Panen Raya Apel Tulungrejo Wali Kota Batu dan Petani Buktikan “Apel Batu Tak Habis”
Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah isu keterpurukan sektor hortikultura perkotaan, Pemerintah Kota Batu bersama para petani di Dusun Gimbo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, menggelar panen raya apel dengan tema “Sambung Roso Sambung Makaryo Mbatu Sae Seduluran Saklawase” (Memperkuat Tekad dan Kerja Bersama untuk Batu yang Baik, Persaudaraan Seumur Hidup). Acara yang berlangsung Kamis,09 April 2026 pagi ini menjadi momen strategis membantah stigma “Apel Batu habis” sekaligus menyusun kembali strategi masa depan pertanian di Kota Batu.

Lahan Menyusut, Tapi Apel Batu Masih Bertahan
Kepala Dinas Pertanian Kota Batu, dalam laporannya, memaparkan data yang mencengangkan. Luas lahan apel di Kota Batu mengalami penyusutan drastis dari puncak kejayaan 3.000 hektar pada era 1980-an menjadi hanya 700 hektar pada 2024 berdasarkan data BPS. Namun, di balik angka tersebut, Desa Tulungrejo masih menyisakan 300 hektar lahan produktif, sebuah kantong vital yang menjadi tulang punggung komoditas apel di wilayah Bumiaji.
Ketua Kelompok Tani “Maju”, yang akrab disapa Pak Herman, dengan lantang menepis skeptisisme publik. “Banyak selentingan investor dan wisatawan menganggap Apel Batu sudah habis. Hari ini kami buktikan bahwa Apel Batu masih ada, dan perjuangan petani masih menyala. Jika perlu, kita undang Pak Menteri bahkan Pak Presiden ke sini,” ujarnya di hadapan Wali Kota dan jajaran SKPD.

Wali Kota Nurochman: Sektor Pertanian Harus Tumbuh Signifikan
Dalam sambutannya, Wali Kota Batu, Nurochman, mengakui bahwa data makro ekonomi masih menunjukkan pertumbuhan sektor pertanian yang lambat. “Pada tahun 2025, sektor pertanian hanya tumbuh 1,5%. Di tahun 2026 ini, kita harus merangkak naik secara signifikan. Kehadiran BPS sengaja saya undang untuk memastikan data kita akurat dan korelatif dengan realitas lapangan,” tegasnya.
Lebih dari sekadar seremoni, Nurochman menekankan bahwa panen raya ini adalah bentuk publikasi ilmiah dan sosial bahwa ekosistem agrikultural Kota Batu masih eksis dan kompetitif. Bahkan, ia mencatat bahwa lokasi panen di lahan seluas 1.200 meter persegi dengan 200-300 pohon ini mampu menghasilkan 3 ton apel per musim panen.
Camat Bumiaji Dukung Ketahanan Pangan dan Tekan Angka Stunting
Empat Pilar Strategi Regenerasi Pertanian
Puncak acara diisi dengan arahan teknis Wali Kota yang berfokus pada empat solusi konkret bagi keberlanjutan apel Batu.
1. Regenerasi Melalui Pembibitan Lokal
Wali Kota mendorong kelompok tani untuk mandiri dalam pembibitan, tidak lagi bergantung pada pihak ketiga luar daerah. “Petani harus berbadan hukum, seperti PT atau CV, agar bisa menjadi mitra resmi Dinas Pertanian. Kami akan membeli bibit dari petani lokal, dengan standar kualitas batang minimal sebesar jempol ( IBu Jari ),” jelasnya. Langkah ini untuk memastikan riwayat bibit (traceability) jelas dan adaptif terhadap iklim Bumiaji.
2. Subsidi Pupuk untuk Lahan Kering
Persoalan klasik pupuk subsidi menjadi sorotan. Selama ini, alokasi pupuk lebih dominan untuk lahan sawah (pertanian basah), sementara Batu didominasi tegalan. Nurochman berkomitmen mengirimkan surat rekomendasi ke Kementerian Pertanian agar komoditas apel, kentang, dan sawi putih masuk daftar penerima subsidi. “Lahan kering juga butuh perhatian,” tegasnya.
3. Adaptasi Perubahan Iklim dan Varietas
Bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemkot Batu akan melakukan riset varietas apel baru yang lebih tahan penyakit dan anomali iklim. “Kita fokus pada solusi konkret. BRIN akan membantu analisa dan penelitian sesuai kebutuhan petani di sini,” tambahnya.
4. Peran Koperasi COOSAE sebagai Agregator Modern
Menjawab tantangan distribusi dan fluktuasi harga, Wali Kota memperkenalkan Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (COOSAE). Koperasi ini akan berperan sebagai agregator yang memetakan segmen pasar modern, termasuk hotel, restoran, dan kafe, tanpa mematikan peran juragan tradisional. “COOSAE bukan untuk monopoli, tetapi untuk menjadi ‘sekoci’ yang membantu petani menembus pasar seperti program SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi). Saya berharap dapur makanan bergizi gratis di Batu menggunakan buah-buahan dari petani kita sendiri,” ujarnya.
Panen Besar Besaran di Lahan Ketahanan Pangan Kostrad Ciemas Sukabumi
Aspirasi Infrastruktur dan Penerangan
Para petani yang diwakili Pak Herman juga menyuarakan kebutuhan mendesak akan akses jalan dan penerangan. Rencana peralihan alat penyemprot dari BBM ke dinamo listrik terkendala minimnya infrastruktur kelistrikan di kebun-kebun apel lapis kedua. Wali Kota merespons positif dengan memastikan anggaran APBD 2026 akan dialokasikan untuk perbaikan titik-titik infrastruktur yang diusulkan, terutama untuk mendukung agrowisata petik apel.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/umum/ansor-tawangargo-utara-perkuat-nilai-kebersamaan/
Penutup: Apel Batu bukan sekedar nostalgia, tetapi masa depan ekonomi petani
Di akhir sambutannya, Wali Kota memberikan instruksi tegas kepada Kepala Dinas Pertanian. “Lakukan perubahan sesuai kebutuhan petani. Jika bantuan alat mesin pertanian (alsintan) sudah cukup, alihkan ke bentuk bantuan lain yang lebih dibutuhkan. Jangan hanya hadir saat panen, tetapi sejak masa tanam.”
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Panen raya ini menjadi penanda penting bahwa Apel Batu bukanlah monumen masa lalu, melainkan proyek kebudayaan agraris yang terus beradaptasi. Dengan kolaborasi antara riset, subsidi tepat sasaran, dan koperasi modern, Kota Batu berharap apel tidak hanya menjadi cerita nostalgia 1980-an, tetapi menjadi komoditas masa depan yang menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Penulis : Ria.
Editor : Tim Redaksi.


Panen Raya Apel 2026 di Desa Tulungrejo bersama Wali Kota dan Wakil Walikota Batu, hasilkan 3 Ton. ( Foto : Ilustrasi ). 
