Kemah Literasi Bumi Graha Nusantara Gerakkan 9 Desa di Bumiaji, Dorong Literasi untuk Kesejahteraan

Kemah Literasi Bumi Graha Nusantara, Gerakkan Sembilan Desa di Bumiaji Perkuat Budaya Literasi Masyarakat

Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID — Upaya memperkuat budaya literasi berbasis masyarakat terus dikembangkan di Kota Batu. Komunitas Literasi Griya Batu Cerdas (GBC) menggelar Kemah Literasi Bumi Graha Nusantara dengan tema “Peningkatan Kapasitas Penggerak Literasi di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu”, Sabtu–Minggu, 22–23 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung di kawasan Mbah Daim No. 2, Dusun Keliran, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, tersebut tidak sekadar menjadi forum pertemuan para pegiat literasi. Kemah literasi dirancang sebagai ruang pembelajaran, pertukaran gagasan, penguatan jejaring, sekaligus upaya membangun gerakan literasi yang berkelanjutan dari desa.

 

Tampak kehadiran dari berbagai pemangku kepentingan dalam Kemah Literasi.
Tampak kehadiran dari berbagai pemangku kepentingan dalam Kemah Literasi.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Dr. Puji Retno H., S.S., M.Hum., Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu Dr. Abdul Rais, S.Pd., M.Si., Bunda Literasi Kota Batu Hj. Siti Faujiah Nurochman, Bunda Literasi Kecamatan Bumiaji Belli Yuriana Maydo, Camat Bumiaji Thomas Maydo, S.Sos., Kepala Desa Bulukerto Suhermawan, S.I.Kom., tokoh masyarakat Arief Rahman, S.A.P., Sekretariat Griya Batu Cerdas Yuana Y., M.Pd., Ketua Panitia Sujianto, S.H., M.Pd., serta unsur Forkopimca Bumiaji, lembaga adat, pegiat literasi dan peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Sebanyak kurang lebih 90 peserta yang merupakan perwakilan dari sembilan desa di Kecamatan Bumiaji mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari Karang Taruna, PKK, lembaga adat, pengelola perpustakaan desa, perangkat desa hingga kalangan pendidik.

Penampilan Puisi dan dongeng oleh anak anak SD yang berada di wilayah kecamatan Bumiaji.
Penampilan Puisi dan dongeng oleh anak anak SD yang berada di wilayah kecamatan Bumiaji.
Penampilan SDN Bulukerto 02 dalam mendongeng.
Penampilan SDN Bulukerto 02 dalam mendongeng.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan puisi dan dongeng. Setelah pembukaan secara resmi ditandai dengan pemukulan gong, suasana semakin semarak melalui pertunjukan Tari Sanduk yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.

Ketua Panitia Kemah Literasi, Sujianto, S.H., M.Pd.,ketika menyampaikan laporan kegiatan.
Ketua Panitia Kemah Literasi, Sujianto, S.H., M.Pd.,ketika menyampaikan laporan kegiatan.

Ketua Panitia Kemah Literasi, Sujianto, S.H., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak boleh dipandang hanya sebagai kegiatan seremonial.

Menurutnya, kemah literasi merupakan ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, berdiskusi dan membangun kolaborasi antarelemen masyarakat.

“Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi merupakan kekuatan yang dapat menggerakkan perubahan, membentuk masyarakat yang cerdas, kritis, kreatif dan berkarakter,” ujarnya.

Tampak Camat Bumiaji, KaDisperpussip Kota Batu, Kepala Balai Bahasa Prov. Jatim, Bunda Literasi Kec. Bumiaji, Ketua Satu Pena Jawa Timur, beserta Ketua Pantia bersama para hadirin.
Tampak Camat Bumiaji, KaDisperpussip Kota Batu, Kepala Balai Bahasa Prov. Jatim, Bunda Literasi Kec. Bumiaji, Ketua Satu Pena Jawa Timur, beserta Ketua Pantia bersama para hadirin.

Sujianto menjelaskan, pemilihan Desa Bulukerto sebagai titik awal kegiatan merupakan bagian dari strategi untuk membangun gerakan literasi secara bertahap. Dari tingkat desa, gerakan tersebut diharapkan berkembang ke tingkat Kecamatan Bumiaji dan selanjutnya menjangkau seluruh wilayah Kota Batu.

