Menyelami “The World of Pictolo” Sebuah Perjalanan Seni di Antara Gambar dan Kata di Galeri Raos
Kota Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Kota Batu kembali mengukuhkan diri bukan hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai episentrum seni dan budaya. Pada Sabtu malam, 25 Oktober 2025, Galeri Raos menjadi saksi bisu perhelatan apik bertajuk “The World of Pictolo”, sebuah pameran tunggal yang digelar oleh seniman multitalenta, Watonisays. Pameran ini berhasil menciptakan sebuah ruang dialektika yang memadukan seni visual dan sastra, menawarkan pengalaman estetika yang mendalam dan kontemplatif bagi para penikmat seni yang hadir.
Malam itu dibuka dengan penuh ceria oleh MC Arafah Aulia Al Araf, Suaranya yang khas berhasil menata suasana, membimbing para audiens untuk siap memasuki “dunia” yang hendak ditelusuri. Sebelum meresapi karya-karya Pictolo, para tamu diajak untuk lebih dulu memanaskan rasa melalui dua sajian seni performatif yang menyentuh kalbu.

Pertama, adalah penampilan lagu “Fly Me to The Moon” yang dinyanyikan oleh Kara ( Penyanyi Jazz ) yang serta dengan dibawakan penuh nuansa. Lagu klasik ini bukan sekadar pengisi waktu, melainkan sebuah metafora yang tepat untuk keseluruhan acara, sebuah undangan untuk terbang menjauh dari realitas sehari-hari, mengaruhi orbit imajinasi baru yang diciptakan Watonisays. Kemudian, Ocha dari Komunitas Satu Ruang membawakan puisi berjudul “Dibalik Senja yang Berbisik”. Setiap bait yang dilantunkan Ocha bagai memberikan narasi awal, menyiapkan panggung mental untuk menyambut karya-karya visual yang penuh makna.

Dalam sambutannya, Pri Wahyuono dari Pose Art Management menyoroti pentingnya kolaborasi dan inovasi dalam dunia seni. “Pameran ‘The World of Pictolo’ ini adalah sebuah terobosan. Di sini, kita melihat bagaimana seni rupa dan sastra bukan lagi dua entitas yang berdiri sendiri, tetapi saling melengkapi dan memperkaya. Ini adalah bentuk literasi budaya baru yang perlu terus dikembangkan,” ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi nilai edukatif dari pameran tersebut sebagai media pembelajaran seni yang integratif.

Acara kemudian secara resmi dibuka oleh Pak Slamet Henkus. Dalam pidatonya, ia menekankan peran strategis ruang-ruang seni seperti Galeri Raos dalam memupuk kecerdasan budaya masyarakat. “Kita patut berbangga, Kota Batu tidak hanya memiliki hawa yang sejuk, tetapi juga udara intelektual dan seni yang segar. Pameran seperti ini adalah oksigen bagi jiwa masyarakat, yang mengajak kita untuk merenung, berimajinasi, dan menjadi manusia yang lebih utuh,” tuturnya.


Sebagai sang kreator, Watonisays memaparkan konsep di balik “The World of Pictolo”. “Pictolo adalah singkatan dari ‘picture’ dan ‘loquere’ yang dalam bahasa Latin berarti ‘berbicara’. Setiap karya di sini adalah upaya untuk membuat gambar yang bisa bercerita dan cerita yang divisualkan. Saya ingin mengajak setiap pengunjung untuk tidak hanya melihat, tetapi juga ‘mendengarkan’ apa yang dibisikkan oleh setiap garis, warna, dan bentuk. Ini adalah undangan untuk menjadi bagian dari penciptaan makna,” jelas Watoni. Pendekatan ini mendidik publik untuk menjadi penikmat seni yang aktif dan kritis.

Antusiasme tidak hanya datang dari kalangan seniman. S.Djoenet, seorang pengunjung dan juga sebagai pelaku seni sekaligus tokoh masyarakat, membagikan kesannya. “Saya melihat ada upaya yang sangat serius di sini untuk mengajak kita berpikir. Karya-karya ini seperti jendela-jendela kecil yang membuka pemandangan yang luas tentang kehidupan, manusia, dan alam. Sebagai anggota masyarakat, saya merasa teredukasi dan diingatkan bahwa seni adalah cermin peradaban kita,” ucapnya.

Nuansa hening dan religius benar-benar terasa sejak para tamu memasuki ruang pamer utama di Galeri Raos. Mereka disambut oleh lantunan syahdu kelompok paduan suara yang mengatasnamakan “Najma Swara” dari Malang. Harmoni vokal yang mereka suguhkan menciptakan atmosfer bagai di dalam sebuah ruang meditasi. Suasana “kesaduan yang religius” itu pun tercipta, menyelimuti seluruh galeri dan membawa setiap pengunjung pada keadaan hening yang khusyuk, memungkinkan mereka untuk berdialog lebih intim dengan setiap karya.

Kegiatan tersebut turut hadir Budayawan sekaligus Seniman, Ketua Satu Pena Jawa Timur beserta jajaran pengurus, Ketua Tosan Aji Songgobrojo, Seluruh Seniman, Kelompok Musik, Penulis, tokoh masyarakat.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Secara keseluruhan, “The World of Pictolo” bukan sekadar pameran tunggal, melainkan sebuah pernyataan. Watonisays, melalui karya-karyanya, telah membangun jembatan antara yang visual dan yang verbal, antara yang terlihat dan yang terasa. Pameran ini sukses menjadi medium edukasi budaya yang powerful, mengajak kita semua untuk melambat, merenung, dan menemukan makna-makna baru dalam kesenyapan yang berbicara lantang. Sebuah malam yang membuktikan bahwa di Kota Batu, seni tidak hanya hidup, tetapi juga bernafas dengan sangat dalam.
( Ria ).


Pameran Tunggal " The World of Pictolo" Galeri Raos Kota Batu
