HUT ke-108 Desa Pandanrejo, Karnaval Budaya Perkuat Sejarah dan Gotong Royong
KOTA BATU, Pendidikannasional.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-108 Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas sejarah, melestarikan warisan budaya, dan menumbuhkan semangat gotong royong sebagai fondasi pembangunan masyarakat desa. ( 18/10/2026 ).
Melalui karnaval budaya yang melibatkan warga dari berbagai dusun, Pemerintah Desa Pandanrejo berupaya menghadirkan perayaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga merepresentasikan kekayaan tradisi, keharmonisan lingkungan, serta potensi ekonomi masyarakat.

Mengusung tema “Harmoni Alam dan Gotong Royong Menuju Pandanrejo Raharjo”, peringatan tersebut menempatkan kebersamaan warga dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian penting dari cita-cita membangun desa yang maju, sejahtera, dan berkarakter.
Kepala Desa Pandanrejo, Abdul Manan, menjelaskan bahwa tema yang diangkat menitikberatkan pada kepedulian terhadap lingkungan dan upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis.Partisipasi warga menjadi salah satu unsur utama dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

” Karnaval diikuti sekitar 70 kontingen yang berasal dari empat dusun dan 11 rukun warga (RW).Keterlibatan lintas dusun tersebut menunjukkan pentingnya ruang bersama bagi masyarakat untuk merawat kebudayaan sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah kehidupan desa.” Kata Kepala desa kepada Pendidikannasional.id.
HUT ke-108 Desa Pandanrejo, Penelusuran Sejarah Menjadi Landasan Peringatan
Sekretaris kegiatan, Efendi Dwi Santoso, S.E., menjelaskan bahwa penyelenggaraan peringatan hari jadi desa berkaitan dengan penelusuran sejarah yang menjadi dasar penetapan usia Desa Pandanrejo.

Menurutnya, penelusuran tersebut dilakukan melalui keterangan para sesepuh desa dan informasi mengenai peninggalan masa lampau yang dipercaya berkaitan dengan sejarah wilayah setempat.
Salah satu kisah yang disampaikan dalam wawancara berkaitan dengan Mbah Bagin, sesepuh dari wilayah Pandan, yang disebut pernah menemukan tulisan pada kayu di rumah leluhurnya. Tulisan tersebut dikabarkan mencantumkan tahun dari periode 1800-an.
Informasi itu menjadi bagian dari penelusuran sejarah desa. Meski demikian, penetapan tahun dan tanggal hari jadi secara historis tetap perlu didukung pemeriksaan dokumen, bukti peninggalan, serta sumber sejarah lain yang dapat dipertanggungjawabkan.

Penelusuran sejarah lokal memiliki arti penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat. Dengan memahami asal-usul wilayahnya, generasi muda dapat mengenali perjalanan desa, menghargai perjuangan para pendahulu, dan meneruskan nilai-nilai positif yang diwariskan dari masa ke masa.
Dalam konteks pembangunan, sejarah bukan sekadar catatan tentang masa lalu. Sejarah juga dapat menjadi sumber pembelajaran untuk membangun masyarakat yang memiliki identitas kuat, menghargai keberagaman, dan mampu menghadapi perubahan tanpa kehilangan jati diri.
Karnaval Budaya Libatkan Warga dari Empat Dusun
Karnaval budaya menjadi salah satu bagian penting dalam peringatan HUT Desa Pandanrejo ke-108. Kegiatan ini memberikan ruang kepada masyarakat untuk menampilkan kreativitas sekaligus memperlihatkan keberagaman potensi budaya yang dimiliki setiap dusun.

Abdul Manan menyebutkan sekitar 70 kontingen mengikuti kegiatan tersebut dengan melibatkan warga dari empat dusun dan 11 RW. Sementara itu, keterangan sekretariat kegiatan menyebut partisipasi lebih dari 60 kontingen.
Perbedaan penyebutan jumlah tersebut perlu diselaraskan dengan data akhir panitia. Namun, kedua keterangan sama-sama menunjukkan keterlibatan masyarakat dalam jumlah besar.
Selain karnaval budaya, rangkaian acara juga dimeriahkan oleh sekitar 17 armada sound kreasi yang dijadwalkan tampil pada sore hingga malam hari.
Ragam kegiatan tersebut menghadirkan ruang ekspresi bagi masyarakat sekaligus menjadi kesempatan untuk mempererat interaksi sosial antarkelompok warga.
Agar kegiatan berlangsung berkelanjutan, penyelenggaraan karnaval perlu disertai pengaturan lalu lintas, pengamanan peserta, pengelolaan sampah, dan perlindungan kenyamanan masyarakat. Dengan demikian, perayaan budaya dapat berjalan meriah sekaligus tertib dan bertanggung jawab.
Menghidupkan Kembali Lembaga Adat dan Melestarikan Keris Pusaka
Selain karnaval, upaya menghidupkan kembali Lembaga Adat Desa menjadi perhatian dalam pengembangan kebudayaan di Pandanrejo.
Efendi menjelaskan bahwa penyusunan struktur kepengurusan lembaga adat mulai dilakukan. Keberadaan lembaga tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian tradisi, pendokumentasian sejarah, dan pengenalan warisan leluhur kepada generasi berikutnya.

Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian ialah kirab atau pameran keris pusaka. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperkenalkan warisan budaya sekaligus membuka ruang pemahaman mengenai nilai sejarah dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Dalam wawancara, Efendi juga menyampaikan adanya hubungan silaturahmi dengan sejumlah tokoh dan pihak di luar desa, termasuk pihak Keraton Surakarta. Ia menyebut terdapat dukungan dan penyerahan sumbangan yang diterima pengurus lembaga adat.
Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/tradisi-keraton-warnai-selamatan-desa-pandanrejo-kota-batu/
Rincian mengenai bentuk dukungan dan benda yang diserahkan perlu dipastikan kepada narasumber agar dapat dijelaskan secara akurat kepada publik.
Pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, lembaga adat, tokoh masyarakat, komunitas seni, hingga generasi muda. Sinergi tersebut penting agar tradisi tidak berhenti sebagai bagian dari seremoni tahunan, tetapi berkembang menjadi pengetahuan dan praktik kebudayaan yang diwariskan secara berkelanjutan.
Karnaval Tematik, Peluang Mengenalkan Sejarah Setiap Dusun
Ke depan, penyelenggaraan karnaval budaya Desa Pandanrejo diharapkan dapat dikembangkan menjadi lebih terarah dan memiliki kekhasan.
Efendi menyampaikan bahwa kegiatan tahun ini menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan format karnaval agar lebih dinamis, menarik, dan sesuai dengan karakter masyarakat.

Salah satu gagasan yang disampaikan ialah penyelenggaraan karnaval tematik yang mengangkat asal-usul sejarah masing-masing dusun, seperti Dusun Dadapan dan Dusun Pandan.
Melalui pendekatan tersebut, setiap dusun dapat menampilkan perjalanan sejarahnya, mulai dari kisah pembukaan wilayah atau babat alas, perkembangan permukiman, hingga perubahan kehidupan masyarakat pada masa kini.
Konsep karnaval tematik memiliki nilai edukatif karena memungkinkan sejarah lokal disampaikan melalui pertunjukan, kostum, narasi, dan kreativitas warga. Masyarakat tidak hanya menyaksikan kemeriahan acara, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai identitas dan perjalanan wilayahnya.
Apabila dirancang secara konsisten, kegiatan ini berpotensi menjadi salah satu daya tarik wisata budaya Kota Batu. Pengembangannya tentu perlu memperhatikan keaslian cerita sejarah, kesiapan masyarakat, kelestarian lingkungan, serta keterlibatan pelaku ekonomi lokal.
Dengan demikian, karnaval dapat berkembang menjadi media pendidikan kebudayaan sekaligus sarana promosi potensi desa yang berkelanjutan.
Budaya dan Gotong Royong sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat
Peringatan hari jadi desa juga membuka peluang untuk memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kehadiran peserta dan pengunjung dapat memberikan kesempatan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang makanan, serta produsen kerajinan lokal untuk memperkenalkan produk mereka.

Agar manfaat tersebut tidak hanya dirasakan oleh sebagian kelompok, pelibatan pelaku usaha dari berbagai dusun dapat menjadi bagian dari perencanaan kegiatan berikutnya.
Pemerintah desa dan panitia juga dapat mempertimbangkan penyediaan ruang promosi produk lokal, penataan lokasi perdagangan, serta pengelolaan kebersihan dan keamanan selama acara berlangsung.
Upaya tersebut perlu dilaksanakan dengan perencanaan yang matang. Dampak ekonomi tidak semata-mata diukur dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari terbukanya kesempatan usaha, meningkatnya promosi produk lokal, dan terbangunnya kerja sama antarpelaku ekonomi masyarakat.
Pada saat yang sama, pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan harus tetap berjalan beriringan. Pembangunan desa yang berkelanjutan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan dan memperkuat kohesi sosial.
Pandanrejo Raharjo, Merawat Warisan dan Menyiapkan Masa Depan
Peringatan HUT ke-108 Desa Pandanrejo menjadi pengingat bahwa kemajuan desa membutuhkan hubungan yang seimbang antara pelestarian sejarah, penguatan budaya, kepedulian lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Karnaval budaya, pengembangan lembaga adat, serta gagasan pertunjukan tematik berbasis sejarah dusun merupakan peluang untuk memperluas partisipasi warga dalam menjaga identitas lokal.
Keberhasilan upaya tersebut bergantung pada kesinambungan program, ketepatan pendokumentasian sejarah, dan keterlibatan masyarakat secara luas. Tradisi akan memiliki makna lebih mendalam ketika tidak hanya ditampilkan pada saat perayaan, tetapi juga dipelajari, dipelihara, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan semangat harmoni alam dan gotong royong, Desa Pandanrejo memiliki kesempatan untuk mengembangkan kebudayaan sebagai kekuatan sosial, sumber pembelajaran, dan salah satu penopang ekonomi lokal.
Pada akhirnya, cita-cita menuju Pandanrejo yang raharja bukan hanya tentang kemeriahan perayaan hari jadi, melainkan tentang kemampuan masyarakat menjaga warisan leluhur sembari membangun masa depan yang lebih sejahtera, inklusif, dan berkelanjutan.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id






