Desa Sumbergondo Gelar Festival Njenang, Doakan Kedamaian & Kelestarian Bumi

https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia

Festival Njenang Sumbergondo.Merajut Asa Kesejahteraan, Melestarikan Warisan Leluhur di Usia ke-196

Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Aroma manis dan harum dari kuali-kuali besar memenuhi udara sejuk Rest Area Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada Minggu (22/12/2025). Puluhan warga dari berbagai usia dengan semangat bergotong royong mengaduk jenang (bubur tradisional) dalam sebuah ritus budaya yang sarat makna. Festival Njenang dengan tema “Swasti Praja Manggala Bhumi Lestari” (Doa Keselamatan bagi Pemimpin dan Kelestarian Bumi) ini bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan napas panjang tradisi selamatan desa yang menginjak usia ke-196 tahun.

Acara yang diikuti secara antusias oleh seluruh tujuh Rukun Warga (RW) dari tiga dusun (Segundu, Sengonan, dan Tegalsari) ini menjadi bukti nyata vitalitas kearifan lokal di tengah derasnya modernisasi. Setiap RW secara mandiri menyiapkan 40 hingga 50 kilogram bahan untuk diolah menjadi jenang, yang setelah matang, akan dibagikan secara merata ke setiap rumah di Sumbergondo. Sebuah simbol kebersamaan dan pemerataan yang konkret.

Kepala Desa Sumbergondo ketika di lokasi Festival Njenang
Kepala Desa Sumbergondo ketika di lokasi Festival Njenang

Kepala Desa Sumbergondo, Hadi Purwanto, dalam sambutannya menegaskan dimensi filosofis yang dalam dari tradisi ini. “Festival Njenang ini merupakan bentuk uri-uri (pelestarian) budaya leluhur para pendahulu kita. Filosofi njenang mengingatkan kita pada gulali atau jolali, yaitu agar jangan sampai lupa pada akar budaya,” ujarnya.

Ia melanjutkan, proses pencampuran berbagai bahan menjadi satu adonan jenang yang harmonis merupakan metafora yang kuat. “Ini simbol penyatuan untuk mewujudkan kesatuan, guyub rukun, dan gotong royong warga masyarakat. Harapannya, melalui njenang ini, rasa kebersamaan itu menguat tanpa disadari, menjadi perekat sosial di lingkungan Desa Sumbergondo.”

Ketua Panitia ketika menjelaskan terkait Festival Njenang
Ketua Panitia ketika menjelaskan terkait Festival Njenang

Senada dengan itu, Ketua Panitia Festival, Suyono Wahyudi, menyatakan bahwa event ini dirancang sebagai momentum refleksi dan penguatan jati diri. “Tujuan kami jelas, setelah festival ini digelar, semoga semangat keguyuban, kegotongroyongan, dan kesadaran akan budaya serta leluhur kami semakin hidup,” tutur Suyono.

Di balik kesederhanaan sajiannya, jenang dalam tradisi Jawa memendam lapis-lapis makna edukatif. Rasa manis yang dominan bukan tanpa alasan. Ia merupakan visualisasi doa dan harapan kolektif agar kehidupan masyarakat senantiasa dipenuhi kedamaian, kesejahteraan, dan “kemanaan”. Proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kerja sama adalah sekolah langsung nilai-nilai luhur.

Salah satu peserta Festival Njenang selamatan Desa Sumbergondo
Salah satu peserta Festival Njenang selamatan Desa Sumbergondo

Tradisi selamatan desa seperti ini, menurut pengamat budaya lokal, berfungsi sebagai penegasan hubungan tripartit yang harmonis,antara manusia dengan sesamanya (lewat gotong royong), manusia dengan alam (dengan menggunakan hasil bumi lokal), dan manusia dengan Sang Pencipta (sebagai wujud syukur). Festival Njenang Sumbergondo dengan tema kelestarian bumi secara khusus menyoroti hubungan kedua, mengingatkan akan tanggung jawab kolektif menjaga lingkungan.

Keunikan festival ini terletak pada pendekatannya yang sangat partisipatif dan inklusif. Tidak diselenggarakan oleh segelintir elit budaya, melainkan digerakkan dari, oleh, dan untuk warga. Setiap RW terlibat aktif, menjadikan acara ini milik bersama. Model pelestarian semacam ini dinilai lebih berkelanjutan dan berdaya tahan, karena tertanam dalam praktek sosial sehari-hari komunitas.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/pkn-politeknik-angkatan-darat-82-mahasiswa-diterjunkan-tangani-sampah-dan-perbaiki-infrastruktur-ti-desa/

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Pembagian jenang ke seluruh rumah juga merupakan strategi kebudayaan yang cerdas. Ia memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang terlewat dari berkah dan pesan moral tradisi ini. Setiap suap jenang menjadi pengingat akan ikatan sosial yang menyatukan mereka.

Festival Njenang di hibur oleh artis artis sehingga tampak meriah dan guyub rukun
Festival Njenang di hibur oleh artis artis sehingga tampak meriah dan guyub rukun

Di usia yang hampir dua abad, Selamatan Desa dan Festival Njenang Sumbergondo menunjukkan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis dan usang. Ia mampu beradaptasi, dikemas dalam format festival yang menarik bagi generasi muda, tanpa kehilangan ruhnya. Event seperti ini berpotensi menjadi soft power desa, bukan hanya memperkuat kohesi internal tetapi juga menarik minat wisatawan budaya.

Dengan semangat “Swasti Praja Manggala Bhumi Lestari”, warga Sumbergondo telah membuktikan bahwa melestarikan budaya sama dengan menginvestasikan ketahanan sosial. Dalam kuali jenang yang mereka aduk bersama, terkandung resep abadi untuk membangun masyarakat yang rukun, resilient, dan tidak kehilangan ingatan kolektif. Festival ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah desa merawat masa lalunya dengan penuh syukur, untuk menapaki masa depannya dengan lebih bijak dan bersatu.

 

( Ria ).

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *