Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di pertengahan bulan Ramadhan 1445 H kembali hadir sebuah kelompok musik yang berkolaborasi dengan kesenian Bantengan dan Pencak Silat, grup ini mengatas namakan Rock Supo. Kegiatan tersebut bertempat di Pasar Induk Among Tani Kota Batu pada hari Senin, ( 01/04/2024 ) malam.
Dalam Safari Ramadhan KWB ini Rock Supo tampil dengan membawakan beberapa lagu antara lain dari sawong jabo, Iwan Fals dan beberapa lagu ciptaannya sendiri. Grup musik ini sendiri gabungan dari Bantengan Empu Supo, Kelompok Musik Alternatif Bambamboe, Rumah Balada Indonesia, Sanggar Cemoro Doyong, KPJ, juga oleh Musisi muda Kota Batu antara lain Azar Monies, Nico Monies, Zaki Sweet Friday, Dewa Tyuphan.
Rock Supo merupakan solusi pluralisme budaya tradisional dimana kesenian ini menyuguhkan suatu kolaborasi yang unik atau dikatakan kontemporer sehingga mempunyai ciri khas sendiri dalam setiap penampilanya.
Pada kesempatanya Selaku Ketua KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan ) Dodik Supriyanto ( Cak Yan ) mengatakan kami dalam acara Safari Ramadhan Kota Batu ini membawakan lagu yang isi di dalamnya berbicara mengenahi kehidupan kita sehari-harinya.
“Dengan kegiatan seperti ini saya berharap bisa terus berkembang kedepanya dengan tetap konsisten pada jalur kontemporer independen.” Ungkapnya.
Pada kesempatan waktu lain sebagai salah satu penggagas Rock Supo, Luhur Ayom Pamungkas ( Ayom Sii Sarpow ) mengatakan dalam acara kali ini kami mencoba menampilkan yang lain dari sebelumnya.
” Pada setiap kami menyuguhkan dalam acara lain itu selalu berbeda dari kegiatan yang sebelum- sebelumnya tetapi tetap dalam alur kontemporer independen, sehingga bagi penikmat musik atau kesenian yang lainya tidak bisa menebak fokus yang mana, karena kami mempunyai tema masing-masing dalam sekali penampilanya.” Jelasnya.
Kesenian ini memang unik yang dimana dalam penampilanya itu seperti tidak selaras tetapi anehnya bisa dinikmati dan dirasakan, maka kita seakan akan ikut dibawakan ke nuansa yang berbeda sehingga ada suatu pesan dan kesan yang disampaikan oleh senimanya.
“Kolaborasi atau penggabungan dari berbagai alat musik besama kesenian bantengan maupun pencak nya ini menjadi satu untuk mewujudkan sebuah cerita atau pesan dari senimanya untuk dibaca baik oleh masyarakat maupun pemerintah.” Pungkasnya.( Ria ).




