
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Batu Bangun Desa Wisata Sinergi Potensi Alam dan Kearifan Lokal Jadi Kunci Hadapi Tantangan Masa Depan
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Yayasan Ujung Aspal Jawa Timur bersama Ladon Entertainment sukses menyelenggarakan Dialog Interaktif bertajuk “Tantangan dan Peluang Membangun Kota Batu dari Desa Wisata Berbasis Potensi Alam dan Kearifan Lokal”. Acara yang digelar di Durian Fantasi (Dufan), Jalan Abdul Gani, Ngaglik, pada Kamis (08/01/2026) pagi itu, berhasil menarik perhatian banyak pemangku kepentingan. Dialog yang dimoderatori secara apik oleh Yani Andiko dan Alexander Hendy ini menghadirkan perspektif holistik dari unsur legislatif, eksekutif, pelaku desa, hingga masyarakat.
Dialog ini menegaskan komitmen kolektif untuk menjadikan desa wisata bukan sekadar proyek ekonomi, tetapi sebagai fondasi pembangunan kota yang berkelanjutan, beridentitas kuat, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat akar rumput.

Sujono Djonet sebagai Anggota DPRD Komisi B Kota Batu, membuka pandangan dari sisi legislatif. Ia menekankan bahwa DPRD Kota Batu berkomitmen untuk menyiapkan payung hukum dan anggaran yang mendukung pengembangan desa wisata yang autentik.
“Tantangan terbesar adalah memastikan regulasi tidak hanya menarik investor besar, tetapi lebih melindungi dan memberdayakan pemilik modal lokal, masyarakat adat, dan pengelola BUMDes. Kami mendorong Perda yang bisa mencegah alienasi lahan dan budaya, di mana masyarakat justru menjadi penonton di tanahnya sendiri. Anggaran APBD harus lebih terarah pada peningkatan kapasitas SDM lokal dan infrastruktur pendukung yang mendistribusikan ekonomi hingga ke pelosok desa,” paparnya.

Kadisparta Kota Batu, Onny Ardianto Menyambung dari sisi eksekutif, menyoroti aspek konektivitas dan daya dukung infrastruktur. “Pembangunan jalan, sanitasi, dan jaringan internet bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan dasar. Strategi kami adalah membangun cluster atau klaster desa wisata. Satu desa unggulan harus bisa ‘menarik’ dan terhubung dengan desa-desa di sekitarnya yang memiliki produk komplementer, seperti agrowisata, kerajinan, atau kuliner khas. Desa Wisata sebagai salah satu faktor pendukung dari eco tourism atau sustainable tourism dan sebagai potensi luar biasa untuk pariwisata Kota Batu, sehingga hal ini untuk menciptakan experience wisata yang lebih panjang dan mendistribusir kunjungan,” jelas Onny. Ia juga mengingatkan pentingnya mengelola dampak lingkungan dari kenaikan kunjungan agar daya tarik alam tetap lestari.

Selaku narasumber dari Kelompok Kerja (Pokja) Pengembangan Kota, Andrei Prana membawa pendekatan yang lebih konseptual dan data-driven. “Peluang kita ada pada diferensiasi. Setiap desa harus memiliki unique selling point berdasarkan cerita dan kearifan lokalnya yang otentik. Wisatawan modern mencari meaningful experience, bukan sekadar foto. Kami mendorong pendekatan community-based tourism planning di mana setiap pengembangan dimulai dari pemetaan potensi dan aspirasi masyarakat secara partisipatif,” ujar Andrei. Ia juga menekankan pentingnya data digital untuk memahami tren pasar dan mengelola kapasitas kunjungan.

Wiweko sebagai Ketua Asosiasi Petinggi dan Lurah Kota Batu ( APEL ). Mewakili pemerintahan desa secara langsung, menyampaikan tantangan teknis di lapangan. “Sebagai ujung tombak, kami sering menghadapi dinamika sosial. Perlu harmoni antara warga asli dan pendatang yang berinvestasi, juga antara tradisi dengan inovasi. Asosiasi kami berperan sebagai wadah koordinasi agar tidak terjadi overlapping program dan ‘perang tarif’ antar-desa yang justru merugikan. Sinergi antar-desa, seperti paket wisata bersama, adalah kunci untuk menang,ada komitmen bersama antara pemerintah daerah dan desa kelurahan untuk mengembangkan potensi yang ada di desa dan kelurahan. ” tegas Wiweko.

M. Dadik hadir membawa kesuksesan dan pembelajaran nyata dari pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). “BUMDes adalah instrumen kedaulatan ekonomi desa. Keuntungan dari desa wisata harus bisa dikelola dan dinikmati untuk membiayai kebutuhan kolektif desa, seperti pendidikan dan kesehatan warga. Kami di Tulungrejo berusaha mengintegrasikan sektor pertanian dengan wisata, sehingga hasil bumi memiliki nilai tambah dan pasar yang pasti. Tantangannya adalah manajemen profesional dan transparansi agar kepercayaan masyarakat tetap tinggi,” sharing-nya berharga.
Soehardono Frans salah satu Tokoh Masyarakat,mengingatkan semua pihak tentang esensi dari pembangunan berbasis kearifan lokal. “Kami khawatir dengan keseragaman dan komersialisasi yang mengikis nilai-nilai. Desa wisata harus memperkuat karakter, bukan mengubahnya menjadi mini Dufan atau mini Taman Hiburan lainnya. Gotong royong, keramahan, ritual tradisi, dan kelestarian alam adalah ‘roh’ yang justru paling dicari. Peran tokoh masyarakat dan sesepuh dalam menjaga ‘roh’ ini sangat krusial,” pesannya Frans penuh kearifan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dialog interaktif ini ditutup dengan semangat kolaborasi yang tinggi. Semua pihak sepakat bahwa membangun Kota Batu dari desa wisata memerlukan pendekatan triple helix kolaborasi erat antara Pemerintah, komunitas/bisnis, dan akademisi/pakar dengan masyarakat sebagai subjek utama. Potensi alam yang memesona harus dikelola dengan bijak, didukung oleh regulasi yang protektif, infrastruktur yang merata, manajemen yang profesional, dan di atas semua itu, komitmen bersama untuk menjaga identitas kearifan lokal sebagai pijakan yang tidak boleh goyah. Langkah sinergis ini diharapkan dapat menjadikan setiap desa di Batu tidak hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai rumah berkelanjutan yang bermartabat bagi warganya.
( Ria ).


Sesi foto bersama-sama dengan panorama alam indah Kota Batu sebagai daya tarik utama pengembangan desa wisata yang berkelanjutan ( Foto : Ria ). 
