Menuju Indonesia Emas 2045, Kepala Madrasah Tekankan Takwa, Etika dan Penguasaan Teknologi

Menuju Indonesia Emas 2045, Kepala Madrasah Tekankan Takwa, Etika, Karakter, dan Penguasaan Teknologi bagi Anggota Pramuka

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID — Gerakan Pramuka kembali ditegaskan sebagai ruang strategis pembentukan karakter generasi muda. Memasuki hari kelima rangkaian kegiatan kepramukaan, Jumat, 14 Agustus 2026, Kepala Madrasah SR. Fauzi, S.Pd., mengajak seluruh anggota Pramuka dan pembina untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan Indonesia menuju era keemasan 2045.

Dalam amanatnya, SR. Fauzi menempatkan generasi muda sebagai aktor utama yang kelak akan menentukan arah pembangunan nasional. Menurutnya, Indonesia Emas 2045 tidak cukup dipersiapkan melalui kecakapan akademik dan penguasaan teknologi, tetapi membutuhkan generasi yang memiliki ketakwaan, integritas, etika, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.

Tampak Kepala Sekolah MI Bustanul Ulum ketika memberikan motifasi kepada anak didik dalam upacara Hari Pramuka.
Tampak Kepala Sekolah MI Bustanul Ulum ketika memberikan motifasi kepada anak didik dalam upacara Hari Pramuka.

Ia mengapresiasi para petugas upacara dan pembina yang telah mempersiapkan kegiatan dengan penuh tanggung jawab. Baginya, kedisiplinan yang ditunjukkan dalam kegiatan kepramukaan merupakan bagian dari proses pendidikan yang tidak selalu diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas.

“Kamu semua akan menjadi pelaku pembangunan di tahun-tahun itu (2045). Kami berharap kalian menjadi orang-orang yang bekerja keras sehingga menjadi orang yang paling bermanfaat,” ujar SR. Fauzi dalam amanatnya.

Pesan tersebut menempatkan peserta didik bukan sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan, melainkan sebagai calon subjek pembangunan nasional.

Dalam perspektif pendidikan, gagasan tersebut memiliki relevansi penting. Anak-anak yang saat ini mengikuti kegiatan Pramuka akan memasuki usia produktif ketika Indonesia menuju momentum 100 tahun kemerdekaan. Karena itu, pendidikan karakter sejak dini menjadi investasi strategis bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

SR. Fauzi mengingatkan bahwa dunia yang akan dihadapi generasi muda memiliki tingkat kompleksitas yang jauh lebih tinggi. Persaingan global, perkembangan teknologi digital, perubahan sosial, persoalan lingkungan, serta dinamika ekonomi menuntut generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan pijakan moral.

Tampak antusias para peserta upacara serta penuh khidmat mengikuti kegiatan upacara.
Tampak antusias para peserta upacara serta penuh khidmat mengikuti kegiatan upacara.

Menurutnya, anggota Pramuka harus belajar menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya ketakwaan dan penguatan nilai agama sebagai fondasi kehidupan.

SR. Fauzi mengingatkan peserta didik mengenai posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Konsep tersebut mengandung konsekuensi moral bahwa manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga kehidupan, berbuat baik, serta menggunakan ilmu dan kemampuan yang dimiliki untuk kemaslahatan.

Dalam konteks pendidikan karakter, ketakwaan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas ritual, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari: kejujuran, disiplin, menghormati orang lain, menepati tanggung jawab, serta menghindari tindakan yang merugikan sesama.

Nilai tersebut menjadi penting di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan beriringan dengan kedewasaan moral.

Perkembangan teknologi digital menjadi salah satu tantangan sekaligus peluang terbesar bagi generasi muda. Karena itu, SR. Fauzi mendorong para anggota Pramuka untuk menguasai teknologi, tetapi tetap menggunakannya secara bijaksana.

Menurutnya, teknologi merupakan instrumen yang dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan untuk belajar, berkarya, berkomunikasi, dan menciptakan inovasi. Namun, teknologi juga dapat menjadi persoalan apabila penggunaannya tidak disertai kemampuan mengendalikan diri.

Pendidikan digital, dengan demikian, tidak cukup berhenti pada kemampuan mengoperasikan perangkat. Peserta didik juga perlu memiliki literasi etika, kemampuan memilah informasi, memahami konsekuensi dari tindakan di ruang digital, serta menghormati hak dan martabat orang lain.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi generasi yang sejak usia dini telah hidup berdampingan dengan teknologi digital.

Selain ketakwaan dan teknologi, SR. Fauzi menekankan pentingnya karakter serta rasa tanggung jawab.

Tampak para peserta mendengarkan arahan dari kepala sekolah dengan penuh Khidmat.
Tampak para peserta mendengarkan arahan dari kepala sekolah dengan penuh Khidmat.

Menurutnya, keberanian tidak boleh dipahami sekadar sebagai keberanian untuk berbicara atau bertindak. Keberanian yang sesungguhnya adalah kemampuan mengambil keputusan secara tepat sekaligus bersedia mempertanggungjawabkan konsekuensinya.

Nilai tersebut sangat dekat dengan prinsip pendidikan kepramukaan yang menekankan kedisiplinan, kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian sosial.

Para anggota Pramuka diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat dengan tetap menjunjung nilai etika.

SR. Fauzi juga mengingatkan pentingnya menjaga etika terhadap guru, orang tua, teman, dan seluruh anggota masyarakat.

Ia menekankan bahwa kehidupan Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial. Karena itu, kemampuan menghormati perbedaan merupakan bagian penting dari pendidikan kebangsaan.

Dalam lingkungan sekolah, toleransi harus diwujudkan melalui perilaku konkret: menghargai teman, tidak merendahkan orang lain, tidak melakukan diskriminasi, serta mampu bekerja sama dengan siapa pun.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/pendidikan/hari-pramuka-ke-65-di-bumiaji-420-peserta-belajar-mandiri-dan-dukung-swasembada-pangan/

Nilai tersebut menjadi salah satu modal sosial penting bagi Indonesia dalam menghadapi masa depan. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknologinya, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya hidup berdampingan secara damai.

Persoalan lingkungan juga menjadi perhatian dalam amanat tersebut.

SR. Fauzi mengajak para peserta untuk memiliki kesadaran terhadap perubahan kondisi lingkungan, termasuk cuaca ekstrem dan kekeringan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat, termasuk generasi muda.

Kesadaran ekologis perlu ditanamkan sejak sekolah melalui kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan, mengurangi perilaku yang merusak lingkungan, menggunakan air secara bijaksana, serta memahami pentingnya keberlanjutan sumber daya alam.

Dalam konteks ini, kegiatan kepramukaan memiliki ruang yang luas untuk membentuk kepemimpinan ekologis generasi muda melalui kegiatan luar ruang, kerja bakti, penghijauan, pengelolaan sampah, dan berbagai aktivitas sosial. 

Tampak sekitar 980 siswa siswi bersama sama Kepala sekolah berserta seluruh jajaran dewan guru.
Tampak sekitar 980 siswa siswi bersama sama Kepala sekolah berserta seluruh jajaran dewan guru.

Tidak kalah penting, SR. Fauzi menyampaikan pesan mengenai perlindungan peserta didik dari perundungan atau bullying.

Ia mengajak seluruh anggota Pramuka untuk membangun budaya saling menjaga, baik terhadap diri sendiri, teman, maupun lingkungan sekolah.

“Mari kita bersama-sama jaga diri, jaga temannya, jaga lingkungan kita. Jangan sampai ada perundungan (bullying),” tegasnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter harus berjalan beriringan dengan penciptaan lingkungan belajar yang aman dan sehat.

Sekolah bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan kepribadian. Karena itu, setiap peserta didik harus merasa dihargai, dilindungi, dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Sementara itu, salah seorang pembina Pramuka di MI Bustanul Ulum, Angga Chidlomul Adzim, S.Pd., menyampaikan bahwa upacara peringatan Hari Pramuka ke-65 tersebut diikuti sekitar 980 siswa-siswi dari kelas I hingga kelas VI.

Besarnya jumlah peserta menunjukkan bahwa kegiatan kepramukaan masih memiliki posisi penting dalam lingkungan pendidikan dasar. Keikutsertaan peserta didik dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, kemandirian, serta kecintaan terhadap bangsa dan lingkungan.

Menurut Angga, keterlibatan peserta didik dalam kegiatan Pramuka diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Nilai-nilai yang diperoleh dalam kegiatan harus dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

Peringatan Hari Pramuka ke-65 menjadi momentum untuk melihat kembali fungsi pendidikan dalam mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi masa depan.

Indonesia Emas 2045 tidak semata-mata membutuhkan generasi yang mampu menguasai teknologi. Indonesia membutuhkan manusia yang memiliki karakter kuat, berintegritas, mampu berpikir kritis, memiliki kepedulian sosial, menghargai keberagaman, serta memiliki kesadaran ekologis.

Dalam kerangka tersebut, Pramuka dapat menjadi salah satu ekosistem pendidikan karakter yang mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman nyata.

Di tengah derasnya transformasi digital, anak-anak perlu tetap memiliki kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, memimpin, menyelesaikan persoalan, menghormati perbedaan, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Pesan SR. Fauzi pada akhirnya dapat dimaknai sebagai ajakan kepada seluruh generasi muda untuk mempersiapkan masa depan sejak sekarang. Ketakwaan menjadi fondasi moral, etika menjadi kompas perilaku, ilmu pengetahuan menjadi instrumen kemajuan, teknologi menjadi sarana inovasi, sementara kepedulian sosial dan lingkungan menjadi orientasi pengabdian.

Jika nilai-nilai tersebut berhasil ditanamkan secara konsisten sejak bangku sekolah, maka Indonesia tidak hanya akan memasuki tahun 2045 dengan generasi yang produktif secara ekonomi, tetapi juga dengan generasi yang matang secara moral dan sosial.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Sebab, Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu membangun masa depan, tetapi manusia yang memiliki kebijaksanaan untuk memastikan bahwa pembangunan tersebut tetap berpijak pada kemanusiaan, kebangsaan, etika, dan keberlanjutan.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *