Menyemai Kesadaran Ekologis Lewat Iringan Kuda Kepang. Refleksi Festival Mata Air Desa Giripurno
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah hiruk-pikuk ancaman krisis air dan degradasi lingkungan, masyarakat Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, baru saja menorehkan sebuah praktik kebudayaan yang luar biasa. Rangkaian Festival Mata Air yang ke-3 ditutup dengan megah pada Kamis malam, 23 April 2026, melalui pagelaran seni tradisional Jaran Dor.
Acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan pernyataan simbolis tentang bagaimana kearifan lokal dapat menjadi media paling efektif untuk menyelamatkan bumi.

Apresiasi untuk Pelestari Tradisi dan Alam
Dalam kesempatanya, Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, menyampaikan rasa bangga dan apresiasi mendalam. Menurutnya, kesenian Jaran Dor adalah asli dari Desa Bulukerto dan menjadi ikon identitas budaya setempat.
“Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah menyukseskan Festival Mata Air yang ke-3 ini. Kami berharap tahun-tahun mendatang semangat ini tidak pernah kendor,” ujar Suhermawan.
” Lebih dari sekadar perayaan tahunan, tujuan utama festival ini adalah menanamkan kesadaran kolektif akan pentingnya memelihara sumber mata air sebagai warisan abadi bagi anak cucu. Dengan harapan juga agar kesenian ini terus diuri-uri (dilestarikan) dari generasi ke generasi.” tambahnya.
Membaca Makna Jaran Dor dalam Festival Ekologi
Assc. Prof. Rachmadi Kristiono Dwi Susilo, S.Sos., M.A., Ph.D., dari Universitas Muhammadiyah Malang, yang turut hadir dalam forum diskusi ekologi, menegaskan bahwa Jaran Dor bukan sekadar tontonan. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari strategi komunikasi lingkungan yang halus namun kuat.
“Festival ini adalah perayaan yang menggembirakan dan menyegarkan pikiran, tetapi muatan edukasinya sangat kuat, terutama tentang pelestarian lingkungan dan penyelamatan bumi,” jelas akademisi tersebut.

Tahapan Festival: Dari Kerja Bakti hingga Pentas Seni
Keberhasilan Festival Mata Air tidak lahir secara instan. Ia disusun secara sistematis dalam empat tahapan berkesinambungan:
1. Kerja Bakti – Sebagai langkah awal membersihkan sumber air sebelum ritual adat.
2. Selamatan (Metri) – Ritual doa bersama sebagai bentuk harmoni dengan kekuatan spiritual penjaga sumber air.
3. Diskusi atau Rembuk Ekologi – Forum multipihak untuk mengidentifikasi masalah lingkungan dan menyusun komitmen bersama.
4. Pagelaran Seni (Jaran Dor) – Puncak acara yang menjadi magnet perhatian masyarakat sekaligus penutup yang sempurna.
Dampak Positif: Ekonomi Bergerak, Budaya Terangkat
Kehadiran Jaran Dor terbukti mendatangkan dampak berganda. Pertama, dari sisi daya tarik massa, pagelaran ini mampu menyedot antusiasme ratusan warga dari anak-anak hingga lansia. Mereka disuguhi tarian magis dengan para penari dalam kondisi tidak sadar,suasana sakral sebuah sensasi yang justru memperkuat kemeriahan ritual festival.
Yang tak kalah penting adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan. Kerumunan penonton secara alami menciptakan pasar dadakan bagi pedagang kaki lima. Jagung bakar, kacang rebus, hingga makanan ringan cepat saji laris manis, sehingga pendapatan warga lokal meningkat signifikan.
Dengan kata lain, kesimpulan dari kegiatan ini menegaskan bahwa upaya konservasi harus mencakup tiga dampak utama: ekologis (penyelamatan mata air), sosial (solidaritas dan kerukunan warga), serta ekonomi (peningkatan taraf hidup melalui perdagangan rakyat).
Dari Zaman Kolonial, Kuda Lumping Dor Warisan Budaya Batu yang Tak Lekang Waktu
Mengapa Bukan Bantengan? Alasan di Balik Pemilihan Jaran Dor
Menarik untuk dicermati bahwa gagasan awal panitia sebenarnya adalah menampilkan kesenian Bantengan yang sangat populer di Malang Raya. Namun, setelah berdiskusi mendalam, muncullah kekhawatiran. Kelompok-kelompok Bantengan biasanya datang sendiri tanpa diundang, sehingga potensi kerumunan anarkis sulit dikendalikan.
“Kami sepakat bahwa Jaran Dor dinilai lebih ‘lembut’, sehingga panitia lebih mudah mengelola massa,” ungkap salah satu penggagas acara.
Tantangan Besar: Menyisipkan Pesan Ekologi di Tengah Kesenian Murni
Namun, ada satu tantangan fundamental. Baik Bantengan maupun Jaran Dor, pada dasarnya adalah seni murni yang sulit dimasuki pesan-pesan ekologis secara eksplisit. Sementara itu, tujuan utama festival tetaplah mempromosikan konservasi mata air. Maka, target jangka pendeknya adalah memastikan warga hadir dan menikmati dampak ekonomi terlebih dahulu. Dari situ, pelan-pelan pesan cinta lingkungan mulai diperkenalkan.
Strategi Halus: Jangan Bicara Krisis di Awal
Pendekatan kepada masyarakat akar rumput tidak bisa dilakukan secara vulgar. Menggembar-gemborkan krisis lingkungan, kerusakan ruang terbuka hijau, atau alih fungsi lahan sering kali terdengar seperti isu elit yang asing bagi warga desa.
“Jika kita langsung berbicara isu lingkungan berat, masyarakat umum kurang tertarik. Maka kesenian seperti Jaran Dor menjadi strategi perlahan untuk memberikan pemahaman bahwa kondisi lingkungan kita sedang tidak baik-baik saja,” jelas narasumber dari UMM tersebut.
Refleksi Akhir: Harmoni Antara Budaya, Alam, dan Pendidikan
Festival Mata Air di Desa Giripurno telah membuktikan bahwa pendidikan lingkungan tidak harus selalu berupa seminar atau pamflet. Lewat gemerincing bunyi kendang, kerasukan sakral para penari Jaran Dor, serta semaraknya kampung yang bergerak bersama, ekologi diajarkan dengan cara yang menggembirakan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Inilah wajah baru konservasi tidak menggurui, tetapi mengajak tidak menakut-nakuti, tetapi membangun kesadaran secara kolektif. Semoga tradisi ini terus menjadi model bagi desa-desa lain di Indonesia dalam merawat alam, merawat budaya, dan merawat masa depan.
Langkah berani ini dilakukan agar mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung pelestarian sumber mata air melalui pendekatan budaya yang humanis dan edukatif.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.


Kesenian Jaran Dor dalam Festival Mata Air Desa Bulukerto. ( Foto : Ilustrasi ). 
