Dwi, Pemuda Autis Multitalenta dari Lereng Panderman yang Menanti Perhatian Kota Batu
Kota Batu, Pesanggrahan, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di sebuah dusun di lereng Gunung Panderman, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, hidup seorang pemuda istimewa yang membuktikan bahwa disabilitas bukanlah batas untuk berkarya dan berprestasi. Dwi Nur Alif Setyawan (20 tahun), penyandang autis, telah menjelma menjadi sosok multitalenta yang aktif di kancah seni dan kreatif Kota Malang. Namun, di balik segudang prestasinya, tersimpan harap agar kota kelahirannya, Batu, lebih melirik dan memberi ruang bagi potensi anak-anak disabilitasnya.
Perjalanan Dwi tidaklah mudah. Sejak usia satu tahun, orang tuanya, Kusrianto dan Sugiati, sudah menyadari keunikan putra kedua mereka. Berbagai upaya pengobatan dan terapi telah ditempuh, meski perkembangan yang diharapkan tak kunjung datang seperti pada umumnya. Namun, keluarga tidak menyerah. Dwi diajak terlibat dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari membantu ibunya membungkus makanan ringan hingga ikut memasarkannya ke sekolah-sekolah.

Pandemi Covid-19 justru menjadi titik balik. Agar Dwi tetap aktif, kakaknya, Fajar Surya Lesmana, mulai mengabadikan setiap kegiatan Dwi dan membagikannya di media sosial. Respons yang datang sungguh di luar dugaan. Banyak yang terinspirasi dan memberi dukungan. Melihat bakat dan minatnya, Dwi kemudian didaftarkan untuk mengikuti les musik di Kota Malang. Bakatnya ternyata tak hanya di musik. Dwi pun mulai mengeksplorasi dunia puisi, belajar membawakannya dengan penjiwaan, dan kini bahkan aktif mempelajari desain grafis.

Dalam kurun waktu sekitar satu tahun lebih, pemuda yang lulus dari SLB Eka Mandiri pada 2023 ini telah mengikuti berbagai perlombaan, baik secara online di masa pandemi maupun luring setelahnya. Bidangnya beragam mulai dari baca puisi, musik, mengaji, hingga fotografi. Hasilnya, puluhan piala, piagam, dan sertifikat telah menghiasi rak prestasinya.

Demi mengasah kemampuannya lebih jauh, Dwi aktif bergabung dengan berbagai komunitas disabilitas di Kota Malang. Dedikasinya pun menarik perhatian banyak pihak. Ia kerap diundang untuk mengisi acara di berbagai tempat bergengsi di Malang, termasuk di gedung Malang Creative Center (MCC). Prestasi tertingginya mungkin saat ia dipercaya tampil menyambut delegasi badan dunia UNESCO di Universitas Brawijaya. Tak hanya solo, Dwi juga membentuk sebuah band yang seluruh personelnya adalah anak-anak disabilitas, menunjukkan semangat inklusivitas dan kolaborasi.
Hebatnya, semangat kemandirian Dwi sangat kuat. Ia pernah membeli komputer sendiri dari hasil mengamen di berbagai kampus dan tempat di Malang. “Semua ini berawal dari media sosial dan dukungan keluarga, terutama kakaknya,” ujar orang tuanya.

Namun, di balik gemerlap apresiasi yang ia terima di Malang, terselip rasa kecewa yang dalam. Keluarga merasa bahwa belum ada perhatian yang signifikan dari Pemerintah Kota Batu terhadap potensi besar yang dimiliki Dwi. Padahal, ia adalah putra asli Batu yang telah mengharumkan nama daerah di tingkat yang lebih luas.
“Duwi sering diundang untuk mengisi acara di Kota Malang oleh berbagai tokoh, seperti Wali Kota Malang dan anggota DPRD. Tapi di Kota Batu sendiri, kami masih menunggu perhatian yang sama,” keluh salah satu anggota keluarga.

Beberapa pejabat Kota Batu, dari Dinas Sosial dan Pak Iteng dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparta), memang pernah berkunjung ke kediaman Dwi. Kunjungan itu justru membuat mereka tersentak. “Pak Iteng sempat merasa kecolongan karena baru mengetahui potensi luar biasa Duwi setelah sekian lama,” cerita keluarga.

Harapan ke depan sangat jelas. Keluarga besar Dwi berharap Pemerintah Kota Batu dapat lebih membuka mata dan hati terhadap talenta-talenta lokal, khususnya dari kalangan disabilitas. Mereka mendambakan Dwi dan anak-anak berprestasi lainnya mendapat kesempatan untuk tampil dan berkontribusi di event-event resmi maupun tempat-tempat wisata di Kota Batu sendiri.

“Kami hanya ingin pemerintah kota melirik warganya sendiri. Anak-anak seperti Dwi butuh wadah dan dukungan untuk menunjukkan bahwa mereka bisa berkarya dan membanggakan daerah asalnya,” harap mereka.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Kisah Dwi adalah potret nyata tentang semangat, ketekunan, dan potensi yang sering kali tersembunyi di balik keterbatasan. Ia telah membuktikan diri di Malang. Kini, saatnya Kota Batu, sebagai tanah kelahirannya, memberikan panggung yang layak untuk putra terbaiknya yang multitalenta ini. Dukungan yang tepat bukan hanya akan memajukan Dwi, tetapi juga menjadi pesan kuat tentang inklusivitas dan pengakuan terhadap kemampuan setiap warga, tanpa terkecuali.
( Ria ).


Dwi dengan 90 lebih Piala serta puluhan Piagam dan Sertifikat ( Foto : Doc ). 
