Kisah Minak Jinggo Hidupkan di Punten Carnival Jadi Renungan Ambisi Kekuasaan

Fanesya Beryl Nathani tampil memukau masyarakat dengan Kesenian tari Bayuwangian ( Foto : istimewa ).

Punten Carnival 2025 merayakan kebhinekaan, mengukuhkan nilai kepemimpinan lewat dramatisasi sejarah Minak Jinggo

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat kemerdekaan Indonesia yang ke-80 tidak hanya dirayakan dengan upacara dan pengibaran bendera. Di Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, semangat itu diwujudkan dalam sebuah gelaran budaya yang megah dan sarat makna: The Art of Nusantara Punten Carnival 2025. Ribuan warga menyambut dengan sukacita, mengubah jalanan desa menjadi galeri seni berjalan yang hidup, membuktikan bahwa gotong royong dan keguyuban masih menjadi napas kehidupan masyarakat Indonesia.

Karnaval ini lebih dari sekadar festival ini adalah simbol konkret dari identitas bangsa yang beraneka ragam namun bersatu. Ia adalah ruang edukasi publik yang memukau, dimana setiap kontingen tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga menyampaikan cerita dan kearifan lokal Nusantara.

 

Kesenian tari dari daerah Banyuwangi di tampilkan oleh warga RT/RW 04/02
 Anggria Nofi Kristanti, S. Pd  menampilkan Tarian Kesenian dari daerah Banyuwangi di tampilkan oleh RT/RW, 04/02.

Drama Kolosal Blambangan sebuah seni serta sejarah untuk mengangkat lakon Minak Jinggo dan Ambisi Kekuasaan. 

Di antara gemerlap kostum dan iringan musik, salah satu penampilan yang paling menyita perhatian dan bernilai edukasi tinggi datang dari kontingen ERPAWERO (RT 4 RW 2). Di bawah komando Muhammad Basori Alfi atau yang akrab disapa Alex, kelompok ini menghadirkan sebuah drama kolosal dari Banyuwangi, Jawa Timur, dengan lakon legendaris “Minak Jinggo”.

“Kami sengaja mengangkat sejarah Minak Jinggo, seorang panglima perang yang berani melawan Kebo Marcuwet pada era Majapahit,” papar Alex. “Melalui seni pertunjukan, kami tidak hanya melestarikan seni tapi juga menceritakan nilai kepahlawanan, keberanian, dan kecerdasan para leluhur kita kepada generasi muda.”

Kendaraan yang menandakan seluruh RT yang ada di RW 04 secara antusias mengikuti Carnaval Budaya.
Mobil terdepan pada barusan kelompok RW 04 yang secara antusias di ikuti dari seluruh RT dalam acara Carnival Budaya.
Ogoh-ogoh suatu ungkapan pesan dan kesan kepada masyarakat
Ogoh-ogoh yang merupakan suatu wujud ungkapan dari pesan kepada masyarakat dan Kota Batu

Penampilan mereka bukan sekadar dramatisasi sejarah, melainkan sebuah refleksi filosofis yang dalam tentang kekuasaan dan kepemimpinan. Lakon ini mengisahkan perebutan kekuasaan Minak Jinggo dan Kebo Marcuet yang dipicu oleh sayembara dari Ratu Kencono Wungu.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/punten-carnival-2025-perayaan-megah-keberagaman-budaya-nusantara-di-batu/

Pesan moral yang ingin disampaikan masyarakat Punten begitu relevan hingga hari ini: Sebuah kemenangan atau kekuasaan yang didasari oleh ambisi pribadi dan nafsu untuk memiliki (dalam hal ini, mendapatkan sang Ratu) tidak akan abadi dan tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Kekuasaan yang lahir dari ambisi semata pada akhirnya akan runtuh oleh ambisi itu sendiri.

Fanesya Beryl Nathani sebagai Siswi Kelas 1 SMK mengikuti tarian budaya dari Bayuwangi
Fanesya Beryl Nathani yang duduk di bangku kelas 1 SMK, dengan cantiknya menari membawakan budaya Bayuwangian,sehingga banyak memukau masyarakat.

Pesan yang disampaikan kontingen ERPAWERO begitu powerful: “Sesungguhnya perang yang terbesar adalah melawan diri sendiri dan nafsu kita.Mereka juga menyampaikan kearifan tentang kepemimpinan sejati.Di dalam kepemimpinan yang baik, orang bodoh pun akan menjadi manfaat untuk khalayak. Sebaliknya, di dalam kepemimpinan orang yang berambisi besar, orang pintar pun tidak akan berguna.” ungkapnya Alex. 

Selain drama kolosal, kontingen ini juga aktif memperkenalkan Tari Gandrung, seni tari khas Banyuwangi, kepada seluruh lapisan masyarakat Punten. Mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lanjut usia, semua berkolaborasi secara epik membawakan tarian yang penuh energi dan keceriaan ini, menunjukkan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama yang tidak kenal usia.

Kendaraan dengan barisan tarian Kesenian Banyuwagian
Kendaraan dengan barisan seni tradisi Banyuwangian yang sangat menarik.
Kesenian yang menandakan Kegotong royongan dan ke guyuban masyarakanya
Kesenian tradisional yang melambangkan suatu ke guyuban dan gotong royongan warga masyarakatnya

Keberhasilan acara kolosal seperti ini tentu tidak lepas dari dukungan seluruh unsur masyarakat dan pemerintahan. Acara ini dihadiri oleh Camat Bumiaji, Kepala Desa Punten, Muspika, serta berbagai tokoh masyarakat, agama, dan budaya. Kehadiran mereka mencerminkan sebuah harmoni kolektif bahwa pelestarian budaya adalah mission bersama yang disambut dengan antusiasme dan tanggung jawab.

Koordinator, Alex juga menambahkan bahwa, Warga rt 4 rw 2 tidak menampilkan kemegahan sound dan gemerlapnya lighting, tapi kami menampilkan pertunjukan dengan konsep kesederhanaan yang penuh dengan edukasi budaya, sejarah dan gotong royong , sederhana tapi punya makna. ” Tambahnya. 

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Punten Carnival 2025 telah membuktikan sesuatu yang esensial, bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga tentang merayakan keberagaman yang menjadi fondasi negara ini. Festival ini adalah wujud nyata dari Bhinneka Tunggal Ika, di mana seni budaya dari Banyuwangi bisa hidup dan dipahami di tanah Jawa Timur lainnya, Kota Batu.

Sebuah penampilan Ogoh Ogoh yang melambangkan akan hausnya kekuasaan
Penampilan Ogoh-ogoh yang melambangkan akan hausnya kekuasaan

Lebih dari itu, karnaval ini juga menjadi penggerak ekonomi kreatif lokal. Dengan cara yang paling membahagiakan melalui seni dan budaya festival ini menciptakan gelombang positif bagi para pengrajin kostum, penata musik, dan pelaku usaha kecil di sekitar desa.

Pada akhirnya, Punten Carnival bukan sekadar pesta rakyat. Ia adalah kelas edukasi publik yang massive, sebuah deklarasi kebudayaan yang gagah, dan sebuah renungan kolektif tentang nilai-nilai luhur bangsa yang harus terus kita rawat dan wariskan. Melalui tarian, drama, dan senyum masyarakatnya, Punten telah memberikan pelajaran berharga: bahwa sejarah adalah guru terbaik, dan budaya adalah mediumnya yang paling indah.

 

( Ria ). 

 

Array
Related posts