapun seadanya sudah lebih dari cukup, tidak ada dari pihak pihak pemerintah yang peduli dengan adanya Yayasan ini,semuanya di sengkuyung oleh seluruh jama’ah sendiri.” Ungkapnya.
Mbah Tris sapaanya juga menambabkan,” Ada orang gila, ada yang sakit dan segala macam, disinilah tempatnya untuk siap mendapat terapi untuk kesembuhan, jadi intinya Padepokan Padange Ati ini adalah dalam suatu misi misi orang yang membutuhkan. Kalau asal usul Padepokan Padange Ati jika diurutkan secara kronologi itu dari eyang eyang kami Ponorogo telah diturunkan kepada saya keilmuan ke ilmuan yang kita kolaborasi jawa, islam karena sebelum islam masuk jawa sudah ada.” Tambahnya.
Jadi Kitab Zabur, Taurot,Injil itu disempurnakan dengan Al-Qur’an tetapi orang jawa sudah mempunyai pegangan tauhid, yang dikatakan orang jawa ( Ngunduh Wohe Pangertine dewe dewe ) itu pun juga dikatakan Tauhid.

“Kita bersyukur sudah mempunyai cabang antara lain ada di Kota Pasuruan, Kemudian di daerah Saradan, dan daerah yang lain lainya. Maka ke kompakan dan ke guyupan para jama’ah atau santri santri ini lah yang menjadikan padepokan itu besar, sehingga maka dari itu budaya dan agama satukan tidak ada batas batas karena adanya budaya itu menjadi suatu kekuatan kita dalam mujahadah atau suluk dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.” Terangnya.
Pada kesempatan yang berbeda, salah satu mewakili santri atau jama’ah dengan nama panggilanya, Gus Mad menyampaikan bahwa, basik Padepokan Dzikir Wengi Padange Ati ini mengutip dari ungkapan bapak proklamator kita Ir. Soekarno yang mengatakan, Kalau ingin menjadi islam jangan menjadi orang arab, kalau anda ingin menjadi Hindu jangan menjadi orang India, dan kalau menjadi Kristiani janganlah menjadi orang Yahudi, jadi saya kira garis besarnya adalah mengapa kita bisa menerima dari semua ajaran yaitu kita intinya mengayomi.
” Jadi contohnya pada saat ini prosesi ruwatan sekaligus prosesi Aqiqoh, secara hakikat meteri atau ruwatan tidak ada dan dalam agama islam pun tidak ada maka inilah salah satu budaya yang kita lupakan, sehingga dengan kegiatan seperti ini merupakan pelestarian adat dan budaya serta sarana Syiar yang sangat mudah diterima dalam masyarakat jawa.” Pungkasnya. ( Adi ).
ada maka inilah salah satu budaya yang kita lupakan, sehingga dengan kegiatan seperti ini merupakan pelestarian adat dan budaya serta sarana Syiar yang sangat mudah diterima dalam masyarakat jawa.” Pungkasnya. ( Adi ).




