Cegah Lunturnya Budaya, MIMU Batu Kenalkan Kuliner Tradisional ke Generasi Z di Milad ke-102

Milad ke-102 MIMU, Merayakan Keberagaman Kuliner dan Budaya, Memperkuat Identitas Generasi Muda

Kota Batu, PENDIDIDKANNASIONAL.ID – Suasana meriah dan penuh warna menyelimuti perayaan Milad ke-102 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum (MIMU) pada hari ini. Acara yang bertajuk peringatan hari jadi sekolah ini tidak hanya diisi dengan seremonial, tetapi juga menjadi wahana edukasi dan ekspresi kreativitas. Dua elemen utama yang mencolok adalah gelaran stan UMKM yang menyajikan kuliner Nusantara dan penampilan unik peserta serta wali murid dengan beragam pakaian adat dan tema, menciptakan perpaduan antara pelestarian budaya dan semangat kekinian.( 31/01/2026 ). 

Di antara keriuhan stan, salah satu yang menarik perhatian adalah stan “Kuliner Nusantara” yang dikelola secara gotong royong oleh wali murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Ibu Titik, salah satu pengurus stan, menjelaskan filosofi di balik booth mereka. 

Ibu Titik dan Ibu Sina menunjukkan jajanan tradisional Batu
Ibu Titik dan Ibu Sina menunjukkan jajanan tradisional Batu

“Tema stan kami adalah ‘Kuliner Nusantara’. Di zaman sekarang, anak-anak generasi Z biasanya kurang mengenal makanan tradisional. Jadi, di sini kami mengombinasikan makanan kekinian dengan makanan tradisional era dulu,” ujarnya Titik. 

Stan tersebut menawarkan beragam jajanan yang sarat nilai lokal Batu, seperti lemet, cerme, nasi empok, dan camilan pentol dower, disertai es jeruk segar. Menurut Ibu Sina, rekan Ibu Titik, langkah ini adalah upaya konkret untuk mengenalkan kembali kekayaan kuliner daerah kepada peserta didik. 

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/indonesia-dan-6-negara-asia-tenggara-kolaborasi-tingkatkan-penyitaan-aset-kripto/

“Harapannya agar anak-anak bisa lebih mengenal makanan tradisional, khususnya dari Kota Batu, sehingga mereka tidak hanya mengenal makanan instan dari aplikasi pesan antar. Dengan begitu, mereka bisa mengonsumsi makanan yang lebih sehat dan memahami warisan budayanya,” papar Ibu Sina dengan semangat.

Salah satu peserta pakaian unik, Ibu Eti bersama Farah ketika mengikuti jalan sehat
Salah satu peserta pakaian unik, Ibu Eti bersama Farah ketika mengikuti jalan sehat

Sementara itu, di antara kerumunan peserta, tampil Ibu Eti dan putrinya, Farah Azizah Karimah, siswa kelas 6, dengan pakaian unik yang menarik perhatian. Ibu Eti, yang berasal dari Sisir, Kali Putih, sengaja memilih kostum tersebut untuk memeriahkan acara. 

“Biar unik untuk menyambut Milad-nya MI ini,” katanya dengan senyum. Farah, yang tampil percaya diri, menyampaikan harapannya atas kegiatan ini, “Semoga MI semakin sukses, semakin maju.”tambah Farah. 

Salah satu UMKM Wali murid dengan salah satu produk unggulanya
Salah satu UMKM Wali murid dengan salah satu produk unggulanya

Ibu Eti juga mengungkapkan keinginan agar gelaran semacam ini bisa menjadi agenda tahunan. “Pengennya saya ya setiap tahun seperti ini, semoga semakin lebih maju dari sekarang,” harapnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa acara ini bukan sekadar perayaan, tetapi telah menyentuh kebutuhan komunitas akan sebuah kegiatan yang merekatkan hubungan antara sekolah, orang tua, dan siswa, sekaligus menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan kebanggaan terhadap identitas lokal.

Analisis akademis melihat kegiatan ini sebagai sebuah praktik pendidikan multimodal yang efektif. Pertama, melalui stan UMKM kuliner, sekolah melakukan edukasi gastronomi dan literasi pangan lokal. Anak-anak tidak hanya diajak mencicipi, tetapi juga memahami asal-usul, proses pembuatan, dan nilai historis di balik setiap makanan. Ini adalah strategi pembelajaran kontekstual yang melawan arus homogenisasi makanan global dan menguatkan food literacy.

Tampak pengunjung membeli produk. UMKM wali murid
Tampak pengunjung membeli produk. UMKM wali murid

Kedua, penggunaan pakaian unik dan menarik oleh peserta merupakan bentuk ekspresi identitas budaya dan partisipasi aktif. Kegiatan ini mendorong student engagement di luar ruang kelas formal dan memberikan ruang bagi orang tua untuk terlibat langsung (parental involvement) dalam proses edukasi anak, yang secara penelitian telah terbukti meningkatkan outcomes pendidikan.

Ketiga, penyelenggaraan yang melibatkan banyak UMKM menunjukkan peran sekolah sebagai penggerak ekonomi sirkular lokal. Sekolah bertransformasi menjadi enabler yang menghubungkan pelaku usaha kecil dengan pasar potensial, yakni komunitas sekolah itu sendiri, sekaligus mengajarkan nilai kewirausahaan kepada siswa.

Seluruh peserta pakaian unik mendapatkan hadiah
Seluruh peserta pakaian unik mendapatkan hadiah

Perayaan Milad ke-102 MIMU ini telah melampaui narasi seremonial belaka. Acara ini berhasil mengangkat tiga narasi utama yang relevan dengan masyarakat kontemporer, pelestarian warisan kuliner di tengah gempuran gaya hidup instan, pentingnya pendidikan karakter berbasis budaya, serta peran institusi pendidikan sebagai simpul penguatan komunitas dan ekonomi lokal.

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Dengan kata lain, di usia yang telah melewati satu abad, MIMU menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan. Perayaan ini bukan hanya melihat ke belakang dengan penuh penghormatan, tetapi juga menatap ke depan dengan cara yang relevan,membekali generasi Z dengan akar budaya yang kuat, literasi pangan yang sehat, dan memori kolektif tentang kebersamaan yang akan mereka bawa hingga dewasa. Harapan Farah untuk kemajuan sekolah dan keinginan Ibu Eti untuk kelangsungan acara ini menjadi representasi suara kolektif yang menginginkan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kaya akan nilai dan identitas.

 

( Ria ). 

Array
Related posts