Festival Jenang Suro Meriahkan Selamatan Desa Bumiaji, Perkuat Gotong Royong dan Pelestarian Budaya Leluhur
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal terlihat kuat dalam gelaran Festival Jenang Suro yang menjadi bagian dari rangkaian Selamatan Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Kegiatan yang diikuti seluruh Rukun Warga (RW) di Desa Bumiaji tersebut berlangsung meriah dengan menampilkan beragam kreasi Jenang Suro bernuansa tradisional.
Sebanyak 12 RW turut ambil bagian dalam festival yang telah menjadi agenda tahunan desa tersebut. Masing-masing RW menghadirkan karya kreatif berbahan hasil bumi lokal yang dikemas dalam bentuk dan tampilan unik, mencerminkan kekayaan tradisi sekaligus inovasi masyarakat Desa Bumiaji.

Kepala Desa Bumiaji, Edy Suyanto, menjelaskan bahwa Festival Jenang Suro tidak sekadar menjadi perayaan budaya, melainkan juga sarana memperkuat nilai-nilai sosial yang telah diwariskan oleh para leluhur.
“Festival Jenang Suro merupakan agenda rutin Desa Bumiaji. Tujuan utamanya adalah mengangkat tradisi bulan Muharam sekaligus menumbuhkan kembali semangat gotong royong, persatuan, dan kebersamaan masyarakat. Kami berharap Desa Bumiaji semakin maju tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya luhur yang menjadi identitas desa,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi media silaturahmi antar warga dari seluruh wilayah Desa Bumiaji. Selain itu, festival menjadi ruang untuk menampilkan potensi hasil bumi desa yang diwujudkan melalui kreativitas masyarakat dalam mengolah dan menyajikan Jenang Suro.
“Bentuk dan model Jenang Suro yang ditampilkan sepenuhnya merupakan ide masyarakat. Pemerintah desa tidak mengarahkan desainnya. Kami hanya mengajak warga untuk bersama-sama memperingati bulan Muharam sambil tetap menjaga budaya warisan leluhur,” tambahnya.

Tradisi yang Terus Berkembang
Edy menjelaskan, tradisi selamatan desa dengan konsep yang melibatkan seluruh elemen masyarakat mulai dirintis sekitar lima tahun lalu. Awalnya kegiatan hanya dilaksanakan oleh empat dusun di lingkungan kantor desa. Seiring meningkatnya partisipasi warga, kegiatan tersebut berkembang menjadi agenda tahunan berskala desa dengan tema besar “Bumiaji Tradisional”.
Rangkaian kegiatan Selamatan Desa Bumiaji telah dimulai sejak 1 Muharam dengan doa bersama dan khataman Al-Qur’an. Setelah Festival Jenang Suro, agenda akan dilanjutkan dengan Kirab Tumpeng Hasil Bumi Desa Bumiaji yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu mendatang.
Puncak perayaan akan digelar melalui tradisi Idher Tongo atau Selamatan Desa Bumiaji yang bertujuan memanjatkan doa bagi seluruh masyarakat dan makhluk hidup di wilayah desa, sekaligus memohon keberkahan agar Desa Bumiaji senantiasa diberikan kemakmuran dan kesejahteraan.
“Kami berharap kegiatan ini menjadi momentum mempererat silaturahmi dan menyatukan visi seluruh warga untuk membangun Desa Bumiaji yang lebih baik tanpa meninggalkan akar budaya yang telah diwariskan para sesepuh dan tokoh desa,” tuturnya.

Bulan Suro Sebagai Momentum Refleksi Diri
Dalam sambutannya, Kepala Desa Bumiaji juga mengajak masyarakat memahami makna filosofis bulan Suro atau Muharam dalam tradisi Jawa.
Menurutnya, bulan Suro bukan hanya identik dengan berbagai ritual budaya, tetapi juga menjadi momentum introspeksi diri. Masyarakat diajak untuk membersihkan pikiran, ucapan, dan perilaku sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas spiritual dan sosial.
“Bulan Suro merupakan bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Jawa, bulan ini menjadi waktu untuk melakukan perenungan diri, memperbaiki hubungan dengan sesama manusia dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT,” ungkapnya.
Ia menambahkan, semangat kebersamaan yang tercermin dalam Festival Jenang Suro menjadi wujud nyata implementasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Warga Antusias Lestarikan Warisan Budaya
Salah satu peserta festival, Jumain selaku Ketua RW 08 Desa Bumiaji, menyampaikan harapannya agar kegiatan tersebut dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menjaga identitas budaya lokal.
“Harapan kami, Festival Jenang Suro tetap dilestarikan sebagai bentuk nguri-uri budaya Jawa dan warisan leluhur yang harus dijaga bersama,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa Jenang Suro yang ditampilkan oleh warga dibuat dari berbagai bahan hasil pertanian lokal seperti beras, kelapa, kentang, palawija, dan ubi jalar. Proses memasaknya memerlukan waktu sekitar tiga jam, sementara persiapan keseluruhan dilakukan selama dua hingga tiga hari secara gotong royong oleh warga.

Ketua RW 06 Dusun Mberu, Suparman, mengungkapkan bahwa kehadiran Jenang Suro sangat mendukung budaya sosial masyarakat dan menjadi aktivitas yang wajib dilakukan setiap tahunnya. Menurutnya, tradisi ini berkaitan erat dengan momentum bulan Suro yang dalam penanggalan Jawa dikenal sebagai Sasi Lanang.
Jenang Suro memiliki komposisi bahan yang sarat akan makna syukur terhadap hasil bumi. Bahan utamanya terdiri dari berbagai jenis wiji-wijian (biji-bijian), yang mencakup hasil pertanian seperti polo pendem (umbi-umbian) dan polo gembantung (buah/sayuran yang menggantung).

Lebih jauh, Suparman menjelaskan bahwa Jenang Suro merupakan simbol filosofis dari asal-usul penciptaan manusia. Unsur warna dan tekstur dalam jenang tersebut melambangkan perpaduan sel darah merah dan sel darah putih.
“Jenang Suro itu mengandung unsur sel darah merah dan darah putih yang menyatu menjadi satu. Hal tersebut melambangkan terwujudnya embrio atau jabang bayi, sebagai awal mula kehidupan manusia,” ujar Suparman saat menjelaskan makna di balik sajian tersebut.
Pemilihan bulan Suro sebagai waktu pelaksanaan juga didasari atas kepercayaan bahwa bulan ini adalah masa untuk mengangkat “benih” atau awal mula yang baru. Melalui kegiatan Selamatan Desa ini, diharapkan muncul kreativitas baru di kalangan seluruh warga Desa Bumiaji, khususnya warga Dusun Mberu.

Suparman berharap melalui tradisi ini, generasi muda dan masyarakat umum dapat lebih mengenal dan memahami esensi dari bulan Suro serta filosofi mendalam yang terkandung dalam Jenang Suro.
“Harapan kami, semua warga Bumiaji bisa mengerti dan mengenal apa itu bulan Suro dan apa maksud dari tradisi Jenang Suro ini sebenarnya,” pungkasnya.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan persiapan menunjukkan bahwa Festival Jenang Suro bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang pembelajaran sosial yang menanamkan nilai kolaborasi, kepedulian, dan penghormatan terhadap tradisi.
Melalui kegiatan ini, Desa Bumiaji berhasil menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pembangunan masyarakat. Tradisi tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi untuk memperkuat identitas, solidaritas, dan kemajuan desa di masa depan.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