Ia menambahkan, para peserta diharapkan tidak berhenti sebagai peserta kegiatan, tetapi mampu menjadi pionir dan penggerak literasi di desa masing-masing.

“Harapan kami, setelah kegiatan ini selesai, seluruh unsur yang hadir dapat menjadi pionir yang mengembangkan literasi di desanya masing-masing,” katanya.

Bunda Literasi Kecamatan Bumiaji, Belli Yuriana Maydo, ketika memberikan sambutan sambutanya.
Bunda Literasi Kecamatan Bumiaji, Belli Yuriana Maydo, ketika memberikan sambutan sambutanya.

Bunda Literasi Kecamatan Bumiaji, Belli Yuriana Maydo, dalam sambutannya memberikan penekanan bahwa literasi harus ditempatkan sebagai kecakapan hidup.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, menurutnya, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis, membaca keadaan dan menyaring informasi yang beredar di ruang digital.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/dari-keluarga-untuk-generasi-emassiti-faudjiyah-pimpin-gerakan-literasi-kota-batu/

Literasi, dengan demikian, tidak hanya berkaitan dengan aktivitas membaca buku atau menulis. Literasi juga merupakan kemampuan seseorang memahami realitas, mengambil keputusan secara rasional serta membedakan informasi yang dapat dipercaya dan informasi yang menyesatkan.

“Literasi adalah kecakapan dalam memilah informasi yang kita baca melalui ponsel maupun internet, agar kita tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong atau hoaks,” tuturnya.

Ia berharap Kemah Literasi Bumi Graha Nusantara menjadi momentum untuk membangun gerakan bersama yang mampu memperkuat budaya literasi secara berkelanjutan di Kecamatan Bumiaji.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Dr. Puji Retno H., S.S., M.Hum.,mengapresiasi kegiatan literasi yang diadakan di kecamatan Bumiaji Kota Batu.
Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Dr. Puji Retno H., S.S., M.Hum.,mengapresiasi kegiatan literasi yang diadakan di kecamatan Bumiaji Kota Batu.

Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur Dr. Puji Retno H., S.S., M.Hum., memberikan apresiasi terhadap inisiatif Griya Batu Cerdas dalam mengembangkan kegiatan literasi berbasis masyarakat.

Ia menjelaskan, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang memiliki tugas melaksanakan pemasyarakatan serta pelindungan bahasa dan sastra di wilayah Jawa Timur.

Menurutnya, fasilitasi terhadap komunitas penggerak literasi merupakan salah satu bentuk intervensi pemerintah untuk meningkatkan kompetensi literasi masyarakat.

Tampak lembaga adat Desa Bulukerto dengan antusias mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan Kemah Literasi.
Tampak lembaga adat Desa Bulukerto dengan antusias mengikuti rangkaian kegiatan pembukaan Kemah Literasi.

Program fasilitasi komunitas penggerak literasi tersebut telah berjalan sejak 2024. Pada 2024 terdapat 339 komunitas di Indonesia yang memperoleh bantuan pemerintah. Jumlah tersebut kemudian berlanjut dengan 100 komunitas pada 2025 dan 110 komunitas pada 2026. Khusus Jawa Timur, pada 2026 terdapat enam komunitas literasi yang memperoleh fasilitasi pemerintah, termasuk Griya Batu Cerdas.

Puji Retno menilai, pemanfaatan dukungan tersebut untuk kegiatan nyata di tengah masyarakat merupakan praktik baik yang patut diapresiasi.

Menurutnya, gerakan Griya Batu Cerdas yang melibatkan sembilan desa di Kecamatan Bumiaji dapat menjadi contoh bagaimana program literasi diterjemahkan menjadi gerakan sosial yang konkret.

Tampak peserta dari sembilan desa hadir dalam pembukaan Kemah Literasi.
Tampak peserta dari sembilan desa hadir dalam pembukaan Kemah Literasi.

Ia juga menyinggung hasil asesmen pendidikan yang menunjukkan bahwa penguatan kemampuan literasi baca-tulis masih menjadi pekerjaan penting. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, satuan pendidikan, keluarga dan komunitas masyarakat menjadi semakin strategis.

Selain itu, pemerintah juga terus memperluas distribusi bahan bacaan melalui program hibah buku. Di Jawa Timur, ribuan sekolah dasar dan sekolah menengah telah memperoleh dukungan buku sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi.

