
https://katalog.inaproc.id/informasi-suara-indonesia
Melestarikan Budaya Adiluhung di Era Modern Kirab Cucuk Lampah Mbok Ireng bersama Abdi dalem Kasunanan Surakarta Hadiningrat Reh Wongsonagoro dalam Haul Gus Dur ke-16
Kota Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Dalam rangkaian peringatan Haul ke-16 Presiden ke-4 RI, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melalui Reh Wongsonagoro Malang Raya menggelar sebuah tradisi yang sarat makna, Kirab Cucuk Lampah Mbok Ireng lan Abdi Dalem. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 2 Januari 2026 di Kota Batu ini bukan sekadar prosesi, melainkan sebuah pernyataan sikap tentang pentingnya menjaga warisan budaya Jawa di tengah derasnya arus modernitas dan globalisasi.
Kirab yang dipandegani oleh KRH Kiswonagoro atau Ki Bayu Seto ini memulai perjalanannya dari Kantor PCNU Kota Batu. Rute yang ditempuh pun penuh simbol. Dari kantor organisasi keagamaan, kirab bergerak menuju Taman Makam Pahlawan (TMP), sebuah penghormatan kepada para pahlawan yang telah berjuang bagi bangsa. Perjalanan kemudian berakhir di Nala Ecopint Nala Festival, menyiratkan harmoni antara pelestarian budaya dan semangat masa depan yang berwawasan lingkungan. Pemilihan lokasi akhir di area festival juga menunjukkan upaya untuk memperkenalkan tradisi ini kepada khalayak yang lebih luas, khususnya generasi muda.

Kegiatan ini, meski tampak sebagai parade budaya, sesungguhnya mengandung nilai-nilai sakral dan filosofis yang dalam. “Cucuk Lampah” yang berarti jejak langkah, dan “Mbok Ireng” serta “Abdi Dalem” yang merepresentasikan figur pelayan dan abdi keraton yang setia, bersama-sama melambangkan perjalanan spiritual, pengabdian, serta kesetiaan pada nilai-nilai luhur. Tradisi ini adalah wujud dari tatakrama adiluhung, tata krama yang tinggi dan mulia serta menjadi fondasi karakter masyarakat Jawa. Di tengah dunia yang serba cepat dan individualistik, nilai-nilai seperti hormat, sopan santun, andhap asor (rendah hati), dan kesetiaan pada tugas menjadi penyeimbang yang amat dibutuhkan.
Dalam kesempatanya, KRH Kiswonagoro menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh anggota Reh Wongsonagoro dari Malang Raya, Sidoarjo, dan Pasuruan yang telah kompak menjawab “panggilan hati” untuk mengabdi dengan tulus. “Sembah nuwun demi terjaganya kebudayaan langgeng, salam rahayu, rahayu, rahayu,” ucapnya, menggemakan harapan akan keselamatan, kesejahteraan, dan keberkahan yang menyertai pelestarian budaya.
Lebih lanjut, Ki Bayu Seto menegaskan visi ke depan bagi komunitasnya. “Reh Wongsonagoro ke depan tambah semakin solid dan kompak serta berkembang lebih besar khususnya di wilayah Kota Batu dan pada umumnya Malang Raya,” serunya. Harapan ini bukan tanpa alasan. Tujuannya adalah agar kebudayaan Jawa bisa diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, sesuai dengan pakem (standar) dan paugeran (aturan) Keraton Kasunanan Surakarta. Pelestarian yang berdasarkan paugeran ini penting untuk menjaga kemurnian dan kedalaman makna dari setiap tradisi.

Peringatan yang tegas juga disampaikan mengenai ancaman budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai lokal. “Agar tetap terjaga, jangan sampai dikikis oleh budaya-budaya luar yang akan merusak moral generasi muda,” ungkap Kiswonagoro. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa pelestarian budaya bukanlah sikap tertutup, tetapi sebuah upaya filtering dan penanaman jati diri. Di era digital dimana informasi dari berbagai belahan dunia bisa diakses dengan mudah, pemahaman yang kuat terhadap akar budaya sendiri akan membentuk generasi muda yang tidak kehilangan identitas, namun tetap mampu bersikap kritis dan adaptif terhadap kemajuan zaman.
Kirab Cucuk Lampah dalam Haul Gus Dur ini memiliki resonansi yang khusus. Gus Dur sendiri dikenal sebagai bapak pluralisme dan pembela kebudayaan lokal. Menghubungkan tradisi keraton dengan semangat Gus Dur menegaskan bahwa budaya Jawa yang adiluhung pada hakikatnya inklusif, merangkul, dan menjadi sumber kekuatan moral bagi bangsa. Kegiatan ini dengan demikian menjadi medium edukasi publik yang powerful, menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bukanlah dua kutub yang bertentangan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Dengan semangat rahayu, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi inspirasi bagi komunitas lain dan pemerintah daerah untuk lebih aktif mendukung ruang ekspresi budaya lokal. Dengan soliditas Reh Wongsonagoro dan dukungan semua pihak, warisan tatakrama adiluhung akan tetap hidup, menjadi kompas moral yang menuntun langkah generasi muda Indonesia menuju masa depan yang maju, namun tetap berbudaya dan berkarakter.
( Ria ).


Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Reh Wongsonagoro Malang Raya ketika bersama Wali Kota Batu
