Wali Kota Batu Apresiasi Mujahadah Wahidiyah ke-18 Pilar Menuju Generasi Emas

Sinergi Spiritual dan Budaya Mujahadah Rubu’ussanah Wahidiyah ke-18 di Kota Batu Teguhkan Komitmen Keselamatan Bangsa

Batu,PENDIDIKANNASIONAL.ID – Di tengah dinamisnya perkembangan zaman dan tantangan degradasi moral modern, penguatan fondasi spiritual dan karakter bangsa menjadi sebuah urgensi yang tidak dapat ditawar. Menjawab tantangan tersebut, Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Penyiar Sholawat Wahidiyah (PSW) Jombang Cabang Kota Batu menggelar Mujahadah Rubu’ussanah (MRS) ke-18.

​Kegiatan yang sarat akan nilai spiritual dan kebangsaan ini berlangsung khidmat di Pendopo Kantor Kecamatan Junrejo, Kota Batu, pada Sabtu (13/6/2026) malam. Mengusung misi besar “Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa dan Negara”, majelis ini berhasil mengintegrasikan elemen pemerintah (umara), tokoh agama (ulama), institusi keamanan, serta penggiat budaya dan pencak silat dalam satu visi transformatif.

Tampak Camat Junrejo, Kabag Kesra Kota Batu, Kemenag Batu, DPP PSW Jombang ketika di kegiatan Mujahadah
Tampak Camat Junrejo, Kabag Kesra Kota Batu, Kemenag Batu, DPP PSW Jombang ketika di kegiatan Mujahadah
Tampak TNI juga mengikuti serangkaian kegiatan Mujahadah.
Tampak TNI juga mengikuti serangkaian kegiatan Mujahadah.

Representasi Lintas Sektoral: Harmoni Pemimpin dan Rakyat

Acara ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan strategis, mencerminkan kuatnya kohesi sosial di Kota Batu. Tampak hadir dalam jajaran undangan:

​Kabag Kesra Kota Batu (mewakili Wali Kota Batu), Camat Junrejo beserta jajaran Forkopimcam (Polsek dan Danramil Junrejo), Perwakilan Kementerian Agama Kota Batu, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan DPW PSW Jombang, Ketua Umum Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN), Ketua IPSI sekaligus Ketua Dewan PSHT Cabang Batu,Segenap pengurus DPC PSW dari Malang Raya, serta ratusan pengamal Sholawat Wahidiyah.

​Baca Juga : https://pendidikannasional.id/umum/gelaran-mrs-ke-16-di-pendopo-bumiaji-psw-jombang-kota-batu-teguhkan-peran-dalam-dakwah-dan-sosial/

Jalannya acara turut didukung dan diliput oleh berbagai media massa, termasuk Media PSW Jombang, Media Edukasi RI, Agropolitan TV (ATV) Pemkot Batu, dan Media Pendidikan Nasional.

Manifestasi Syukur dan Jejak Historis Perjuangan

Ketua DPC PSW Jombang Cabang Batu, Eny Mustofsiro ketika memberikan sambutanya
Ketua DPC PSW Jombang Cabang Batu, Eny Musfirotun Mustofsiroh ketika memberikan sambutanya

​Dalam sambutan hangatnya, Ketua DPC PSW Jombang Cabang Kota Batu, Eny Musfirotun Mustofsiroh,S.ST.,MM., menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh panitia dan jajaran Kecamatan Junrejo yang telah memfasilitasi kegiatan di pendopo kecamatan.

​Romantisme Perjuangan di Desa Tlekung, Sebuah catatan historis yang menyentuh hati disampaikan dalam sambutan kelembagaan, mengulas memori tahun 1998 di Desa Tlekung. Dikisahkan bagaimana tokoh masyarakat terdahulu, seperti Alm. Bapak Kayat (ayahanda Ibu Camat Junrejo saat ini) dan Alm. Bapak Senamun (Ketua PSW Junrejo kala itu), berjuang menyiarkan Sholawat Wahidiyah di tengah keterbatasan sarana dan resistensi sosial.

