156 Tahun Tak Pernah Putus! Haul Mbah Djoego Sedot Ribuan Warga dan Dongkrak UMKM

Kirab Pusaka dalam Haul Mbah Djoego ke 156.( Foto. : Tim ).

156 Tahun Tak Pernah Padam! Haul Mbah Djoego di Blitar Jadi Magnet Ribuan Warga dan UMKM

Blitar, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di saat banyak tradisi mulai memudar digerus zaman, Dusun Sanggrahan,Desa Djoego di Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar justru menghadirkan fenomena yang tak biasa. Selama 156 tahun tanpa terputus, tradisi Haul Mbah Djoego tetap hidup bahkan kini semakin semarak, menyedot ribuan peziarah, menggerakkan ekonomi, dan menjadi ruang belajar bagi generasi muda.

Puncak peringatan Haul Mbah Djoego ke-156 digelar pada 28 Syawal 1447 H atau 18 April 2026, diikuti masyarakat dari berbagai daerah. Sosok yang dikenal sebagai Eyang Jugo bukan hanya dihormati karena spiritualitasnya, tetapi juga karena jejak sejarah dan nilai perjuangannya yang terus diwariskan lintas generasi.

Kepala Desa Jugo ketika berada di Masjid, melakukan serangkaian kegiatan untuk memperingati Haul ke 156 Mbah Djoego.
Kepala Desa Jugo ketika berada di Masjid, melakukan serangkaian kegiatan untuk memperingati Haul ke 156 Mbah Djoego.

 

Tradisi 156 Tahun yang Tak Pernah Putus

Kepala Desa Jugo, Kholid Adnan, menegaskan bahwa haul ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan warisan budaya yang dijaga bersama.

“Dari anak-anak sampai sesepuh desa ikut terlibat. Ini tradisi yang menyatukan semua,” ujarnya.Rangkaian kegiatan berlangsung selama beberapa hari dan memadukan unsur religi, budaya, hingga ekonomi. Mulai dari khataman Al-Qur’an, tahlil akbar, hingga pengajian besar, semuanya diikuti ratusan hingga ribuan jemaah.

Kesenian hiburan di dalam rangkaian kegiatan peringatan Haul Mbah Djoego ke -156.
Kesenian hiburan di dalam rangkaian kegiatan peringatan Haul Mbah Djoego ke -156.

Tak hanya itu, acara juga dimeriahkan dengan: Kesenian tradisional seperti gending dan macapat. Selawatan bersama Gus Azmi. Pagelaran wayang kulit bertema sejarah Mbah Djoego. Kirab tumpeng dan penyekaran agung. Hingga event modern seperti Mbah Djoego Run 5K.Perpaduan tradisi dan inovasi inilah yang membuat haul ini tetap relevan di tengah era digital.

Kirab Pusaka: Sakral, Meriah, dan Penuh Makna

Salah satu momen paling dinanti adalah Kirab Pusaka, yang digelar pada sabtu siang. Ribuan warga memadati jalan dengan mengenakan busana adat Jawa seperti lurik, beskap, hingga sanggul. Puluhan pusaka seperti keris, tombak, pedang, hingga alat pertanian tradisional dikirab dari makam hingga area utama acara.

Ki Arif, ( Mbah Semar ) ketika menjelaskan kegiatan didalam Haul Mbah Djoego.
Ki Arif, ( Mbah Semar ) ketika menjelaskan kegiatan didalam Haul Mbah Djoego.

Ki Arif Yulianto Wicaksono, pemangku padepokan sekaligus keturunan kelima Mbah Djoego, menjelaskan makna sakral prosesi tersebut.

“Pusaka disemayamkan terlebih dahulu di makam sesepuh pada tengah malam. Ini bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur,” ungkapnya.

Baca Juga : https://pendidikannasional.id/seni-budaya/kota-batu-perkuat-budaya-lokal-sanduk-resmi-jadi-wbtb/

https://pendidikannasional.id/seni-budaya/dari-zaman-kolonial-kuda-lumping-dor-warisan-budaya-batu-yang-tak-lekang-waktu/

https://pendidikannasional.id/daerah/ritual-adat-di-lingga-yoni-songgoriti-awali-pembongkaran-bangunan-dijadikan-cagar-budaya/

Yang menarik, peserta kirab tidak hanya dari Desa Jugo, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Malang, Kediri, hingga komunitas budaya dari luar kota.

