Banteng Nuswantoro 2025 Persatuan dan Kreativitas Seni Global

Festival Banteng Nuswantara 2025. Merayakan Warisan Budaya, Persatuan, dan Kreativitas Seni Global. ( Foto : istimewa ).

Festival Banteng Nuswantara 2025. Merayakan Warisan Budaya, Persatuan, dan Kreativitas Seni Global. 

Kota Batu, Jawa Timur, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Gelaran Festival Banteng Nuswantara hari kedua berlangsung meriah, dihadiri seniman, tokoh budaya, dan pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Acara yang digelar di Anjani Batik Galeri, Bumiaji, Kota Batu ini tidak hanya memamerkan kekayaan seni tradisional, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi budaya internasional, dengan partisipasi kelompok musik seperti Tahu Brontak, KPJ, dan Kopi Pahit acara semakin semarak.( 30/07/2025 ). 

Anjani Sekar Arum, selaku penyelenggara, menjelaskan bahwa festival ini merupakan peringatan ke-17 tahun Bantengan Nuswantara. “Selain pameran seni lukis, kami juga memberikan penghargaan kepada pemenang lomba serta apresiasi kepada para sesepuh dan tokoh budaya yang telah berkontribusi sejak 2008,” ujarnya.  

Festival yang berlangsung selama 7 hari (29 Juli–3 Agustus 2025) ini menawarkan beragam kegiatan, mulai dari lomba mewarnai untuk anak TK-SD, melukis kepala banteng, pagelaran musik, hingga diskusi budaya. “Kami ingin edukasi masyarakat tentang filosofi Bantengan, agar tidak terdistorsi oleh hal-hal negatif,” tambah Anjani.  

Yang membuat festival ini istimewa adalah kehadiran seniman dari berbagai negara, seperti Malaysia, Kamboja, Australia, Chili, India, Hong Kong, Moscow, Kolombia, dan Jepang serta banyak lagi yang lainya. Menurut Anjani, para seniman ini rutin datang setiap tahun untuk mempelajari budaya Bantengan dan membawa pengetahuannya ke negara masing-masing.  

Ritaudin (Udin) dari Malaysia mengapresiasi gelaran ini. “Budaya Bantengan bukan sekadar pertunjukan, tapi sarana pemersatu masyarakat. Kami berharap tradisi ini terus dilestarikan dan menjadi daya tarik wisata,” ujarnya.  

Bantengan Budaya Pemersatu yang Harus Dilindungi. Dua tokoh sesepuh Bantengan Kota Batu, Mbah Sutejo (61) dari Kelompok Keramat dan Mbah Kastubi (78) dari Karya Muda, menekankan pentingnya melestarikan warisan nenek moyang. “Bantengan adalah simbol guyub rukun dan silaturahmi,” kata Mbah Sutejo.  

Mbah Kastubi menambahkan, kelompoknya telah ada sebelum Bantengan Nuswantara resmi digelar pada 2008. “Kami berharap anak cucu tetap mengenal budaya ini, agar tidak tergerus teknologi dan zaman,” ujarnya.  

Festival ini tidak hanya seremonial, tetapi juga menjadi langkah menuju pendirian Museum Banteng. Lomba mewarnai yang diikuti 170 anak TK-SD menjadi salah satu cara memperkenalkan budaya sejak dini.  

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/dispertan-dan-kp-kota-batu-inovasi-bioflok-dukung-ketahanan-pangan/

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

“Kami ingin Bantengan tidak hanya dikenal sebagai kesenian, tetapi juga sebagai identitas budaya yang mendunia,” pungkas Anjani.  

Dengan semangat kolaborasi lokal dan global, Festival Banteng Nuswantara 2025 membuktikan bahwa tradisi bisa tetap relevan di era modern menghubungkan generasi, bangsa, dan seni dalam satu panggung kebanggaan budaya.  

( Ria ). 

 

Array
Related posts
Tutup
Tutup