Tampak jamaah tampak antusias mengikuti Mujahadah
Tampak jamaah tampak antusias mengikuti Mujahadah

“Melalui pendekatan mujahadah (kesungguhan batin) selama 40 hari, Sholawat Wahidiyah tidak hanya hadir sebagai amalan spiritual untuk kejernihan hati, tetapi juga terbukti secara empiris membawa jalan keluar bagi persoalan sosial kemasyarakatan warga saat itu. Hikmah dari jejak rekam ini adalah bahwa upaya lahiriah yang maksimal, jika diimbangi dengan kekuatan spiritual, akan membuahkan hasil yang berkah,” ungkap Ketua DPC PSW Kota Batu.

​Menjelang agenda akbar Mujahadah Kubro Wahidiyah pada 25–28 Juni 2026 di Jombang, pengurus mengimbau seluruh jemaah untuk terus menjaga konsistensi batin setelah menyelesaikan tirakat penyongsongan selama 40 hari yang lalu.

DPW Jawa Timur PSW Jombang yang di wakili oleh Ustadz Zaini (Kabid Diklat Kaderisasi dan Infokom).
DPW Jawa Timur PSW Jombang yang di wakili oleh Ustadz Zaini (Kabid Diklat Kaderisasi dan Infokom).

Apresiasi Pemerintah: Sholawat sebagai Pilar Revolusi Mental

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PSW Jawa Timur yang diwakili oleh Ustadz Zaini (Kabid Diklat Kaderisasi dan Infokom) menyatakan kebanggaannya atas sinergi yang harmonis antara pengurus Wahidiyah dan pemerintah daerah. Sinergi ini dinilai sebagai langkah konkret dalam memitigasi krisis moral.

Kabag Kesra Kota Batu Suyanto.S.Ag,M.ag. ketika menyampaikan sambutan Wali Kota Batu
Kabag Kesra Kota Batu Suyanto.S.Ag,M.ag. ketika menyampaikan sambutan Wali Kota Batu

​Hal senada disampaikan oleh Kabag Kesra Kota Batu, Suyanto.S.Ag,M.ag.,yang hadir membacakan sambutan resmi Wali Kota Batu, H. Nurochman. Wali Kota menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas konsistensi gerakan spiritual Sholawat Wahidiyah yang dirintis oleh Kiai Haji Abdul Majid Ma’ruf.

​”Visi besar ‘Batu SAE’ menuju Generasi Emas 2045 tidak akan bermakna tanpa modal spiritual yang kokoh. Mujahadah Rubu’ussanah ini bukan sekadar ritual, melainkan benteng spiritual masyarakat sekaligus pilar madani yang sejalan dengan ikhtiar pemerintah dalam membentuk masyarakat yang beradab dan berakhlak mulia,” tulis Wali Kota Batu dalam sambutannya.

Camat Junrejo, Suparman ketika seusai kegiatan Mujahadah
Camat Junrejo, Suparman ketika seusai kegiatan Mujahadah

Sementara itu, Camat Junrejo, Suparman, menegaskan bahwa kehadiran majelis ini di pendopo kecamatan adalah berkah besar. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mengimplementasikan prinsip Fafirruu ilallah, bersegera kembali dan berserah diri kepada Allah SWT.,guna membentuk akhlakul karimah yang transformatif.

​Integrasi Budaya, Olahraga, dan Nilai Luhur Nusantara

​Aura inklusivitas semakin kuat dengan pemaparan dari Drs. Suyono, Ketua IPSI sekaligus Ketua Dewan PSHT Cabang Batu. Dalam perspektif akademis-kulturalnya, ia menegaskan bahwa agama harus menjadi faktor pemersatu di tengah keberagaman ras, suku, dan golongan.

Ketua IPSI Kota Batu yang sekaligus Ketua Dewan PSHT Cabang Batu, Drs. Suyono ketika di lokasi Mujahadah.
Ketua IPSI Kota Batu yang sekaligus Ketua Dewan PSHT Cabang Batu, Drs. Suyono ketika di lokasi Mujahadah.

Konsep ‘Memayu Hayuning Bawono’

​Suyono menjelaskan bahwa PSHT memiliki doktrin luhur Memayu Hayuning Bawono (memperindah keindahan dunia), yang sangat selaras dengan gerakan bersalawat. Di era modern, ajaran ini diturunkan ke dalam tiga pilar produktivitas sumber daya manusia yaitu, 

​Cekel Gawe (Dedikasi & Status). Memiliki kemandirian profesi yang jelas.

​Finansial (Kecukupan Kebendaan). Menguasai aspek ekonomi untuk menjawab tantangan zaman.

​Kreativitas & Keahlian.Mengembangkan potensi diri agar tidak ada masyarakat yang menganggur.

Ketua Umum PPBN, Robiyan ketika di lokasi seusai Mujahadah.
Ketua Umum PPBN, Robiyan ketika di lokasi seusai Mujahadah.

Menutup sudut pandang kebudayaan, Robiyan, Ketua Umum Perkumpulan Pemerhati Budaya Nusantara (PPBN), mengingatkan pentingnya panitia memiliki spirit atau jiwa yang kuat. “Selawat adalah esensi dari kekuatan spiritual. Ketika nilai spiritual bersinergi dengan kebudayaan Nusantara, ia akan menjadi pendingin dan penyejuk bagi seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.

Kuliah Wahidiyah: Resolusi Spiritual Menuju Kesucian Jiwa

Kuliah Wahidiyah yang disampaikan oleh Romo KH. Akhsan Fahmi, Ketua DPP PSW Jombang.
Kuliah Wahidiyah yang disampaikan oleh Romo KH. Akhsan Fahmi, Ketua DPP PSW Jombang.

​Puncak dari seluruh rangkaian acara adalah Kuliah Wahidiyah yang disampaikan oleh Romo KH. Akhsan Fahmi, Ketua DPP PSW Jombang. Dalam tausiyahnya yang mendalam, beliau menguraikan tiga penderesan penting bagi kehidupan manusia modern:

​1. Hakikat Kebahagiaan dan Penyucian Jiwa (Litashfiyatil Qulub)

​Kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat hanya dapat direkaysa melalui kemampuan menundukkan hawa nafsu (ambrasta dur angkara). Sholawat Wahidiyah hadir sebagai metodologi batiniah untuk membersihkan noda-noda hati guna mencapai derajat makrifatullah.

​2. Mengurai Penghalang Spiritual (Hijab Dhulmah)

​Beliau memperingatkan jemaah terhadap bahaya qalbun mayyit (hati yang mati) yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu. 

​Syahwat Perut: Konsumsi makanan atau harta yang tidak halal dapat mengunci hati, merusak kekhusyukan ibadah, dan menahan terkabulnya doa.

Tampak jamaah memenuhi kegiatan Sholawat Wahidiyah.
Tampak jamaah memenuhi kegiatan Sholawat Wahidiyah.

Syahwat Takhta: Ambisi keduniawian dan kekuasaan yang menabrak syariat serta norma hukum.

​Penyakit Hati Digital: Munculnya kesombongan, iri dengki, serta penyalahgunaan teknologi (seperti grup media sosial) sebagai sarana gibah modern.

​3. Komitmen Tiga Pilar Ukhuwah

​Di akhir ceramahnya, Romo KH. Akhsan Fahmi menyerukan pentingnya menjaga stabilitas NKRI melalui penguatan tiga dimensi persaudaraan: Ukhuwah Basyariyah (kemanusiaan), Ukhuwah Watoniyah (kebangsaan), dan Ukhuwah Islamiyah (keagamaan).

​Lihat Juga : https://youtube.com/@pendidikannasionaltv?si=7MptnqLVlhZi45vk

Kesimpulan: Sebuah Seruan Moral

​Mujahadah Rubu’ussanah ke-18 di Kota Batu ini berhasil memformulasikan sebuah seruan moral-spiritual yang kuat. Kegiatan ini membuktikan bahwa pendekatan tasawuf (pembersihan jiwa) dan introspeksi total bukan sekadar kesalehan individu, melainkan instrumen sosiologis yang ampuh untuk memperkuat persatuan nasional, menundukkan egoisme kelompok, dan mengawal perjalanan bangsa menuju masa depan yang diberkahi (Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur).

 

Penulis : Riadi. 

Editor : Tim Redaksi Pendidikannasional.id

Array
Related posts
Tutup
Tutup