Namun, penguatan literasi tidak semata-mata berbicara mengenai ketersediaan buku.

Puji Retno menekankan pentingnya keluarga sebagai garda terdepan pembentukan kemampuan literasi anak.

Tampak hadir perwakilan dari kepala desa yang ada di wilayah kecamatan Bumiaji.
Tampak hadir perwakilan dari kepala desa yang ada di wilayah kecamatan Bumiaji.

Pada kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya pelestarian bahasa daerah.

Menurutnya, anak-anak perlu memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang baik sekaligus tidak kehilangan akar kebahasaan daerahnya.

Ia mendorong agar bahasa Jawa dan bahasa daerah tetap memperoleh ruang dalam pendidikan maupun kehidupan masyarakat, antara lain melalui kegiatan menulis geguritan, cerpen berbahasa Jawa dan pidato menggunakan bahasa Jawa.

“Jangan sampai karena anak-anak sejak kecil hanya dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia, mereka kemudian kehilangan kemampuan menuturkan bahasa daerahnya,” pesannya.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu Dr. Abdul Rais, S.Pd., M.Si., ketika memberikan keteranganya ke awak media, seusai pembukaan Kemah Literasi.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu Dr. Abdul Rais, S.Pd., M.Si., ketika memberikan keteranganya ke awak media, seusai pembukaan Kemah Literasi.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu, Dr. Abdul Rais, S.Pd., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan Kemah Literasi merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah dan komunitas masyarakat.

Menurutnya, gerakan literasi yang tumbuh dari prakarsa masyarakat memiliki nilai strategis karena kesadaran tersebut lahir dari kebutuhan dan partisipasi masyarakat sendiri.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Batu, kata dia, memberikan dukungan terhadap pengembangan program tersebut sekaligus memperkenalkan inovasi Literasi Forest Adventure.

Tampak depan sebelah kanan, tokoh masyarakat juga hadir dalam pembukaan Kemah Literasi.
Tampak depan sebelah kanan, tokoh masyarakat juga hadir dalam pembukaan Kemah Literasi.

Konsep tersebut memadukan kegiatan literasi dengan eksplorasi lingkungan alam melalui permainan edukatif yang interaktif dan menyenangkan.

Program itu juga dapat disinergikan dengan inovasi layanan Siboling, sehingga kegiatan literasi tidak selalu berlangsung dalam ruang kelas atau perpustakaan, tetapi dapat hadir di ruang-ruang publik dan lingkungan alam.

Ke depan, model kegiatan seperti Kemah Literasi diharapkan berkembang dari Desa Bulukerto menuju seluruh desa di Kecamatan Bumiaji, kemudian diperluas ke seluruh Kota Batu.

Tampak bersama sama melakukan tarian sanduk didalam sesi penutup kegiatan pembukaan Kemah Literasi.
Tampak bersama sama melakukan tarian sanduk didalam sesi penutup kegiatan pembukaan Kemah Literasi.

Bahkan, terdapat gagasan untuk mengembangkan kegiatan festival atau kemah literasi pada tingkat Provinsi Jawa Timur pada 2027 dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk Balai Bahasa.

Kemah Literasi Bumi Graha Nusantara pada akhirnya memperlihatkan bahwa membangun budaya literasi membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah.

Dibutuhkan ekosistem yang mempertemukan keluarga, sekolah, pemerintah, komunitas, tokoh masyarakat, lembaga adat, dunia pendidikan dan generasi muda dalam satu gerakan bersama.

Kehadiran perwakilan sembilan desa di Kecamatan Bumiaji menjadi modal sosial penting untuk membangun jejaring tersebut.

Literasi tidak berhenti pada kemampuan seseorang membaca teks, tetapi berkembang menjadi kemampuan membaca kehidupan, memahami perubahan zaman, menyaring informasi, menghargai kebudayaan, menjaga bahasa daerah dan melahirkan gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Dari Bumi Graha Nusantara, Desa Bulukerto, gerakan itu diharapkan tidak berhenti ketika kemah berakhir pada 23 Agustus 2026.

Justru, kemah tersebut menjadi titik awal lahirnya lebih banyak penggerak literasi yang membawa pengetahuan kembali ke desa masing-masing.

“Salam Literasi!”

“Literasi untuk Kesejahteraan!”

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

 

Array
Related posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *