Ritual Adat di Lingga Yoni Songgoriti Awali Pembongkaran Bangunan, Dijadikan Cagar Budaya

Prosesi ritual adat penghormatan di situs Lingga Yoni Songgoriti, Kota Batu, yang dihadiri tokoh adat dan masyarakat ( Foto : Ria )

https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia

Ritual Adat dan Tasyakuran Menyambut Cagar Budaya Lingga Yoni dan Bola Dunia di Songgoriti

Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Suasana khidmat menyelimuti area di Jalan Raya Songgoriti, Kota Batu, pada pelaksanaan ritual adat Lingga Yoni dan Bola Dunia. Ritual ini digelar dengan maksud memohon keselamatan serta kelancaran untuk proses pekerjaan pembongkaran bangunan (ekskavasi) di sekitar situs tersebut, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur atas pembuatan pagar pembatas yang menandai kawasan tersebut sebagai cagar budaya. ( 11/01/2026 ) malam. 

Acara yang sarat makna ini dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat dan institusi. Tampak hadir Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, yang juga aktif sebagai pelaku adat, perwakilan Lembaga Adat Bulukerto, Ketua Adat Songgoriti, serta sejumlah tokoh masyarakat. Kehadiran Kasubbid Intelijen Kejaksaan Negeri (Kejari) Batu, Adya Kurnia, S.H., turut melengkapi dan menyemarakkan acara.

Suasana khidmat tasyakuran selamatan di area Cagar Budaya Lingga Yoni dan Bola Dunia, Songgoriti, Batu
Suasana khidmat tasyakuran selamatan di area Cagar Budaya Lingga Yoni dan Bola Dunia, Songgoriti, Batu

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi ritual langsung di situs Lingga Yoni. Ritual ini merupakan simbol penghormatan dan permohonan izin kepada leluhur serta alam semesta sebelum dilakukan aktivitas di sekitar lokasi yang disakralkan. Setelah ritual, acara dilanjutkan dengan tasyakuran dan selamatan yang bertujuan mengirim doa kepada para leluhur serta mengungkapkan syukur atas upaya pelestarian yang sedang dilakukan, khususnya pemagaran area untuk perlindungan cagar budaya.

Mbah Nyoto ( sapaan akrabnya ) selaku Juru Kunci Candi Songgoriti, dalam kesempatanya menekankan bahwa acara ini merupakan sarana komunikasi spiritual. “Kegiatan kali ini merupakan suatu sarana permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kepada leluhur-leluhur, mengingat di area Lingga Yoni sekitarnya akan ditetapkan sebagai cagar budaya. Ini adalah bentuk penghargaan kita,” ujarnya Juru kunci Candi Songgoriti. 

Profesi ritual di area linggayoni
Profesi ritual di area linggayoni dengan penuh khidmat

Dukungan terhadap pelestarian budaya juga disampaikan secara tegas oleh perwakilan institusi penegak hukum. Kasubbid Intelijen Kejari Batu, Adya Kurnia, S.H., yang hadir mewakili Kejari Batu dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur, menyatakan rasa terhormatnya dapat berpartisipasi. “Kami sangat mendukung pelestarian adat istiadat dan budaya di Kota Batu. Institusi kejaksaan juga memiliki peran dalam menjaga kelestarian kebudayaan dan cagar alam,” ungkap Adya Kurnia.

Ia menambahkan harapannya agar semua pihak dapat lebih menghargai warisan leluhur. “Ke depannya, masyarakat Kota Batu diharapkan dapat melihat bahwa area Candi Songgoriti ini menyimpan peninggalan sejarah berharga yang dapat dijadikan pembelajaran bagi generasi penerus. Mari kita jaga bersama,” pesannya.

Batu Lingga Yoni peninggalan masa kuno di situs Songgoriti, Batu, yang dilestarikan sebagai cagar budaya.
Batu Lingga Yoni peninggalan masa kuno di situs Songgoriti, Batu, yang dilestarikan sebagai cagar budaya.
Batu Lingga Yoni yang berukuran lebih besar yang dinamakan sebagai Bola Dunia
Batu Lingga Yoni yang berukuran lebih besar yang dinamakan sebagai Bola Dunia

Sementara itu, Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, melihat penetapan cagar budaya ini sebagai momentum edukasi sejarah dan kebanggaan nasional. “Dengan dijadikannya cagar budaya di area Lingga Yoni dan Bola Dunia ini, tentu tujuannya untuk pengetahuan kepada generasi penerus. Ini membuktikan bahwa kita bukan negara kecil, tetapi negara yang besar dengan sejarah yang panjang,” tegas Suhermawan.

Ia menyerukan semangat kebangsaan, “Kita wajib menyuarakan mindset kebesaran ini kepada anak-anak muda. Anak-anak Indonesia harus kita besarkan hatinya, kita lebarkan dadanya, bahwa kita adalah bangsa Garuda, bangsa yang besar. Peninggalan-peninggalan sejarah seperti ini harus kita lestarikan, jaga, dan rawat keberadaannya.”tambahnya Suhermaaan. 

Kasubbid Intelijen Kejari Batu, Adya Kurnia ketika menerima tumpeng dari juru kunci candi songgoriti
Kasubbid Intelijen Kejari Batu, Adya Kurnia ketika menerima tumpeng dari juru kunci candi songgoriti

Lingga Yoni merupakan simbol sakral dalam kepercayaan Hindu kuno, melambangkan kesuburan, kesatuan kosmis, dan keseimbangan antara unsur maskulin (Lingga) dan feminin (Yoni). Situs ini, bersama Bola Dunia, menjadi bukti fisik peradaban masa lampau di kawasan Songgoriti, yang dikenal sejak era Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Ritual yang dilaksanakan bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi mengandung filosofi mendalam tentang harmonisasi antara pembangunan baru dan pelestarian warisan lama.

Kegiatan ekskavasi dan pemagaran yang didahului dengan ritual menunjukan pendekatan yang holistik dan berbudaya. Ini mencerminkan kesadaran kolektif bahwa kemajuan pembangunan fisik harus berjalan beriringan dengan penghormatan pada nilai-nilai sejarah dan spiritualitas lokal. Penetapan kawasan ini sebagai cagar budaya akan memberikan perlindungan hukum, sekaligus membuka peluang untuk penelitian arkeologis lebih lanjut yang dapat mengungkap tabir sejarah Kota Batu.

Potongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dalam acara selamatan penyambutan cagar budaya di Batu.
Potongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dalam acara selamatan penyambutan cagar budaya di Batu.

Pelestarian situs Lingga Yoni dan Bola Dunia diharapkan dapat menjadi living museum dan ruang edukasi publik. Keberadaannya tidak hanya akan mengingatkan pada kejayaan masa lalu, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk membangun karakter generasi muda yang mencintai sejarah dan budaya bangsanya.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah desa, lembaga adat, tokoh masyarakat, hingga institusi seperti kejaksaan, upaya pelestarian ini memiliki fondasi yang kuat. Kolaborasi semacam ini merupakan model ideal dalam memelihara warisan budaya, di mana semua elemen masyarakat bersinergi dengan satu tujuan mewariskan sejarah yang utuh dan bermartabat kepada anak cucu.

Baca Juga :  https://pendidikannasional.id/daerah/dangdut-koplo-eksis-di-jalibar-batu-new-mandala-jadi-magnet-wisatawan-dan-penggerak-umkm/

Lihat Juga :  https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Acara ritual dan tasyakuran pada malam ini pun ditutup dengan doa bersama dan makan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan harapan untuk masa depan yang lebih baik, di mana warisan leluhur tetap lestari dan menjadi kebanggaan bersama. Langkah ini bukan akhir, melainkan awal dari komitmen berkelanjutan untuk menjaga setiap jengkal tanah yang menyimpan cerita peradaban Nusantara.

 

(Ria). 

Array
Related posts