Di Balik Jenang Suro Songgoriti 2026, Warga Dorong Pelestarian Cagar Budaya

Tradisi Jenang Suro di Songgoriti, Merawat Warisan Budaya dan Menumbuhkan Harapan bagi Generasi Mendatang

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Tradisi Jenang Suro kembali digelar masyarakat Dusun Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah atau malam 1 Suro. Kegiatan yang berlangsung di kawasan bersejarah Candi Songgoriti ini menjadi wujud pelestarian budaya sekaligus sarana memperkuat kebersamaan masyarakat lintas generasi.( 17 Juni 2026 ).

Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga mengandung nilai filosofis yang mendalam. Melalui penyajian jenang putih khas Songgoriti, masyarakat diajak untuk senantiasa eling lan waspada (ingat dan waspada) dalam menjalani kehidupan serta menjaga harmoni sosial di tengah perkembangan zaman.

Lurah Songgokerto ketika di lokasi Njenang Suro.
Lurah Songgokerto ketika di lokasi Njenang Suro.

Lurah Songgokerto, Farianto Masrul, S.Sos., menjelaskan bahwa tradisi Jenang Suro merupakan bagian dari kearifan lokal yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Songgoriti.

“Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya leluhur sekaligus momentum refleksi diri menyambut tahun baru Islam. Harapannya, masyarakat dapat terus menjaga nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan sesama,” ujarnya.

Kasintel Kejari Kota Batu ketika ikut serta menuangkan bahan bahan Jenang
Kasintel Kejari Kota Batu ketika ikut serta menuangkan bahan bahan Jenang

Menurutnya, pelaksanaan Jenang Suro di wilayah Krajan telah memasuki tahun ketiga dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga eksistensi kawasan cagar budaya Songgoriti yang memiliki nilai historis penting bagi Kota Batu.

Budaya yang Tumbuh dari Inisiatif Masyarakat

Farianto menegaskan bahwa tradisi Suronan di Songgoriti lahir dari aspirasi masyarakat dan telah diwariskan secara turun-temurun. Pemerintah kelurahan berperan sebagai fasilitator yang mendukung pelestarian budaya agar tetap hidup dan berkembang.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/desa-sumbergondo-gelar-festival-njenang-doakan-kedamaian-kelestarian-bumi/

“Ini adalah budaya yang tumbuh dari masyarakat sendiri. Karena itu, kami berkewajiban mendukung dan menjaga keberlangsungannya agar tetap menjadi identitas budaya Songgoriti,” katanya.

Salah satu Mocopat Usia Dini di rangkaian Jenang Suro di Candi Songgoriti.
Salah satu Mocopat Usia Dini di rangkaian Jenang Suro di Candi Songgoriti.
Tampak Perwakilan dari Polres Batu ketika ikut menuangkan bahan Jenang Suro.
Tampak Perwakilan dari Polres Batu ketika ikut menuangkan bahan Jenang Suro.

Ia juga meluruskan bahwa kegiatan Jenang Suro berbeda dengan agenda Selamatan Desa yang akan dilaksanakan pada September mendatang. Dalam pelaksanaannya, Selamatan Desa biasanya dirangkai dengan karnaval budaya yang melibatkan tiga wilayah lingkungan, yakni Dusun Krajan, Dusun Tambuh, dan Dusun Songgoriti.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/festival-njenang-sapar-ke-8-ritual-sedekah-tolak-bala-dan-jaga-kelestarian-budaya-jawa/

Candi Songgoriti sebagai Pusat Pelestarian Budaya

Pelaksanaan Jenang Suro dipusatkan di kawasan Candi Songgoriti yang selama ini dikenal sebagai salah satu situs sejarah penting di Kota Batu. Kehadiran para tokoh agama, sesepuh, budayawan, ulama, serta masyarakat umum menunjukkan tingginya kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal.

Wakil Wali Kota Batu ketika memberikan apresiasinya di lokasi Njenang Suro di Candi Songgoriti bersama jajaran Forkopimda.
Wakil Wali Kota Batu ketika memberikan apresiasinya di lokasi Njenang Suro di Candi Songgoriti bersama jajaran Forkopimda.

Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata upaya nguri-uri kabudayan atau menjaga dan melestarikan warisan budaya Jawa.

“Malam ini kita berkumpul di tempat yang memiliki nilai sejarah tinggi. Tradisi Jenang Bareng bukan sekadar memasak jenang, tetapi juga mengandung makna kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur,” ungkapnya.

Salah satu usia dini sedang mocopat ketika di lokasi Candi Songgoriti
Salah satu usia dini sedang mocopat ketika di lokasi Candi Songgoriti

Jenang putih yang menjadi ciri khas Songgoriti memiliki filosofi kesucian, ketulusan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Masyarakat setempat meyakini bahwa rasa jenang yang nikmat menjadi simbol terkabulnya doa dan harapan bagi warga Songgoriti maupun masyarakat Kota Batu secara umum.

Menanamkan Kesadaran Budaya kepada Generasi Muda

Salah satu tujuan utama penyelenggaraan Jenang Suro adalah memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda. Kehadiran anak-anak dan remaja dalam kegiatan tersebut dinilai penting sebagai sarana edukasi budaya sejak dini.

Tampak beberapa IBu - IBu tokoh masyarakat ketika di lokasi Jenang Suro.
Tampak beberapa IBu – IBu tokoh masyarakat ketika di lokasi Jenang Suro.

Para tokoh masyarakat berharap generasi muda tidak hanya mengenal budaya melalui cerita, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pelestariannya.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati kebudayaan para leluhurnya. Karena itu, anak-anak harus diajak mengenal tradisi yang menjadi identitas daerahnya,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/njenang-bareng-cara-kami-merawat-kearifan-lokal/

Pelibatan generasi muda dalam kegiatan budaya diyakini dapat memperkuat rasa memiliki terhadap warisan leluhur sekaligus menjadi benteng menghadapi arus globalisasi yang semakin masif.

Harapan Pengelolaan Situs Sejarah yang Lebih Optimal

Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan Jenang Suro juga menjadi momentum untuk menyampaikan aspirasi masyarakat terkait pengelolaan kawasan Candi Songgoriti dan aset cagar budaya di sekitarnya.

Tampak Para Karang Taruna Masyarakat Songgoriti antusias dalam Jenang Suro.
Tampak Para Karang Taruna Masyarakat Songgoriti antusias dalam Jenang Suro.

Masyarakat berharap pengelolaan kawasan bersejarah tersebut dapat dilakukan secara lebih optimal guna mendukung pelestarian situs sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. Selama ini, status pengelolaan kawasan masih berada di bawah Pemerintah Kabupaten Malang.

Warga menilai bahwa pengembangan kawasan Songgoriti memiliki potensi besar untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Sebagai salah satu destinasi wisata legendaris di kawasan Batu, Songgoriti pernah menjadi tujuan utama wisatawan sebelum berkembangnya berbagai objek wisata modern saat ini.

Tampak antusias masyarakat Songgoriti dalam kegiatan Jenang Suro.
Tampak antusias masyarakat Songgoriti dalam kegiatan Jenang Suro.

Dengan pengelolaan yang terintegrasi dan berkelanjutan, masyarakat berharap Songgoriti dapat kembali menjadi ikon wisata budaya yang mampu memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga nilai sejarah yang dimilikinya.

Simbol Kebersamaan dan Identitas Daerah

Di tengah perubahan sosial yang terus berlangsung, tradisi Jenang Suro membuktikan bahwa budaya lokal tetap memiliki ruang penting dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga menjadi sarana membangun solidaritas sosial, mempererat hubungan antarwarga, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga warisan budaya.

Tampak Ketua Umum PPBN juga turut serta menuangkan bahan Jenang Suro.
Tampak Ketua Umum PPBN juga turut serta menuangkan bahan Jenang Suro.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan yang tercermin dalam tradisi Jenang Suro, masyarakat Songgoriti menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga masa lalu, melainkan juga membangun fondasi bagi masa depan yang lebih berkarakter, berdaya saing, dan berakar kuat pada nilai-nilai kearifan lokal.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup