Kopi Emboungan Harmoni Seni, Inklusi, dan Kearifan di Bumiaji
Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Sore yang teduh di kawasan Bumiaji, Kota Batu, menjelma menjadi panggung kolaborasi lintas sektor yang sarat makna. Berlangsung pada Jumat (19/6/2026) di Kopi Emboungan, sekelompok aparatur pemerintah dari berbagai dinas, Camat Bumiaji, dan Kepala Desa Bulukerto melebur dalam alunan tembang lawas. Kolaborasi ini bukan sekadar ajang rekreasi, melainkan manifestasi baru dalam merawat harmoni sosial dan ekosistem seni di Kota Wisata Batu.
Kolaborasi yang dimotori oleh Kepala Dinas Pariwisata (Orgen), Kepala Bapelitbangda sebagai drumer, Staff Ahli Kota Batu dan Camat Bumiaji sebagai vokalis, serta Kepala Desa Bulukerto dan pengelola kafe dalam formasi gitar, menciptakan simfoni kekeluargaan . Kehadiran Ketua Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Batu turut memeriahkan suasana.

Kolaborasi Lintas Sektor untuk Inklusi
Camat Bumiaji, Thomas Maydo, menjelaskan bahwa Kopi Emboungan menjadi basecamp bagi kelompok Power of Disabilitas, wadah kreativitas bagi penyandang disabilitas binaan Kecamatan Bumiaji . ”Tempat ini kami jadikan sebagai basis komunitas, para seniman, dan sarana silaturahmi bersama,” ujarnya.
Thomas Maydo juga dikenal sebagai penggerak Shining Disabilitas (Shindi), forum pemberdayaan disabilitas yang mengusung semangat ”everyone can fly” .
Kopi, Seni, dan Pemberdayaan Masyarakat
Kopi Emboungan, dengan konsep sederhana namun kaya, bukan sekadar warung kopi. Tempat ini menyediakan perangkat musik band lengkap, soto, kopi, dan gorengan dengan harga terjangkau.

Gatot Supriyanto atau Bemmo, pengelola Kopi Emboungan sekaligus musisi penyandang disabilitas anggota Shindi, mengaku bersyukur karena tempat ini menjadi ruang berekspresi. “Alhamdulillah, tempat ini bisa saya rawat untuk berjualan sekaligus bermusik,” tuturnya .
Kreativitas sebagai Instrumen Pembangunan
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, menekankan bahwa pariwisata modern tidak bisa lepas dari kualitas sumber daya manusia. ”Kami terus mendorong komunikasi pariwisata yang inklusif dan edukatif, dengan menggandeng komunitas dan media,” jelasnya .
Kepala Bapelitbangda, Bangun Yulianto, menambahkan bahwa kreativitas dan pemberdayaan masyarakat adalah pilar utama pembangunan Kota Batu.
Sementara itu, Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, menilai seni dan budaya menjadi kekuatan dalam mempererat solidaritas masyarakat.
Menuju Ekosistem Seni yang Inklusif
Suasana sore di Kopi Emboungan menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha mampu menciptakan ruang publik yang inklusif. Dari panggung sederhana, para pejabat dan seniman menunjukkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk berkarya. Power of Disabilitas menjadi simbol bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk bersinar .
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kopi Emboungan bukan hanya tempat, melainkan gerakan sosial yang memadukan semangat gotong royong, inklusi, dan pelestarian budaya. Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, ruang sederhana di lereng Bumiaji ini mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar sebuah kota terletak pada kemanusiaan dan kebersamaannya.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




