Tradisi Mocopat Warnai Selamatan Desa Oro-Oro Ombo ke-113, Budaya Jawa Kembali Dihidupkan

Tampak beberapa anggota lembaga adat dan sinden usia dini macapat. ( Foto : istimewa, ilustrasi ).

Selamatan Desa Oro-Oro Ombo ke-113, Tradisi Leluhur dan Mocopat Dihidupkan Kembali untuk Generasi Muda

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Desa Oro-Oro Ombo kembali menggelar tradisi tahunan Selamatan Desa yang pada tahun 2026 ini memasuki penyelenggaraan ke-113. Kegiatan budaya dan ritual adat tersebut berlangsung khidmat dengan melibatkan masyarakat dari berbagai lingkungan desa sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur yang telah diwariskan turun-temurun.

Rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak sehari sebelumnya melalui Pentas Seni Budaya serta Pentas Kreativitas ibu-ibu PKK di masing-masing lingkungan. Memasuki malam inti pelaksanaan, masyarakat bersama perangkat desa melakukan ritual adat di sejumlah punden yang tersebar di wilayah desa.

Para tokoh lembaga adat Desa Oro Oro Ombo dengan tetap melestarikan budaya Jawa.
Para tokoh lembaga adat Desa Oro Oro Ombo dengan tetap melestarikan budaya Jawa.

Beberapa punden yang menjadi lokasi ritual di antaranya Punden Bedah Krawang di wilayah Krajan dan Punden Gondorejo 1 di wilayah Dresel. Setelah prosesi ritual selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Mocopat yang berlangsung hingga larut malam.

Kepala Desa Oro-Oro Ombo, Wiweko mengatakan, tradisi Mocopat sengaja kembali dihidupkan agar generasi muda mengenal budaya Jawa yang memiliki nilai luhur dan filosofi kehidupan mendalam.

Kepala Desa Oro Oro Ombo, Wiweko ketika memberikan keteranganya.
Kepala Desa Oro Oro Ombo, Wiweko ketika memberikan keteranganya.

“Harapan kami di Selamatan Desa Oro-Oro Ombo yang ke-113 ini adalah agar masyarakat lebih memahami bahwa budaya adat istiadat harus tetap dijaga. Jangan sampai budaya yang diwariskan leluhur tenggelam oleh perkembangan zaman,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tema Selamatan Desa tahun ini adalah “Bersama-sama Masyarakat Membangun Desa”. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan serentak sesuai ketentuan adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/malam-ke-10-ramadhan-suara-perkusi-guncang-desa-oro-oro-ombo-di-tengah-malam/

Selain ritual di punden, pada tengah malam masyarakat juga melaksanakan doa bersama di sumber air utama desa. Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan dan keberkahan bagi lingkungan serta sumber mata air yang ada di Desa Oro-Oro Ombo.

“Tujuannya memohon kepada Allah SWT agar desa ini diberkahi, sumber air tetap terjaga, lingkungan aman, dan masyarakat dijauhkan dari segala musibah,” kata Wiweko.

Usai doa bersama, warga kembali melanjutkan rangkaian selamatan pada dini hari setelah salat Subuh di masing-masing punden secara serentak.

Salah Satu lembaga adat Desa Oro Oro Ombo ketika berada di area panggung.
Salah Satu lembaga adat Desa Oro Oro Ombo ketika berada di area panggung.

Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Desa Oro-Oro Ombo, Sukirman menjelaskan bahwa Mocopat merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang sarat nilai pitutur atau nasihat kehidupan.

“Mocopat itu berisi pitutur yang baik dan menceritakan perjalanan hidup manusia mulai dari lahir sampai meninggal dunia yang dikemas dalam bentuk tembang,” jelasnya.

Menurut Sukirman, kegiatan Mocopat yang saat ini difasilitasi oleh Lembaga Adat telah berjalan selama kurang lebih tiga tahun. Tradisi tersebut kini rutin ditampilkan dalam momentum Selamatan Desa sebagai bagian dari malam melekan atau tirakatan masyarakat.

Kepala Desa Ketika bersama sama para tokoh lembaga adat Desa Oro Oro Ombo.
Kepala Desa Ketika bersama sama para tokoh lembaga adat Desa Oro Oro Ombo.

Ia juga menerangkan bahwa Mocopat bukan sekadar tembang Jawa, melainkan juga menjadi media doa dan pendekatan diri kepada Sang Pencipta. Dalam setiap baitnya tersimpan pesan moral, spiritual, serta pengingat perjalanan hidup manusia.

“Malam hari dipilih karena suasananya lebih tenang sehingga orang yang mendengarkan maupun yang membaca Mocopat bisa lebih khusyuk dan meresapi maknanya,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan Mocopat, alunan instrumen gender digunakan sebagai penuntun nada sebelum tembang dibacakan. Beberapa tembang yang biasa dilantunkan antara lain Maskumambang, Asmarandana, Dhandhanggula, Kinanthi, hingga Pucung yang menggambarkan fase kehidupan manusia.

Sinden Mocopat usia dini beserta keluarga besarnya.
Sinden Mocopat usia dini beserta keluarga besarnya.

Di tengah upaya pelestarian budaya tersebut, muncul pula generasi muda yang mulai tertarik mempelajari Mocopat. Salah satunya adalah Lusiana Gita Medina Baskara atau yang akrab disapa Uci, siswi SDN Ngaglik 2 Kota Batu.

Uci mengaku sudah cukup lama belajar Mocopat dan bahkan berhasil meraih juara pertama dalam ajang Macapat Idol. Ia berharap kemampuan yang dimilikinya dapat terus berkembang.

“Mudah-mudahan sukses, bisa seperti Mbak Niken Salindri, kariernya lancar dan Mocopat-nya tambah bagus,” ujar Uci.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/daerah/musrenbang-kecamatan-batu-2026-tetapkan-37-usulan-prioritas-infrastruktur-dan-disabilitas-jadi-sorotan/

Sementara sang nenek, Mintin mengaku bangga melihat cucunya mampu melestarikan budaya Jawa sejak usia dini.

“Senang sekali melihat cucu bisa ikut Macapat dan sinden. Semoga bisa sukses dan budaya Jawa tetap lestari,” katanya.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Melalui Selamatan Desa ke-113 ini, masyarakat Oro-Oro Ombo berharap tradisi leluhur tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga mampu diwariskan kepada generasi muda sebagai identitas budaya yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.

Array
Related posts
Tutup
Tutup