Sanduk Bocil Kota Batu: Menanamkan Warisan Budaya Tak Benda Sejak Usia Dini
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Sebanyak 103 siswa dari 9 Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mengikuti latihan perdana program “Sanduk Bocil Kota Batu” di Pendopo Bumiaji, Jumat (10/4/2026).
Program ini merupakan upaya pelestarian kesenian tradisional Sanduk yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), sekaligus menargetkan keterlibatan hingga 10.000 penari cilik.

Meresmikan Ruang untuk Budaya
Kegiatan yang berlangsung meriah ini merupakan inisiasi dari Agus Mardianto, yang kemudian dikembangkan khusus untuk anak usia dini sebagai respons atas pengakuan resmi Sanduk sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Camat Bumiaji, Thomas Maydo, S.Sos., secara tegas menyatakan komitmennya terhadap kebebasan berekspresi budaya. “Pendopo ini kami buka seluas-luasnya untuk masyarakat, kelompok mana pun. Hari ini kami gunakan untuk latihan Sanduk anak usia dini. Ke depan, ruang ini bisa untuk latihan, pernikahan, rapat, atau kegiatan positif lainnya,” ujarnya. Pernyataan ini menjadi angin segar bagi pegiat seni bahwa ruang publik memang layak dihidupi oleh aktivitas budaya, bukan sekadar fungsi seremonial belaka.

Mengapa Sanduk Bocil Lahir?
Di balik riuh rendah suara gamelan dan tawa anak-anak, terdapat gerakan terstruktur yang matang. Agus Mardianto, selaku Pembina dan Koordinator Sanduk Bocil Kota Batu di Among Tani Modern sekaligus penggagas dari Karsa Budaya Wiswantara Padepokan Gunung Ukir, menjelaskan bahwa pembentukan Sanduk Bocil bukanlah proyek dadakan.
“Kelompok ini adalah hasil kolaborasi dari berbagai sekolah yang tergabung dalam Kelompok Kerja Guru (KKG) Bahasa Jawa, di bawah naungan Dinas Pendidikan Kota Batu,” jelas Agus. Mandat pembentukan ini datang langsung dari Ibu Katrin selaku Ketua Umum, yang bertujuan menjaga status Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang telah diraih kesenian Sanduk.
Sanduk, bersama Jaran Kepang dan Bantengan, adalah tiga kesenian ikonik Kota Batu yang telah memiliki Surat Keputusan (SK) resmi sebagai WBTB. Namun, memiliki status saja tidak cukup. Tanpa regenerasi, sebuah warisan akan menjadi fosil. Oleh karena itu, program ini memiliki tiga pilar utama: pelestarian, pengembangan, dan pemajuan budaya melalui kaderisasi sejak usia dini.
Strategi “Pindah Gawang”: Seniman Menjemput Bola
Salah satu terobosan paling menarik dalam program ini adalah strategi “pindah gawang” atau jemput bola. Para seniman dan guru tidak lagi menunggu anak-anak datang ke sanggar, melainkan aktif mendatangi sekolah-sekolah.
Kesenian Sanduk kini dijadikan sebagai materi ekstrakurikuler. Dengan cara ini, budaya tidak lagi terkesan eksklusif atau sulit diakses, melainkan menyatu dengan rutinitas pendidikan anak. “Kami ingin membangkitkan minat generasi muda di tengah derasnya teknologi. Tari dan karawitan harus dirasakan, bukan hanya dilihat di layar,” tambah Agus.
Musrenbang Kecamatan Bumiaji Berubah Jadi Panggung Budaya, Labuni dan Sanduk Mbatu Aji Pukau Hadirin
Antusiasme Guru dan Murid: Harapan di Setiap Gerak Tari
Latihan perdana ini diikuti oleh 103 anak dari 9 sekolah. Namun, gaungnya sudah terdengar lebih luas. Direncanakan pada tanggal 12 April mendatang, akan melibatkan 15 sekolah dalam acara Halal Bihalal Sanduk se-Kota Batu. Target yang lebih ambisius adalah menampilkan 10.000 Sanduk Bocil se-Kota Batu untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional, menyamai kesuksesan festival budaya seperti Gandrung Sewu di Banyuwangi atau Seribu Remo di Surabaya.

Para guru pun menyambut dengan antusias. Diash Velina Sindy Maharani,S.Pd., guru dari SDN Sumbergondo 02, membawa sekitar 20 siswa didiknya. “Ini latihan Sanduk yang pertama. Harapan saya, kegiatan ini bisa berkembang dan memajukan kesenian Kota Batu lebih baik lagi. Saya bangga murid-murid saya bisa berkontribusi langsung dalam pelestarian budaya,” ujarnya. Murid-murid yang ikut berasal dari kelas 1 hingga 5 (kelas 6 tidak dilibatkan karena sedang ujian TKA).

Hal senada disampaikan Dewi Maslamah, guru kelas 1 sekaligus anggota KKG Bahasa Jawa dari kelompok Panembromo Kota Batu. Ia membawa 10 siswa kelas 4 dengan komposisi 4 putra dan 6 putri. “Kami ingin anak-anak mengenal lebih jauh tentang kesenian Sanduk dan budaya lainnya. Bukan sekadar teori di buku, tetapi praktik yang membumi,” tuturnya.
Makna Filosofis: Guyub Rukun Sedoyo Sae
Lebih dari sekadar gerakan tari dan alunan gamelan, Sanduk Bocil adalah medium pendidikan karakter. Semangat yang terpancar dari latihan ini adalah “guyub rukun sedoyo sae” (rukun dan harmonis, semuanya baik). Anak-anak belajar bekerja sama, menghargai ketepatan irama, serta mengasah kepekaan estetika dan sosial.

Dengan mengembalikan seni ke pangkuan anak-anak, Kota Batu tidak hanya sedang melestarikan sebuah tarian, tetapi juga sedang membangun fondasi identitas budaya yang tangguh. Sanduk Bocil bukan sekadar nama lucu; ia adalah gerakan kolektif untuk membuktikan bahwa kebudayaan lokal bisa tetap hidup, dinamis, dan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kesimpulan
Inisiatif Sanduk Bocil di Kota Batu layak menjadi studi kasus keberhasilan kolaborasi lintas sektor: pemerintah kecamatan, dinas pendidikan, KKG guru, seniman lokal, serta partisipasi aktif sekolah dan orang tua. Ketika anak-anak menari Sanduk, mereka tidak sedang belajar masa lalu. Mereka sedang menciptakan masa depan. Dan di Pendopo Bumiaji pagi itu, masa depan terlihat sangat ceria, penuh warna, dan membanggakan.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.


Tampak anak anak mengikuti pelatihnya dalam menggerakan tarian sanduknya.( Foto : Tim Redaksi ). 