Tampak Ratusan UMKM dari warga sekitar juga dari berbagai daerah / kota juga mewarnai Haul Mbah Djoego ke 156.
Tampak Ratusan UMKM dari warga sekitar juga dari berbagai daerah / kota juga mewarnai Haul Mbah Djoego ke 156.

 

Dari Tradisi ke Ekonomi: UMKM Ikut Tumbuh

Di balik nuansa spiritual dan budaya, Haul Mbah Djoego juga membawa dampak ekonomi nyata. Ratusan pelaku UMKM memanfaatkan momentum ini untuk berjualan dan mempromosikan produk mereka. Tidak hanya dari Blitar, tetapi juga dari berbagai daerah sekitar.

Beberapa produk unggulan yang mencuri perhatian antara lain: Lapis Kukus Situ dengan ratusan karyawan. Batik khas Desa Jugo. Produk olahan abon dari KUBE Brantas yang sudah menembus pasar Hong Kong. Beragam kerajinan tangan dan kuliner tradisional

“Ini murni swadaya masyarakat. Tidak komersial, tapi dampaknya luar biasa untuk ekonomi warga,” jelas Kholid.

Bupati Blitar, H. Arijanto ketika bersama Ki Arif dan para pelaku budaya.
Bupati Blitar, H. Arijanto ketika bersama Ki Arif dan para pelaku budaya.

 

Bupati Blitar: Potensi Wisata Budaya Nasional

Bupati Blitar, Drs. H. Arijanto, yang turut hadir dalam acara ini, mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat. Menurutnya, Haul Mbah Djoego memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya unggulan.

“Rangkaian acaranya lengkap ada religi, budaya, hingga ekonomi. Kalau dikemas dengan baik, ini bisa menjadi daya tarik wisata nasional,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keterlibatan akademisi dan komunitas budaya yang menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya milik lokal, tetapi juga menjadi perhatian luas. 

Ketua Umum Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara ( PPBN ) ketika bersama para pelaku budaya di Haul Mbah Djoego ke 156.
Ketua Umum Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara ( PPBN ) ketika bersama para pelaku budaya di Haul Mbah Djoego ke 156.

 

Belajar Sejarah dari Tradisi

Bagi dunia pendidikan, Haul Mbah Djoego bukan sekadar perayaan, tetapi juga media pembelajaran nyata. Mbah Djoego, yang dikenal sebagai bagian dari sejarah perjuangan Jawa dan memiliki keterkaitan dengan masa Perang Diponegoro (1825–1830), meninggalkan warisan penting bagi masyarakat.

Beliau dikenal membuka lahan pertanian, menyediakan sumber air, hingga membantu masyarakat secara langsung. Nilai-nilai inilah yang menjadi pelajaran penting bagi generasi muda. Tokoh nasional seperti Gus Dur bahkan diketahui pernah bertawasul di makam beliau, menunjukkan besarnya pengaruh spiritual sosok ini.

Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Tradisi Hidup, Masa Depan Terjaga

Haul Mbah Djoego ke-156 membuktikan satu hal penting: tradisi tidak harus kalah oleh modernisasi. Justru sebaliknya, ketika dikelola dengan baik, tradisi bisa menjadi: Penggerak ekonomi, Media pendidikan karakter

Sumber identitas budaya

Dari kirab pusaka hingga UMKM ekspor, dari tahlil hingga lari 5K, semuanya berpadu menjadi kekuatan yang menjaga masa lalu sekaligus menyongsong masa depan.

Desa Jugo telah memberi contoh nyata bahwa melestarikan budaya bukan berarti tertinggal, tetapi justru menjadi jalan menuju kemajuan yang berakar kuat.

 

Penulis: Tim Redaksi Pendidikannasional.id

Sumber: Wawancara Kepala Desa Jugo, pemangku padepokan, dan Bupati Blitar. 

Array
Related posts
Tutup
Tutup