Haul Bung Karno ke-56 di Wisma Bima Sakti Selecta, PDI Perjuangan Kota Batu Teguhkan Semangat Kebangsaan dan Perjuangan Kaum Marhaen
Batu, PENDIDIKANNASIONAL.ID – Semangat nasionalisme dan penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa mengemuka dalam peringatan Haul Bung Karno ke-56 yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kota Batu di Wisma Bima Sakti, kawasan wisata Selecta, Kota Batu, Sabtu (20/6/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri jajaran pengurus partai, tokoh agama, tokoh masyarakat, kader, simpatisan, generasi muda, serta DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, termasuk Hj. Dewanti Rumpoko.
Acara ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial mengenang wafatnya Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, melainkan juga ruang refleksi bersama mengenai relevansi pemikiran dan warisan ideologis Bung Karno dalam menghadapi tantangan kebangsaan masa kini.

Wisma Bima Sakti dan Jejak Kontemplasi Bung Karno
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Batu, Saifudin Zuhri, menegaskan bahwa pemilihan Wisma Bima Sakti memiliki makna historis yang kuat. Menurutnya, tempat tersebut diyakini pernah menjadi lokasi Bung Karno melakukan perenungan mendalam selama sekitar 15 hari pada tahun 1942, ketika situasi geopolitik dunia dan Indonesia mengalami perubahan besar akibat masuknya Jepang menggantikan kolonialisme Belanda.
“Di tempat inilah Bung Karno menggali berbagai inspirasi dan strategi perjuangan bangsa. Wisma Bima Sakti bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan ruang kontemplasi yang turut menjadi bagian dari perjalanan lahirnya kemerdekaan Indonesia,” ujar Saifudin.
Dalam paparannya, Saifudin mengajak peserta memahami perjalanan intelektual Bung Karno sejak masa pendidikan di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya ketika tinggal bersama tokoh pergerakan nasional H.O.S. Tjokroaminoto, hingga pendirian Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927 yang berlandaskan ideologi Marhaenisme.
Marhaenisme dan Keadilan Sosial
Saifudin menjelaskan bahwa Marhaenisme lahir dari kegelisahan Bung Karno terhadap kondisi rakyat kecil yang hidup dalam kemiskinan akibat sistem yang tidak adil. Kaum Marhaen digambarkan sebagai kelompok masyarakat yang memiliki alat produksi sederhana, tetapi tetap berada dalam keterbatasan ekonomi.

“Perjuangan Bung Karno sesungguhnya adalah perjuangan menghadirkan keadilan sosial, kesejahteraan, dan pengentasan kemiskinan bagi rakyat kecil. Kemerdekaan tidak boleh berhenti pada lepasnya bangsa dari penjajahan, tetapi harus menghadirkan kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia,” katanya.
Ia menilai nilai-nilai Marhaenisme tetap relevan di tengah tantangan ketimpangan ekonomi dan sosial dewasa ini, terutama dalam upaya memperjuangkan kelompok masyarakat yang lemah dan rentan atau yang dalam tradisi Islam dikenal sebagai kaum Mustadh’afin.
“Semangat membela kaum Marhaen dan kaum Mustadh’afin harus terus menjadi bagian dari perjuangan bangsa agar cita-cita keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dapat terwujud,” tambahnya.

Haul sebagai Tradisi Penghormatan dan Pendidikan Kebangsaan
Disela sela kegiatan di isi oleh Kiai Musrifin serta doa penutup, pada kesempatan yang menyampaikan penjelasan mengenai makna haul sebagai tradisi peringatan wafat tokoh yang hidup dalam khazanah Islam Nusantara. Tradisi tersebut dipandang sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu sekaligus sarana memperkuat ingatan kolektif masyarakat terhadap nilai-nilai keteladanan yang diwariskan.
Penjelasan tersebut menekankan bahwa praktik haul di Nusantara berkembang sebagai bagian dari tradisi sosial-keagamaan yang tidak bertentangan dengan prinsip syariat, selama substansinya diarahkan pada doa, penghormatan, dan penguatan nilai-nilai kebaikan.

Wisma Bima Sakti sebagai Ruang Inspirasi Kebangsaan
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Batu, Khamim Tohari, menegaskan bahwa Wisma Bima Sakti dipilih karena diyakini menjadi salah satu ruang bersejarah yang menyimpan jejak gagasan besar Bung Karno tentang masa depan Indonesia.
“Tempat ini memiliki nilai yang sangat sakral bagi kami. Di sinilah Bung Karno menggali inspirasi demi kepentingan bangsa dan negara. Karena itu, kami menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada beliau sekaligus upaya merawat memori kolektif bangsa,” ujarnya.

Khamim mengungkapkan apresiasi atas antusiasme berbagai elemen masyarakat yang hadir, mulai dari tokoh senior partai, kader muda, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga insan pers. Menurutnya, kehadiran lintas generasi tersebut menunjukkan bahwa semangat kebangsaan masih menjadi perekat persatuan.
Ia juga menyampaikan bahwa Haul Bung Karno di Wisma Bima Sakti direncanakan menjadi agenda rutin tahunan dengan pelibatan masyarakat yang lebih luas.
“Kami ingin tempat ini tidak hanya menjadi situs sejarah, tetapi juga ruang pembelajaran kebangsaan bagi generasi muda. Semangat, pemikiran, dan keteladanan Bung Karno harus terus diwariskan kepada anak-anak bangsa,” katanya.

Merawat Sejarah, Meneguhkan Masa Depan
Peringatan Haul Bung Karno ke-56 di Wisma Bima Sakti pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara mengenang tokoh proklamator. Kegiatan ini menegaskan pentingnya merawat warisan sejarah, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, dan menjaga komitmen terhadap cita-cita kemerdekaan yang berkeadilan.
Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk
Di tengah dinamika pembangunan nasional, pesan Bung Karno mengenai keberpihakan kepada rakyat kecil, kemandirian bangsa, dan persatuan dalam keberagaman tetap relevan sebagai fondasi menuju Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera.
Semangat itulah yang kembali digaungkan dari Wisma Bima Sakti Selecta sebuah ruang bersejarah yang diyakini menjadi saksi perjalanan intelektual Sang Proklamator dalam merumuskan masa depan bangsa Indonesia.
Penulis : Riadi.
Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id.




