KPJ Kota Batu Bawakan Balada Kritik Sosial di Festival Banteng Nuswantara

KPJ Kota Batu pukau penonton dengan balada kritik sosial di Festival Banteng Nuswantara. Seni Sebagai Cermin Realitas ( Foto.: istimewa ).

KPJ Kota Batu pukau penonton dengan balada kritik sosial di Festival Banteng Nuswantara. Seni Sebagai Cermin Realitas

PENDIDIKANNASIONAL.ID. Kota Batu, Jawa Timur. – Suara gitar akustik yang lirih dan vokal yang penuh perasaan tiba-tiba memecah riuh panggung Festival Banteng Nuswantara 2025 di Anjani Batik Galeri, Bumiaji. Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Batu hadir bukan sekadar menghibur, melainkan membawa penonton menyelami kisah-kisah pilu, kritik tajam, dan ironi kehidupan lewat balada-balada legendaris karya Yantito Karang Rembulan (Cak Yan).  

Di antara kerlap-kerlip lampu panggung, KPJ Kota Batu membawakan lagu baladanya  (1987), sebuah lagu yang menggambarkan nestapa nelayan kecil yang terus dipermainkan ombak kehidupan. Tak hanya itu, tembang-tembang tahun 90-an seperti “Gerimis di Tapal Kuda”dan “Langkah Tertatih di Trotoar Kota” juga mengalun, mengajak penonton merenungkan ketimpangan sosial, kesenjangan, dan ironi pembangunan yang kerap mengorbankan rakyat kecil.  

“Kami bukan sekadar bernyanyi, kami bercerita,Lagu-lagu ini adalah suara mereka yang tak terdengar nelayan, buruh, petani, dan orang-orang kecil yang hidupnya terpinggirkan.”ujar Dodik Supriyanto (Yantito), vokalis KPJ, dengan mata berbinar.

Yang menarik, justru pesan-pesan pedas dalam lirik lagu KPJ Kota Batu malah memukau seniman mancanegara yang hadir. Seorang musisi asal Malaysia, Ritaudin, terlihat antusias menyimak setiap bait. 

“Ini bukan sekadar musik, ini adalah protes yang indah di negara saya juga ada tradisi serupa, Musik seperti ini punya kekuatan untuk mengubah dunia,” katanya.

 

Festival yang berlangsung sejak 29 Juli hingga 3 Agustus 2025 ini memang dirancang sebagai ruang dialog budaya tempat di mana seni tradisi bertemu dengan wacana global. Tak hanya KPJ Kota Batu, puluhan seniman lokal dan internasional turut memeriahkan acara dengan beragam ekspresi seni, pertunjukan hingga diskusi kebudayaan.  

Sementara itu sekretaris KPJ Ernawati sewaktu bersama para seniman dari mancanegara berkomunikasi perihal seni dan budaya serta makanan. Tatkalah bersama seniman Australia menceritakan perihal makanan khas Indonesia, dan sewaktu bersama Malaysia menceritakan perihal budaya Indonesia. 

Menurut Ritaaudin ( Udin ) dari Malaysia bahwa sangat tertarik dengan budaya Indonesia seperti batik, melukis serta sampai kesenian adat daerah. 

” Kami sangat menyukai seni dan budaya yang ada di Indonesia khusunya Jawa timur Kota Batu. Budaya asli daerah ini harus dilestarikan dan sering digalakan sehingga bisa mendatangkan para pelancong baik dalam maupun luar negeri. ” Katanya

Ditempat yang sama Anjani Sekar Arum juga mengatakan semoga para seniman musik batu seniman rupa seniman tari semuanya berkolaborasi untuk menyukseskan acara bantengan nuswantara. 

” Diharapkan bagi para seniman musik Kota Batu bisa menciptakan lagu untuk bantengan, seperti yang sudah di lakukan kopi pahit menciptakan lagu bantengan. ” ujarnya. 

Usai penampilan mereka, KPJ Kota Batu mendapat banyak apresiasi baik dari seniman dalam maupun luar negeri. 

Salah satu penikmat seni Rudi juga mengatakan bahwa “Seni harus bisa menjadi medium kritik, edukasi, dan sekaligus hiburan. Seperti yang KPJ Kota Batu tunjukkan hari ini musik mereka sederhana, tapi maknanya mendalam.”katanya. 

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/banteng-nuswantoro-2025-persatuan-dan-kreativitas-seni-global/

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

“Ini baru awal,”kata Dodik sambil tersenyum. “Kami akan terus nyanyi, terus kritik, karena selama masih ada ketidakadilan, lagu-lagu seperti ini akan tetap relevan.”

Dan malam itu, di bawah langit Kota Batu yang dipenuhi bintang, ratusan penonton pulang dengan sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan mereka membawa kesan yang mendalam. 

 

( Ria ). 

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup